Bekerja Sambil Berwiraswasta, Mengapa Tidak?

Kerja ikut orang atau berwiraswasta? Kalau ragu, jalankan saja keduanya.

Kerja ikut orang atau berwiraswasta? Kalau ragu, jalankan saja keduanya.

Banyak orang bertanya, “Saya sekarang seorang karyawan, tapi saya ingin menjadi berwiraswasta. Kira-kira mana yang harus saya pilih?” Ada pula yang bertanya,”Pak, keluarga saya ingin agar saya jadi orang kantoran, saya setuju walau sebenarnya saya sangat ingin membuka usaha sendiri. Bagaimana ya solusinya?”

Mari kita menjawab pertanyaan ini tidak dengan teori.

Perkenalkan, Vivit Arivianti Arifin. Mantan Juara Wajah Femina 1998 ini sekarang berprofesi sebagai Direktur Hotel Cendana Surabaya. Di samping bekerja di hotel berbintang tiga itu, dia juga membuka bisnis syuting video untuk kelahiran anak. Namanya “Baby Born Face Video Clip and Photo”.

Ide usaha ini tercetus saat Vivit melahirkan anak keduanya dan mengabadikannya dalam bentuk video. Wanita karier itu lalu berpikir, kenapa tidak dibuat bisnis saja jasa ini? Toh belum ada pesaing dalam ceruk ini. Vivit pun mematok harga 3-5 juta untuk video berdurasi 40 menit, dan 1,5 sampai 2,5 juta untuk foto (sekitar 22-24 foto dengan ukuran 4R dan 10R). Lumayan buat menambah saldo di bank, bukan?

Lain lagi cerita dari Imansyah Sutrisno, seorang karyawan perusahaan multinasional di Jakarta yang bergerak di bidang pelayaran. Di samping menjadi karyawan, Imansyah juga membuka usaha di kota kelahirannya, Jogjakarta. Jangan dikira usaha ini hanya kecil-kecilan! Dia sampai harus bolak-balik Jakarta-Jogja setiap pekan.

Sedikitnya, Imansyah telah mempunyai usaha Photo Studio Malibu 62, Chomel Wriping, Souvenirs and Gift, SS Wulandari Salon and Spa, apotek dan Chomel Laundry. Tapi tentu untuk menjalankan semuanya dia dibantu oleh sang Istri yang berada di Jogja, beberapa karyawan dan tenaga profesional.

Tengok pula apa yang dilakukan Miko, seorang karyawan Bank Mandiri. Di sela kesibukan ngantor-nya, dia memberanikan diri membuka kedai Nasi Gandul Ledhong, sebuah makanan khas Jawa Tengah. Usahanya itu ternyata mendapatkan sambutan luar biasa dari penikmat kuliner di Surabaya.

Satu contoh lagi datang dari sosok Nadhir Salahuddin, dosen sekaligus Kepala Jurusan Pengembangan Masyarakat IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di tengah aktivitas profesionalnya, dia pelan-pelan menjalankan Nurseri Kamaliya, sebuah perusahaan ekspor-impor tanaman hias yang dikelolanya bersama istri tercinta. Omzet bulanan bisnis itu mencapai ratusan juta rupiah.

Jangan banyak berpikir, coba saja dulu…

Jika ditilik dari pemikiran Robert T. Kiyosaki, terdapat empat sisi pendapatan. Pertama, di sisi kiri atas, ada Employee yaitu para karyawan dan pegawai biasa. Kedua, di kuadran sisi kiri bawah, ada Self Employee yaitu mereka yang menjual keahliannya, seperti dokter atau ghostwriter (penulis bayangan). Kedua kuadran inilah yang banyak kita jumpai pada masyarakat.

Ketiga, di sisi kanan atas, ada Business Owner, berupa para pemilik usaha. Dan keempat, di kanan bawah, ada Investor yang menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha yang dioperasikan orang lain.

Menurut Kiyosaki, kita semua berkesempatan untuk memperoleh pendapatan dari keempat-empatnya tanpa harus mengorbankan salah satunya. Jadi, sebenarnya kita tidak perlu mempertentangkannya secara saklek. Seseorang bisa saja menjalankan keduanya tanpa harus mengorbankan salah satunya. Menjadi karyawan dan menjadi seorang entrepreneur bukanlah seperti cahaya dan kegelapan yang selalu bermusuhan.

Lalu jika demikian, apa lagi yang menjadi kekhawatiran kita? Yang penting bagaimana kita pintar-pintar mengatur waktu. Buat jadwal kegiatan secara sistematis yang harus kita laksanakan. Selebihnya, jangan banyak berpikir. Coba saja dulu. Toh, kalau gagal, Anda masih punya gaji kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge