Batam 1: Antara Sekupang dan Barelang

Batam. Sudah bertahun-tahun saya penasaran dengan kota sekaligus pulau yang dijuluki Singapuranya Indonesia ini. Maka sesudah puas berlibur di Padang dan Kerinci, serta mendapat lampu hijau dari seorang teman di Batam untuk mampir, saya pun membeli tiket pesawat ke Batam. Maka di sinilah saya.

Di depan terminal keberangkatan domestik Bandara Minangkabau, Padang, saya buka kembali tiket pesawat yang terlipat di saku jaket. “Mandala Airlines. Destination: BTH. Time: 11:50.” Ah, masih satu jam lagi. Tak apalah.

Untuk membunuh waktu, saya membeli koran Singgalang. Membacanya. Lalu tanpa terasa, sudah pukul 11:29. Saya melipat koran itu. Kemudian check-in. Boarding.

Pesawat tinggal landas.

Pesawat mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim.

Semua relatif mulus. Alhamdulillah. Jadi juga saya menginjakkan kaki di Batam.

Ponsel saya hidupkan. Dan beberapa menit kemudian, benda itu berdering nyaring. Nomor asing. Begitu saya terima, suara di seberang ternyata sudah saya akrabi. Dia Firman.

“Aku masih klaim bagasi, Man,” saya mengabarkan.

“Ya sudah. Aku di depan ya,” komentar Firman.

Firman Primahardika adalah teman yang saya ceritakan barusan. Kami dulu satu SMA di Surabaya. Dia sebenarnya anak Jakarta. Sekarang sedang mengais rupiah di Batam. Sesuai SMS-nya kemarin, Firman siap menampung turis backpacker dari Surabaya ini selama beberapa hari. Semoga dia tidak menyesali keputusannya itu, hahaha…

Begitu keluar dari pintu kedatangan, saya langsung bisa mengenali bocah itu di antara jubelan para penjemput. Kami berjabat. Tertawa-tawa sedikit. Lalu masuk ke mobilnya.

KTM Resort

Firman memacu Peugeot-nya ke ujung paling utara Pulau Batam. Tepatnya Jalan Kolonel Soegiono, di dekat Pantai Tanjung Pinggir Sekupang. KTM Resort. Ada sebuah kafe outdoor di sana. Mirip dermaga. Tapi indah dan tenang. Tidak hiruk-pikuk.

Rehat sejenak memulihkan jetlag di KTM Resort

Rehat sejenak memulihkan jetlag di KTM Resort

Kami memilih salah satu meja di sana. Memesan makanan ringan dan minuman.

Hm, tempat yang cozy. Menyenangkan suasananya. Saya melihat beberapa pasangan asyik mojok sambil menyedot dari batok-batok kelapa. Sementara di sudut lain, serombongan turis berdialek entah Thailand atau Vietnam berfoto-foto dengan background Pulau Singapura.

Ya, tempat kami menyeruput lemon squash ini memang rasanya yang paling dekat untuk mengintip negara singa itu dari Batam. Dari sini, Pelabuhan Singapura bisa ditempuh hanya dalam 45 menit melalui kapal feri. Dengan mata telanjang saja, gedung-gedung nun di seberang tampak jelas berebutan menggapai langit. Penampakan negeri jiran ini saya yakin bisa lebih jernih seandainya kawasan sana tidak berkabut begini. Ah, barangkali sedang hujan di Singapura.

Untung, di sini, di ujung Sekupang ini, cerah. Atmosfernya sumringah. Perairannya pun bersih. Berkali-kali kapal Pertamina hilir mudik di selat depan kami. Ada pula perahu pompong yang bentuknya unik. Tradisional. Menurut Firman, Selat Batam ini juga kadang dilewati kapal pesiar, yatch, tongkang, dan kapal-kapal lainnya.

Lumayan lama kami berbincang dan bercanda di tempat ini. Mengenang masa sekolah dulu.

“Kita di sisi yang salah,” ujar Firman. Melihat saya mengernyitkan dahi, buru-buru dia menambahkan, “Harusnya kita di ujung barat pulau, bukannya di sini. Kita jadi tak bisa melihat sunset.“

Saya mengangguk-angguk.

“Lagian,” lanjut Firman, “mestinya aku bawa cewek, bukan kamu.”

Saya tergelak spontan. Sialan! Sekian tahun tidak bertemu, tak ada yang berubah dengan cara bercanda kami.

Senja semakin pekat meniupkan aroma tubuhnya. Pertanda mentari mulai bosan menyinari Batam. Sebelum suasana di sini menjadi romantis, yang artinya membuat saya merinding karena berduaan dengan sesama lelaki, saya mengajak Firman pindah lokasi.

“Kemana?” tanyanya.

“Kemana lagi kalau bukan ke ikon Batam.”

Jembatan Barelang

Inilah salah satu jembatan terpanjang dan termegah di Indonesia. Total panjang bersihnya 2.262 meter. Ia dinamakan Barelang karena menghubungkan Pulau Batam (Ba), Rempang (re), Galang (lang) dan pulau-pulau kecil lain di jalurnya. Atau lengkapnya: Batam, Tonton, Nipah, Setokok, Rempang, Galang dan Galang Baru. Setelah itu, Laut Jawa.

Firman sendiri belum pernah pergi ke sana. Katanya, “Nggak ada apa-apa di sana, Brahm.” Namun, toh dia penasaran juga. Jadi, kami pun tancap gas. Firman tidak begitu tahu jalan di sana. Jadi, kami sempat tersesat di sana-sini. Baru pada pukul 17.30-an, kami menemukan jembatan tersebut. Ya ampun, jembatan sebesar ini kok bisa tidak terlihat ya?

Jembatan Barelang ketika Magrib

Jembatan Barelang ketika Magrib

Kalau saya memeriksa peta, jarak dari Pulau Batam ke ujung Pulau Galang Baru lebih dari 60 km. Roda mobil terus menggelinding cepat. Melintasi Jembatan Barelang. Kami pun mencapai Pulau Tonton.

Namun, tidak ada apa-apa di sini. Sepanjang mata memandang, hanya ada tanah merah seperti kebanyakan jenis tanah yang menghampar di Batam. Rumah liar berdiri ala kadarnya. Tetangga terdekatnya terpisah ratusan meter. Beberapa kali saya juga menjumpai barisan pangkal pohon sisa-sisa penebangan. Ada juga tanah yang terkikis bekas penambangan bijih bauksit.

“Lanjut? Berhenti?” Firman bertanya. Mungkin karena melihat saya sedang sibuk menyiapkan kamera.

“Lanjut aja,” jawab saya.

Mobil pun kembali melaju dalam kecepatan sedang. Saya mengamati tanah ini dari jendela mobil Firman yang sengaja dibuka penuh. Pulau-pulau ini, seperti Batam, akan dibangun dengan pendekatan industri. Meniru Singapura. Entahlah, ini kabar baik atau buruk. Apakah memang tidak ada lagi yang bisa dijual sebagai ikon pariwisata?

Padahal Pulau Galang mempunyai cerita menarik sendiri, sebenarnya. Pulau ini merupakan tempat penampungan para pengungsi Vietnam yang disebut manusia perahu. Mereka hengkang dari negaranya lantaran perang saudara pada 1975. Lalu, mereka yang kalah perang nekat mengungsi melalui perahu seadanya mengarungi samudra.

Sebagian dari para manusia perahu ini tiba di Kepulauan Riau pada tahun 1979. Namun kemudian dipulangkan pada 1996. Selama 18 tahun, mereka tinggal di Pulau Galang, tapi diisolasi dari warga Indonesia. Selain karena Pemerintah RI takut mereka membawa penyakit tertentu, juga untuk memudahkan administrasi.

Masih ada sisa-sisa peradaban mereka di Pulau Galang. Memasuki pintu gerbang, Anda akan disambut sebuah Wihara besar. Kemudian, Anda akan melihat bekas ruang tahanan, rumah sakit, gereja, dan rumah-rumah pengungsi.

Saya baca di internet, kisah yang terjadi di sini sungguh memilukan. Misalnya tentang pengungsi wanita yang bunuh diri karena diperkosa, ada lagi yang bunuh diri karena menolak dipulangkan, juga perahu-perahu yang dibakar dan ditenggelamkan sendiri karena si pemilik menolak untuk dipulangkan ke Vietnam. Sayang, kami tidak sempat melihat perahu-perahu yang digunakan oleh para manusia perahu tersebut. Sebab, hari sudah semakin menghitam.

Sebagaimana di Padang, di Batam matahari baru amit mundur pukul 18 lebih. Azan Maghrib berkumandang kurang lebih jam 18.30. Jadi, sebentar saja malam menjadi larut, untuk ukuran orang yang tinggal di Pulau Jawa (apalagi yang rada ke timur seperti Surabaya).

Kesalahan saya, kenapa tidak menjelajah Barelang pagi-pagi? Sehingga bisa puas berkelana dari satu pulau ke pulau lainnya melalui jalur darat. Tapi bagaimana lagi, pesawat mendarat di Batam sudah siang menjelang sore. Sementara besok Senin, dari pagi sampai sore, Firman harus kerja dan tidak bisa menemani. Saya hanya sempat memandang kecantikan Barelang, tapi tidak bisa menjamahnya lebih jauh. Yah, anggap saja kami tidak berjodoh.

“Sekarang, mari kita berwisata kuliner di Batam,” celetuk Firman.

“Ide bagus! Dari tadi kek!” sambut perut saya. Tapi tentu saja, mulut saya tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum anggun.

Photos by Brahm

One thought on “Batam 1: Antara Sekupang dan Barelang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge