Dari Tukang Gado-gado Menjadi Chef di Belgia

Akhirnya ketemuan setelah 14 tahun lebih. The Library Café, Gramedia Expo, Surabaya. 11 September 2010.

Akhirnya ketemuan setelah 14 tahun lebih. The Library Café, Gramedia Expo, Surabaya. 11 September 2010.

Suatu hari, saya menerima permintaan pertemanan di Facebook. Foto profilnya pria berkacamata hitam, bersinglet kuning dan celana renang, bersimpuh di atas batu karang. Latar belakangnya pantai nan indah. Entah siapa dia. Namanya aneh pula. Jadi, saya tidak menghiraukannya. Sampai dia mengaku di Facebook Message, “Aku Aris, Bro!”

“Aris siapa?”

“Aris tompel!”

Hah? Aris SMP? Teman sebangku di kelas II? Tapi, dia dulu memiliki tompel di pipi sebesar koin 1 euro. “Mana tompelmu?”

“Sudah dioperasi,” jawabnya tidak meyakinkan.

Dia bercerita bahwa sekarang kerjaannya sebagai chef di sebuah resto di Belgia. Hidupnya memang makmur. Masa senggangnya dihabiskan dengan jalan-jalan, naik kapal pesiar, menonton Cirque du Soleil, konser Celine Dion, dsb. Tiap tahun pulang ke Indonesia dan mentraktir keluarganya berlibur.

Memori saya langsung terlempar ke masa SMP dulu. Setiap main ke rumahnya, Aris sering menyuguhi saya gado-gado dari warung mungil milik ibunya.

Saya ingat betul, pada saat-saat itu, kami juga suka menelepon ke luar negeri dengan pulsa yang dibebankan penerima, cuma untuk bercakap-cakap “salah sambung” dengan bule. Buat melatih bahasa Inggris, pikir kami.

Kami dulu juga sering berkhayal tentang ikut program homestay di luar negeri. Padahal, bahasa Inggris Aris kurang. Dan dia bukan dari keluarga yang berkecukupan.

Tapi sekarang, justru Aris itu benar-benar sukses di mancanegara. Bekerja sebagai chef, yang artinya ketrampilan memasaknya sudah jauh di atas kelas gado-gado.

Siapa sangka, saat saya melupakan impian tentang homestay, Aris masih menjaga apinya tentang hidup indah di luar negeri. Meskipun dia kemudian masuk SMK swasta yang kurang bonafid, sementara saya berhasil masuk SMU Negeri favorit di Surabaya. Saya kuliah di universitas negeri favorit, dan dia hanya D2 di lembaga pendidikan swasta.

Namun tukang gado-gado itu dengan telak mengalahkan saya. Hebat kau, Ris! Sejak itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk selalu bersyukur dan tidak pernah mematikan api di dada saya.

5 thoughts on “Dari Tukang Gado-gado Menjadi Chef di Belgia

    1. Brahmanto Anindito Post author

      Oh, nggak. Di Indonesia saja hidupnya. Aku cinta Indonesia, Pak! Hehehe… Tapi sesekali pelesirannya atau urusan bisnisnya dengan orang luar. Sekadar biar agak berwarna, gitu aja.

      Wah, kalau isi FB = blog, biasanya blognya jadi nggak payu, Pak. Hehehe…

      Reply
  1. re

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di Indonesia Gunadarma

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge