Jejak-jejak Ritual Darah di Pura Kebo Edan, Bali

Untuk kepentingan riset cerita Revival of Queen Leyak, saya terbang ke Bali. Tujuan utamanya adalah ke Gianyar. Kabarnya, daerah ini termasuk salah satu pusat kerajaan kuno di Bali. Jadi siapa tahu, ide-ide segar bermunculan setelah melihat langsung peninggalan-peninggalan kunonya.

Pura Kebo Edan, tempat kuno yang sederhana, tetapi menyimpan banyak ilmu

Satu yang menarik bagi saya adalah Pura Kebo Edan. Tempat ini kaya akan benda-benda arkeologis berharga yang merupakan mata rantai sejarah perkembangan Kerajaan Hindu di Indonesia.

Saking penasarannya dengan Pura Kebo Edan, pada hari pertama saya menginjak kaki di pulau dewata ini, langsung saya arahkan mobil yang saya sewa ke sana, ke daerah Tampaksiring.

Lokasi Pura Kebo Edan

Pura Kebo Edan terletak di ujung selatan desa, dekat perbatasan Desa Bedulu. Jaraknya kurang-lebih 7 kilometer dari Kota Gianyar dan sekitar 27 km dari Kota Denpasar. Tidak sulit menemukan cagar budaya nasional ini, karena lokasinya hanya beberapa meter dari tepi jalan rayanya.

Pintu masuk dan keluar Pura Kebo Edan

Turun dari mobil, saya beranjak ke pos penjaga. Tidak ada orang. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada satu bule yang memfoto-foto dengan kamera SLR. Itu pun tak lama kemudian, dia sudah berjalan keluar. Saya pun menjadi satu-satunya wisatawan di sana.

Hm, rupanya, Pura Kebo Edan bukan tempat wisata yang nge-hits. Biasanya, orang bertamasya ke Bali untuk mencari pantai yang indah, vila yang mewah, atau pertunjukan budaya yang menghibur. Saya malah menjujuk lokasi-lokasi yang tidak populer semacam ini. Hahaha, salah sendiri!

“Mau ke pura, Bli?” sapa seorang ibu paruh baya. Tampaknya, dialah penjaganya. Saya mengangguk dan dia pun membukakan buku tamunya untuk saya.

Setelah menorehkan nama dan menyumbang uang seikhlasnya, saya diberi semacam selendang. Saya harus mengenakannya sebagai ikat pinggang untuk menghormati tempat peribatan ini.

Saya mendapat selendang karena pakaian saya sudah tertutup. Seandainya saya hanya mengenakan celana pendek seperti turis tadi, penjaga akan memberi jarit atau sarung. Mungkin kalau dari sudut pandang Islam, ini masalah aurat yang harus ditutup.

Isi Pura Kebo Edan

Pura Kebo Edan sudah menjadi cagar budaya nasional

Sebagaimana pura di Bali umumnya, Kebo Edan juga memiliki tiga bagian (tri mandala), yaitu:

  1. Nista Mandala / Jaba Pisan. Bagian terluar dari arsitektur pura ini dinilai kotor (nista) dan profan. Setiap orang dapat memasukinya. Kawasan ini biasanya untuk aktivitas warga, seperti jual-beli. Namun seiring zaman, semakin jarang orang berjualan di sini. Mungkin lapak-lapak mereka sudah pindah ke Elevenia, Tokopedia, atau Lazada 🙂
  2. Madya Mandala / Jaba Tengah. Di bagian yang sakral ini, umat Hindu diharapkan sudah mulai khusyuk menghadap Sang Hyang Widhi Wasa. Tetapi masih ada ruang kebebasan. Pada era 1970-1980-an, sering ada pementasan barong dan tari keris untuk wisatawan di sini. Namun, karena pengunjungnya semakin jarang, akhirnya acara itu dihentikan.
  3. Utama Mandala / Jeroan. Inilah bagian terdalam dan tersuci dari Pura Kebo Edan. Umat harus benar-benar fokus untuk menghadap Sang Hyang Widhi dengan meninggalkan nafsu keduniawiannya. Di zona Utama Mandala bagian selatan, saya melihat jajaran arca purbakala yang diletakkan di sejumlah pelinggih. Nah, ini!

Yang paling dekat dengan pintu masuk, di ujung barat, persis di depan pohon kamboja tua, terdapat pelinggih Bhatara Kebo Edan atau Ratu Kebo. Arcanya berupa seekor kerbau, lengkap dengan keroncongan (genta) yang menggantung di lehernya.

Pelinggih Bathara Ratu Kebo

Di sampingnya, masih di pelinggih yang sama, duduk arca raksasa menopang semangkuk darah dengan berbagai aksesori berupa tengkorak.

Apakah ini perwujudan Siwa sang mahadewa dan Nandi (tunggangannya yang berupa sapi)? Atau perwujudan Durga (istri Siwa) dan Mahishasura (asura berbentuk kerbau yang dibunuhnya)? Entahlah. Pura Kebo Edan begitu sepi, saat itu. Saya tidak tahu kepada siapa harus mengonfirmasi tebakan tersebut.

Yang jelas, di sebelah kanannya terdapat pelinggih yang sejak awal saya incar untuk riset cerita proyek novelisasi….

Arca Bhatara Siwa Bhairawa

Ada juga yang menyebutnya Arca Ratu Sakti, Ratu Balian, atau Bhairawa Bima Sakti. Apapun sebutannya, arca setinggi 3,6 meter inilah daya tarik utama Pura Kebo Edan.

Arca Siwa Bhairawa atau Bhairawa Bima

Sayang, meski telah diperbaiki oleh Kantor Suaka Purbakala Bali pada 1952, detail patung ini masih tidak begitu jelas. Atau, mungkin karena saya orang awam, sehingga kurang jeli dalam mengamati ukiran atau lekuknya.

Sejauh yang bisa saya desripsikan sebagai orang awam, patung ini sedang berkacak pinggang, rambutnya ikal/gimbal tergerai, wajahnya kurang jelas karena (katanya) dia memakai topeng dengan pita pengikat di belakang kepala. Beberapa ular membelit kaki dan tangannya. Ya, ular adalah salah satu ciri bhairava (dewa yang sedang menunjukkan kehebatan, kekuatan, dan sisi seramnya).

Saat saya datang, ada kain poleng (kotak-kotak hitam-putih) yang menutupi pinggangnya. Namun di balik poleng itu, arca ini memiliki kemaluan laki-laki dan sebuah lubang kecil di sebelahnya.

Cukup aneh? Cukup bikin merinding? Tunggu dulu, bukan itu bagian terseramnya.

Kalau menurut saya, arca kekar ini tampak menakutkan bukan karena besarnya, ularnya, atau kemaluan itu, melainkan karena posisinya yang seolah sedang duduk di atas mayat-mayat manusia. Coba singkirkan meja sesajen itu, Anda akan bisa melihat dengan jelas mayat-mayat tersebut (juga dalam bentuk arca, tentunya).

Tumpukan mayat yang diinjak oleh Siwa Bhairawa

Inilah tradisi pengurbanan yang lazim dilakukan oleh raja-raja penganut tantrisme atau pemuja Bhairawa. Sekte ini berasal dari India, kemudian menyebar ke Asia Selatan lainnya, Asia Timur, hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dari arca-arca yang ditemukan, kita bisa mendeteksi ada setidaknya tiga aliran Bhairawa:

  • Bhairawa Kala (Hala) Cakra. Penggabungan ajaran Buddha Mahayana dengan Tantrayana. Ajaran ini dianut Kertanegara (raja Singosari) dan Adityawarman (raja Melayu yang sempat “magang” di Kerajaan Majapahit bersama Gajah Mada). Arca Bhairawa Adityawarman terdapat di Museum Nasional Jakarta, sedangkan arca Bhairawa Kertanegara dari Candi Singosari sekarang berada di Museum Tropen Leiden (replikanya ada di Museum Nasional).
  • Bhairawa Heruka (Heru Cakra). Penggabungan tradisi kepercayaan Indonesia dengan ajaran Kala Cakra. Ajaran ini terdapat di Padang Lawas, Sumatra Barat. Kubilai Khan, raja besar di daratan Cina (Dinasti Yuan), juga menganutnya. Arca Bhairawa Heruka terdapat di Candi Biaro Bahal II, Padang Lawas, dan Sumatra Tengah.
  • Bhairawa Bima Sakti. Penggabungan ajaran Bhairawa dengan ajaran Hindu Siwa. Penganutnya banyak di Bali, seperti Raja Kebo Parud. Arca simbol eksistensi ajaran ini kita temukan di sini, di Pura Kebo Edan.

Dugaan saya, ajaran Tantrayana mengakar di Bali seiring dengan pengaruh kuat dari Jawa, khususnya dari Kerajaan Kediri saat Raja Kertanegara berkuasa pada abad 13. Kita tahu, patih di Bali, Kebo Parud, adalah orang pilihannya.

Nah, patung inilah yang diduga mewakili sosok Kebo Parud itu. Sudah merupakan kelaziman di zaman kerajaan Hindu atau Buddha di nusantara (bahkan mungkin juga di India) bahwa seorang raja menganggap dirinya titisan dari dewa tertentu, lalu mematungkan dirinya dengan ciri-ciri dewa tersebut.

Arca-arca lain di Pura Kebo Edan

Di sebelah kanan Pelinggih Siwa Bhairawa (atau kiri kita), terdapat pelinggih lain dengan arca mirip kerbau. Pemangku pura setempat menyebutnya Pelinggih Ratu Bawi. Jadi, posisi Siwa Bhairawa tadi diapit oleh Ratu Kebo dan Ratu Bawi.

Pelinggih Ratu Bawi

Di samping kanan Pelinggih Ratu Bawi, ada Pelinggih Ratu Pinatih. Terletak sebuah arca raksasa dan fragmen arca yang besar di sana. Matanya melotot, pernak-pernik tengkorak yang menghiasi bagian kepala, leher, ikat pinggang, hingga anting-antingnya, menambah gahar arca itu.

Pelinggih Ratu Pinatih

Sementara, dua bangunan di sebelah timurnya merupakan Bale Pemujaan.

Di depan Bale Pemujaan, Halaman Madya Mandala (Jaba Tengah) Pura Kebo Edan

Masih terdapat sejumlah peninggalan lainnya di dalam pura ini, seperti Pelinggih Ratu Glebeg (tempat memuja Dewi Sri), Ratu Mas, Padmasana, Ratu Bayu, Ratu Pulu, Ratu Gana, Pengaruman, Piyasan, Bale Pawedan, dan lain-lain. Terus terang, saya tidak begitu mengerti sejarah dan fungsi-fungsi pemujaannya.

Bagaimanapun, saya rasa ini sudah cukup. Saya tidak bisa berlama-lama di Pura Kebo Edan, karena masih ada beberapa lokasi yang perlu saya kunjungi hari itu dalam rangka riset cerita. Saya pun agak tergesa berjalan ke pos penjaga untuk mengembalikan selendang hijau tadi.

Pura Kebo Edan

  • Alamat: Jalan Raya Tampaksiring, Blahbatuh, Ubud, Bedulu, Gianyar 80571, Bali, Indonesia
  • Telepon: +62 361 942354

Area Utama Mandala (Jeroan) Pura Kebo Edan

– Foto-foto: Brahmanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge