Jerman 2: Transit di Singapura

Sabtu siang, saya sudah memesan satu unit taksi Zebra pada pukul 13.00. Ya, supaya bisa bersantai untuk mengejar penerbangan Surabaya-Singapura pukul 17.35 nanti. Saya berangkat bersama Mama, Rie, dan dua keponakan saya.

Yang mengusik benak adalah perjalanan udara setelah ini. Kemarin saja, sewaktu terbang dari Surabaya ke Jakarta, telinga saya berdenging terus di separuh perjalanan. Menelan ludah tidak berhasil. Mengunyah-ngunyah tidak terlalu berhasil mengurangi rasa sakit. Mencoba tidur pun gagal. Untung, perjalanan udara itu tidak sampai dua jam. Nah, bagaimana dengan perjalanan udara 17 jam ini?

Semakin dipikir, semakin saya khawatir. Maka saya mencoba pasrah saja. Usaha preventif saya hanya membawa permen karet untuk dikunyah-kunyah. Semoga membantu. Kalaupun tidak, saya yakin cabin crew punya solusi untuk situasi umum ini.

Tiba di Bandara Juanda, kami melanjutkan mengobrol dan bersenda gurau di ruang tunggu terminal keberangkatan.

Pukul 14.30, baru saya pamit kepada para pengantar. Saya hendak check-in dan boarding menuju Bandara Changi, Singapura. Kami pun berciuman, berpelukan.

“Hati-hati ya,” kata istri saya.

Saya mengangguk, “Assalamu’alaikum. Sampai ketemu Jumat.”

Begitu saja. Sikap saya terlihat tenang dari luar. Padahal saat itu tegang bukan main, hahaha. Karena saya tahu, mulai sekarang saya benar-benar sendirian.

Berbekal tas ransel, tas pinggang, dan sebuah koper kecil, saya mengantri. Tas koper saya titipkan bagasi, sementara tas pinggang, jaket tebal dan dan ransel saya bawa. Lantaran sistem peniketan di Indonesia belum terintegrasi dengan bandara, maka saya masih perlu merogoh Rp 150.000 untuk pajak bandara.

Karena berangkat terlalu pagi, saya masih harus menunggu. Saya habiskan Roti Boy yang dibelikan Mama tadi. Aduh, roti ini coklatnya terasa sekali, membuat saya khawatir perut bermasalah. Di perjalanan-perjalanan jauh seperti ini, percayalah, tak ada yang ingin perutnya bermasalah. Segera saya gelontor dengan banyak air. Semoga coklat ini tidak membuat saya mules. Setidaknya, jangan sebelum saya menjangkau kamar hotel.

Pukul 14.50, pesawat Airbus A320-100 untuk penerbangan Valuair VF0248 mulai membuka pintu boarding. Pesawat ini tidak terlalu besar, ternyata. Sama seperti pesawat-pesawat domestik. Tapi penumpangnya dari berbagai ras. Hm, aroma luar negeri sudah terasa. Saya tersenyum.

Setelah duduk tenang di kursi 17 C, saya membuka bungkus permen karet saya. Dua potong langsung masuk ke mulut. Pesawat pun lepas landas. Entah karena mengunyah-ngunyah atau ada faktor lain, telinga saya tidak berdenging. Aman. Belakangan, saya baru tahu penyebab lain telinga berdenging sewaktu naik pesawat: pilek alias hidung mampet! Untungnya, saya sedang tidak mengalami itu.

Pesawat lalu mendarat di Singapura sekitar pukul 19.10 waktu setempat, atau pukul 18.10 WIB. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Singapura. Bagaimana perasaannya? Ah, biasa saja.

Melewati Pos Imigrasi

Lantaran tidak tahu apa-apa, saya memutuskan mengikuti para penumpang lain yang sama-sama baru turun dari burung baja itu. Langkah mereka cepat, sehingga saya tidak perlu memperlambat langkah sekadar untuk membiarkan mereka menjadi “penunjuk jalan”.

Tak beberapa lama kemudian, mereka berhenti. Mengantri di pos imigrasi. Saya ikut saja sambil berusaha untuk tidak terlihat udik.

Tibalah giliran saya. Seorang petugas menyapa. Wanita. Muda. Orang Melayu. Gendut. Tidak terlalu ramah. Dia meminta berkas-berkas saya. Saya menyerahkannya. Petugas imigrasi itu langsung membuka-buka paspor dan tiket saya. Tapi dia seperti tidak puas, “Where are you going, Sir?”

Germany. I just transit here in Singapore.”

Your form, please…”

What form?” sahut saya dengan lugunya.

Look, Sir, whether you here to stay or in transfer, you must fill this form,” katanya sambil menunjukkan selembar formulir yang dimaksud. Warnanya merah, isiannya kotak-kotak kecil.

Masya Allah! Saya baru ingat. Itu formulir yang dibagi-bagikan pramugari Valuair di atas pesawat. Tadinya, saya pikir itu hanya perlu diisi oleh pelancong yang tujuannya Singapura.

“Oh, that’s right,” ucap saya, mencoba tetap cool padahal terlanjur malu. Untung, saat itu tidak terlalu banyak orang. “Where can I get that form?”

Petugas judes itu menunjuk meja beberapa meter dari konter.

I’m sorry, this is my first time,” saya tersenyum. Lalu beranjak menuju meja yang ditunjuknya.

Di sana, seseorang terlihat kebingungan mengisi formulir. Dia wanita, orang Melayu juga, kelihatannya Malaysia, atau mungkin TKW yang logatnya sudah berubah Melayu. Dia mendekati saya dan bertanya, “Pak, bagian ini diisi apa?”

Hahaha, yang benar saja! Saya memperhatikan sejenak formulir itu. Mempelajarinya. Kemudian berkata jujur, “Kurang tahu, Bu. Saya juga belum pernah mengisi.”

Tak beberapa lama, muncullah seorang petugas. Dia orang Singapura peranakan India atau Pakistan. Bahasa Inggrisnya tidak jelas, dia juga terlihat tidak terlalu memahami formulir itu. Tercium aroma asam lambung dari napasnya. Saya menduga, perutnya sedang kosong. Dia belum makan malam. Ah, sama seperti saya. Tapi bapak itu benar-benar ingin membantu. Ibu tadi pun mendapatkan pembimbing idamannya.

Sementara, saya mengisi formulir itu sendiri, di meja yang terletak satu meter dari situ. Saya hanya sesekali bertanya. Setelah itu, saya kembali antri di bagian imigrasi. Kebetulan, bukan petugas judes tadi. Tidak ada lagi masalah, saya pun memasuki jantung Bandara Changi, bandara yang pernah beberapa kali meraih predikat terbaik di dunia. Salah satunya versi Skytrax World Airport, kelak pada 2013.

Langkah berikutnya adalah menuju pengurusan bagasi. Petugas di Juanda sudah mengingatkan saya bahwa Valuair adalah budget airlines, bukan full service. Jadi, bagasi harus saya ambil untuk di-check-in-kan lagi.

Saya mengaktifkan kembali ponsel, untuk memberi tahu keluarga bahwa saya sudah sampai di Singapura. Namun apa yang terjadi? Di ponsel tertera jelas, tidak ada jaringan!

Ada miskomunikasi di sini. Sebelumnya, saya pikir Mentari bisa dipakai di mancanegara, meski biayanya mahal karena roaming internasional. Itu sudah saya pelajari di situs Indosat. Tidak ada masalah. Saya memang tidak berencana sering-sering SMS apalagi telepon selama di luar negeri. Yang membuat saya ternganga, ternyata fasilitas mahal itu masih perlu didaftarkan dulu.

Intinya, kartu Mentari saya sekarang tidak berfungsi. Kalau di Singapura saja tidak bisa, apalagi nanti di Jerman! Praktis, saya hanya mengandalkan internet bila ingin berkomunikasi dengan keluarga di Surabaya.

Sialnya, sinyal wi-fi di sini juga lemah. Yang “strong” ada gambar gembok. Saya ingin menanyakan username dan password sinyal itu, tapi saya urungkan. Batere ponsel saya sudah 3/4, padahal perjalanan masih jauh. Buru-buru, saya matikan wi-fi dan GPS untuk mengirit batere. Komputer, mana komputer?

Di Bandara Changi, saya tahu ada warnet-warnet gratis. Saya menanyakan lokasinya kepada petugas Information Center. Dia menjelaskan, bahwa setelah check-in dan menuju terminal yang dituju, saya akan melewatinya. Ah, kalau begitu nanti saja. Toh waktu check-in saya masih lama. Masih empat jam lagi!

Saya pun mencari Prayer Room untuk salat dulu. Kemudian, niatnya makan malam. Tapi dimana? Ada dua kendala di sini. Pertama, harga (saya hanya membawa 10 SGD). Kedua, saya tidak tahu rumah makan yang halal. Dipikir-pikir cukup lama, sudahlah, saya memberanikan diri untuk tidak makan berat. Hanya menyantap roti yang saya bawa. Persediaan roti lumayan banyak. Memang, ini untuk mengantisipasi perjalanan panjang. Jadi, kalau tidak dimakan, mubazir juga.

Namun sebelum “bersantap malam”, saya ingin memastikan dulu pesawat saya. Saya memandangi papan penerbangan elektonik untuk mencari kode KLM KL0836. Benar ada, dan memang baru akan boarding dini hari. Saya tahu itu sejak awal. Saya hanya ingin memastikan semua berjalan sesuai di kertas yang saya pegang. Maklumlah, baru pertama kali ini bepergian ke luar negeri. Jadi paranoid sendiri, hehehe.

Konyolnya, seolah belum yakin, saya juga bertanya kepada seseorang. Saya tanya, benarkah penerbangan KL 836 belum berangkat? Pria berumur 40-an itu segera berbaik hati memeriksakannya. Orang itu berwajah Asia Selatan, tapi entahlah, mungkin warga Singapura juga.

To Amsterdam? It will depart at 00.25,” katanya dengan logat Bollywood. “You still have plenty time.”

Saya mengangguk. Berikutnya, kami berbincang-bincang. Lumayan, jadi ada teman membunuh waktu. Ternyata, orang ini berasal dari Bangladesh. Dia menunggu koleganya untuk bisa pulang ke negaranya. Uangnya menipis. Katanya, kalau temannya itu tidak kunjung datang, dia akan menginap di sini untuk menunggu sampai dijemput.

Berbicara ngalor-ngidul membuat perut saya tambah keroncongan. Percakapan ini harus dihentikan. Saya tak punya penyakit maag, tapi kalau badan capek dan perut terlalu kosong seperti saat ini, maag pun bisa menyerang. Ah, rugi kalau keluar negeri dalam keadaan perut melilit lantaran maag. Maka, dengan sopan saya menanyai teman baru itu apakah dia sudah makan. Siapa tahu dia dapat menjadi pemandu wisata kuliner saya.

Tapi sial, dia menjawab baru saja memakan roti dan sebotol sari buah. Dan itu sudah cukup, menurutnya. “Foods here are so expensive,” pria itu mencoba mengingatkan, seolah-olah tahu di dompet saya hanya ada selembar 10 SGD.

Akhirnya, saya pamit untuk mojok dan memakan roti saya. Karena saya tidak melihat ada orang yang makan di sini. Mungkin memang ada larangan untuk itu. Entahlah. Kita tahu bagaimana disiplinnya orang Singapura soal kebersihan.

Saya pun memakan roti di salah satu sudut ruang tunggu. Terasa seret. Capek mengunyahnya. Sudah begitu, sulit kenyang pula. Namun bagaimana lagi.

Selesai makan, saya mencoba beristirahat sekenanya. Duduk di kursi memeluk tas ransel di dada. Kedua kaki bertumpukan tas koper. Fungsinya selain mencari posisi santai bagi kaki saya yang letih, juga sebagai alarm alami jika ada yang coba mengusili koper saya sewaktu saya sedang asyik mengarungi samudera mimpi.

Namun toh saya takut tidur. Bukan lantaran takut ada orang yang mengisengi tas saya, melainkan karena takut ketinggalan pesawat seperti yang pernah dialami seorang teman. Saya baru selangkah menuju Jerman. Kalau sampai tertinggal satu pesawat, bisa dipastikan pesawat lainnya dan kereta juga tertinggal. Efek domino ini bisa sangat merepotkan dan menguras dompet.

Check-in dan Boarding

Masih pukul 21.29. Tapi petugas di konter KLM dan Air France itu membolehkan saya check-in sekarang. Syaratnya, saya harus menggunakan mesin self service. Saya pun mencobanya, dibantu seorang petugas bandara yang cantik. Setelah itu, saya baru mengurus perbagasian secara manual di konter KLM. Lega rasanya. Akhirnya tidak perlu menyeret-nyeret koper lagi.

Tak paham dengan bandara dan tak berani tersesat, saya segera menuju Transfer Lounge.

Eh, mata saya tiba-tiba menangkap jajaran komputer. Aha! Inilah warnet itu! Gratis, namun diskonek setiap 10 menit. Warnet ini sebenarnya tersebar dalam jumlah lebih dari cukup di semua terminal Bandara Changi. Alhamdulillah, akhirnya bisa online juga. Saya pun memanfaatkannya untuk mengecek email, blog Warung Fiksi, juga untuk memberi tahu istri melalui Yahoo! Messenger bahwa saya sudah di Singapura dan jaringan ponsel mati suri selama di luar negeri. Jadi, mungkin tidak akan ada SMS. Kalau telepon masih mungkin, karena kami menggunakan Skype.

Capek di Internet Station (karena harus berdiri selama menggunakan komputer), saya melanjutkan perjalanan.

Sempat, saya window shopping di Toko Buku Relay. Sempat ngiler lihat Asterix Omnibus terbaru yang setahu saya belum ada di Indonesia, dalam edisi hardcover. Demi ini, saya rela pergi ke money changer untuk membeli dolar singapura lebih banyak, hahaha. Tapi, akal sehat saya menegur, “Kalau kamu beli buku ini, tasmu bakal tambah sesak dan berat! Ingat, ini masih perjalanan berangkat, belum pulang.”

Sial! Otak kiri memang tak pernah bisa lihat orang senang! Ya sudahlah. Tidak jadi beli. Saya langsung menuju lounge Gate D44.

Tapi gila, ternyata dingin sekali AC di ruang lounge! Sudah begitu, kemudian terdengar pengumuman delay penerbangan dari loudspeaker. Maskapai sekelas KLM juga mengalami delay? Oh, yang benar saja! Untungnya, keterlambatan itu ternyata hanya 15 menit. Saya betah-betahkan saja duduk sambil menonton pertandingan sepakbola junior di televisi umum (kok bukan pertandingan Euro yang sedang in ya). Hitung-hitung, belajar menahan dinginnya Eropa besok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge