Bertemu Almarhum Mertua Laki-laki dalam Mimpi

Bertemu Almarhum Mertua Laki-laki dalam MimpiSiang tadi, seperti biasa, saya menyempatkan tidur sekira setengah jam. Qailulah atau tidur siang adalah sunnah Rasul. Manfaat riilnya untuk kesegaran dan meningkatkan konsentrasi kerja hingga malam. Berbagai penelitian menyimpulkan, tidur siang itu menyehatkan. Tapi, bukan ini yang hendak saya bahas. Saya hanya ingin menceritakan mimpi unik saya empat jam yang lalu. Mimpi tentang almarhum papa mertua yang tak pernah saya temui.

Mimpi tersebut berlatar sebuah rumah yang mirip pondok mertua indah di Bandung. Tapi, ruangannya agak berbeda. Lampunya kuning dan seperti masih dalam proses pembangunan. Apakah ini artinya mimpi saya melintasi ruang dan waktu, hingga tiba di masa rumah tersebut masih dibangun? Barangkali. Eh, tapi dalam mimpi itu kami sudah menikah, kok.

Saya dan istri baru pulang dari memanen kacang di kebun. Hm, perasaan, saya tidak pernah ke kebun, apalagi kebun kacang yang setahu saya tidak ada di kampung halaman sana. Ah, lupakan dulu keanehan ini. Yang jelas, saya membawa satu kresek putih kacang tanah hasil panenan, begitu juga istri saya. Kiara entah di mana, dia tidak ada dalam mimpi itu.

Masuk ke rumah, kami disambut seorang pria yang tinggi, berkulit sawo matang, agak kurus, mengenakan singlet dan sarung. Meskipun tidak pernah bertemu, saya tahu dari foto-fotonya, itulah almarhum papa mertua saya. Dalam mimpi, istri saya langsung menyalami dan mencium tangannya. Saya juga.

“Dari mana, Brahm?” tanya beliau sambil menjabat tangan saya. Bukan jabat tangan formal, melainkan seperti orang mau panco. Saya kira, beliau ingin tampak kekinian dengan jabat tangan seperti itu. Yah, seperti gaya “What’s up, Bro?” begitulah. Hanya, genggaman tangannya terasa lemah. Jabat tangan kami jadi seperti meleset dan kurang mantap.

Setelah itu, istri saya masuk ke sebuah kamar. Papa mengikutinya. Saya memilih tetap di tempat dan melihat-lihat dekorasi halaman belakang di dekat kamar itu.

Lalu, ada seorang perempuan berusia 40 tahunan, berjilbab, kulit gelap, mengajak saya bicara bahasa Sunda. Saya tidak kenal ibu ini. Setiap kali, saya mudik, saya belum pernah ketemu beliau. Dan sepertinya beliau juga tidak mengenal saya, karena beliau tidak tahu saya kurang paham bahasa Sunda. Kalau tahu, kenapa saya terus diajak nyarios Sunda?

Sudah, begitu saja. Saya pun terbangun.

Karena kebetulan ada istri saya, saya langsung menceritakan mimpi ini kepadanya. Ada beberapa yang dikonfirmasinya. Pertama, bahwa papa mertua memang kurus dan berkulit sawo matang yang cenderung gelap. Lalu, soal jabat tangan what’s-up-bro yang lemah itu, kata istri saya wajar, karena beliau pernah terserang stroke, sehingga tenaganya jauh melemah.

Berarti, klop! Sosok itu memang mertua laki-laki saya. Tapi, kenapa tidak ada mama mertua saya yang mendampinginya? Yang terlihat malah perempuan berjilbab yang tidak pernah saya tahu siapa. Bahkan setelah saya sebut ciri-cirinya, istri saya yang orang sana pun tidak mengenalnya.

Okelah, ini cuma mimpi. Bunga tidur. Tak perlu dipikirkan serius.

Namun, asal tahu saja, saya sudah dua kali memimpikan papa mertua saya, meskipun kami tidak pernah bertemu sama sekali. Bagaimana bisa bertemu, beliau meninggal bahkan sebelum saya mengenal putrinya.

Mimpi pertama tentang beliau adalah ketika saya tidur sendirian di kamar (calon) istri pada 10 April 2011. Tepatnya sore hari, setelah acara pertunangan kami. Karena kecapekan, jam 4 pun saya ketiduran. Lalu bermimpi, ada sosok pria yang saya duga almarhum papa mertua berdiri di pinggir dipan (sisi kaki saya). Sambil tersenyum, beliau mengulurkan tangan ke arah saya.

Saya sudah hendak menyambut uluran tangan itu, tapi keburu terbangun.

Kamar itu sudah agak gelap. Maklum, menjelang magrib. Lampu belum dinyalakan. Sepertinya, semua orang di rumah sungkan mau masuk kamar untuk sekadar menyalakan lampu, termasuk (calon) istri saya. Karena status saya masih tamu keluarga, belum keluarga.

Itulah satu di antara sedikit mimpi saya yang selokasi. Dalam arti, lokasi mimpi dan lokasi tidur sama, yaitu di kamar itu juga! Anehnya, batin saya merasa tentram saat bangun, alih-alih merinding mistik. Saya melihat ini sebagai sinyal positif saja, bahwa beliau menyambut kehadiran saya dan berkenan menitipkan putrinya kepada saya.

Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. Yarhamullaahul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriin. Wa inna insya Allaahu bikum la-laahiquun wa as alullaaha lanaa walakumul ‘aafiyah.

Saya tidak merasa perlu mencari penafsiran-penafsiran lain terhadap kedua mimpi itu, karena saya takut terjerumus ke lembah syirik dan klenik.

Terus, kenapa posting-posting segala?

Lah, ini kan blog pribadi saya. Suka-suka saya, dong! Hehehe….

Bukan apa-apa. Saya cuma ingin mencatat peristiwa ini. Sehingga, suatu saat saya mengalami kejadian yang mirip atau relevan, saya bisa merangkai benang merah. Saya bisa melihat pola-pola tertentu yang tentunya menarik untuk diceritakan ke anak cucu kelak.

2 thoughts on “Bertemu Almarhum Mertua Laki-laki dalam Mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge