Bersih-bersih Dadakan karena Anak Sesak Napas

Membersihkan salah satu rak buku: beginilah risiko buku konvensional (ribet perawatannya)
Membersihkan salah satu rak buku: beginilah risiko buku konvensional (ribet perawatannya)

Kiara punya kebiasaan buruk sebelum tidur. Dia suka bolak-balik berdeham. Tidak setiap hari, tetapi cukup sering. Kebiasaan ini sudah berjalan setahun lebih. Saya dan istri biasanya menyuruhnya minum, dengan anggapan deham itu akibat tenggorokannya yang kering. Namun kemarin, saya penasaran juga.

Ketika Kiara berdeham-deham lagi, saya ajak tidur di sebelah saya. “Ara mau tidur sama Yayah?” tanya saya. Dia mengiyakan. Maka saya menepuk-nepuk bantal, “Sini, dong.”

Anak itu pun mendekat dan berbaring. Sehingga, telinga saya bersentuhan langsung dengan bantal tempat badan Kiara terbaring. Ini jadi seperti telepon kaleng, bebunyian di tubuhnya bisa saya dengar dengan jelas, meskipun kami saling membelakangi.

Saya pun mulai bisa mendiagnosis. “Jadi sebelum dia berdeham setengah batuk itu, selalu ada tarikan napas yang seperti seruling. Dia asma, Bunda,” lapor saya ke ibunya.

“Masa asma? Tahu dari mana?”

“Ya tahulah!” sergah saya. “Aku, kan, juga penderita. Wah, gawat kalau dia sampai mewarisi penyakitku yang nggak keren ini.”

Istri saya manggut-manggut. “Terus, gimana?”

Nah, itu. Saya juga tidak tahu. Namun seingat saya, dulu orang tua saya begini:

  1. Memanggil pemijat refleksi (yang saya benci karena setiap sentuhannya adalah siksaan) secara berkala.
  2. Mengajak saya jalan cepat keliling kompleks. Saya ingat, hampir setiap selesai jalan-jalan, saya sesak napas. Ya, separah itu kondisi saya.
  3. Mengganti kasur kapuk saya dengan kasur busa.
  4. Menjauhkan saya dari debu atau apapun yang memicu asma.

Untuk yang nomor satu, kami sepakat belum waktunya. Lagi pula, sesak napas Kiara tidak sekronis saya ketika seusianya. Yang nomor dua dan tiga sudah kami lakukan jauh hari. Yang nomor 4?

Mata saya memindai sekitar. Memang, udara di sini agak pengap. Pencemaran atau polusi udara ini pasti terjadi secara perlahan, dan kami tidak menyadarinya. Rak-rak yang berdebu, tembok lembap yang mengelupas dan menimbulkan bau kimia cat, belum lagi bed cover Kiara yang kumal karena terlalu tebal untuk dicuci secara rutin.

“Kapan terakhir kita bersih-bersih rumah?”

“Setiap hari,” jawab istri saya.

“Maksudku, yang serius. Bukan sekadar sapu-sapu atau lap-lap.”

Istri saya mengedikkan bahunya.

Ya sudahlah! Malam itu juga, kami memutuskan untuk kerja bakti keesokan harinya. Rencana pergi tamasya ke luar kota pun dibatalkan. Toh, apa gunanya berekreasi kalau salah satu anggota keluarga kurang sehat?

Karena Kamar yang Berdebu Juga Polusi Udara

Kita harus tega membuang barang-barang yang memang tidak diperlukan
Kita harus tega membuang barang-barang yang memang tidak diperlukan

Saya bertanya-tanya, apakah kondisi seperti di kamar tidur kami ini termasuk polusi udara? Apakah bahayanya setara dengan asap kendaraan bermotor, cerobong pabrik, atau rokok? Sebagai penderita asma, saya cenderung mengatakan “ya”.

Percuma saja saya seorang penulis lepas yang dapat menghindari asap rokok rekan kerja atau asap knalpot di jalanan, kalau ternyata di kamar saya terpapar polusi udara juga. Ironis.

Dalam pertemuan global World Health Organization (WHO) pertama tentang pencemaran udara dan kesehatan pada 30 Oktober-1 November silam, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Polusi udara adalah tembakau baru. Tak seorang pun, kaya maupun miskin, yang dapat terhindar dari polusi udara.”

Dalam dua tahun terakhir, menurut Direktur Jenderal WHO itu, tingkat polusi udara meningkat hampir dua kali lipat. Sebanyak 97% kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara buruk yang tidak memenuhi standar WHO. Namun, kabar baiknya, di negara-negara berpenghasilan tinggi, persentase itu turun menjadi 49%.

“Saat kualitas udara menurun, risiko stroke, jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik, termasuk asma, akan meningkat,” imbuhnya. Kan ngeri!

Angka kematian yang ditimbulkan oleh pencemaran udara lebih parah dibanding angka kematian akibat alkohol atau bahkan HIV/AIDS, lo! Berdasarkan penelitian WHO, polusi udara di atas ambang aman menyebabkan orang meninggal 1,8 tahun lebih cepat. Sebanyak 4,2 juta kematian terjadi setiap tahun akibat paparan polusi udara. Sementara 3,8 juta kematian terjadi karena paparan asap dari tungku dan bahan bakar memasak yang tidak sehat.

Ya, jadi faktor pencemaran udara bukan hanya dari asap pabrik atau knalpot. Di rumah kita pun banyak, seperti asap rokok (jika ada yang merokok), asap dapur, dan… debu.

Kerja Bakti Akhir Tahun

Membersihkan debu hingga ke akar-akarnya
Membersihkan debu hingga ke akar-akarnya

Saya ingat pernah mencanangkan sebuah program hebat untuk mengurangi pencemaran udara dalam skala kecil. Bahwa kami harus bersih-bersih rumah secara rutin.

  • Setiap hari, menyapu, mengemoceng, mengelap.
  • Setiap minggu, mengepel, menyingkirkan sarang laba-laba, menggosok rak, jendela, mencuci sprei.
  • Setiap bulan, mencuci bed cover, keset, gorden, sajadah, vas bunga.
  • Setiap tahun, menginventaris barang-barang yang masih bisa disimpan atau harus dibuang saja, merombak tata ruang agar terlihat baru dan segar.

Begitulah. Namun, rencana tinggal rencana. Yang berjalan cuma rencana harian dan (kadang-kadang) mingguan. Sementara rencana bulanan dan tahunan dilakukan kalau kepepet saja. Seperti kemarin lusa, setelah Kiara sesak napas.

Syahdan, Kamis pagi, ketika keluarga-keluarga lain sedang berlibur akhir tahun, atau minimal ongkang-ongkang kaki staycation, kami malah staywork alias tetap di rumah sambil kerja bakti.

Itu pun yang kerja cuma saya dan istri. Membalik ranjang, menggeser rak-rak yang berat, mencuci bunga, gorden, bed cover yang tebal (sampai embernya tidak cukup), menjemurnya, membersihkan buku-buku koleksi, menata ulang barang-barang dan perabotan, menghilangkan sarang laba-laba, memilah-milih barang yang perlu dibuang atau dipertahankan, dan sebagainya.

Kami merapel tugas tahunan, bulanan, dan mingguan. Hasilnya, kami sukses membuang setidaknya lima kilogram debu, pecahan cat dinding, sarang laba-laba, bangkai kecoak dan cicak, “mainan” anak-anak yang terselip di sana-sini, kertas-kertas dokumen yang tidak berguna lagi.

Akira dan Kiara, cuma pencitraan
Akira dan Kiara, cuma pencitraan

Selama kami bekerja, Kiara dan Akira cuma bergaya-gaya saja. Lalu, kami usir karena takut debunya membuat mereka sesak napas nanti malam. Satu kamar itu kami garap berdua saja, dan selesai dalam tempo lebih dari tiga jam.

2 pekerja, 3 jam kerja nonstop, 5 kg sampah/residu, 2 ember air, 5 spesies hewan terusir

– Data & Angka

Seandainya mau disiplin mengerjakan tugas-tugas sesuai porsinya, kegiatan seperti ini seharusnya bisa selesai tidak sampai 15 menit setiap hari. Tidak akan terlalu menyita waktu dan tenaga. Hasilnya pun barangkali lebih sempurna. Tetapi, ya… begitulah kami.

Bagaimanapun, jerih payah kami terbayar lunas. Anak-anak antusias dengan tata letak kamar yang baru. Dan yang lebih penting, malamnya, napas Kiara tidak lagi berseruling. Setidaknya, berkurang drastis dehamnya.

Giliran saya yang sesak dan sulit tidur malam itu akibat alergi debu. Tak apalah. Demi anak.

– Foto-foto oleh Brahmanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge