Keluarga Kucing yang Tidak Sakinah

Keluarga Kucing: Ibu-Anak

Ini bukan pertama kalinya rumah kami kedatangan kucing atau keluarga kucing. Barangkali sudah ratusan kali kucing datang dan pergi. Termasuk dua kucing liar yang secara spontan kami namai Chaplin (karena badannya hitam-putih) dan Garfield (karena postur dan warnanya mirip tokoh kartun Garfield).

Sebelumnya, kami tidak menyangka mereka berpacaran. Karena mereka datang ke rumah secara bergantian, tidak dalam periode yang sama. Namun siapa sangka, mereka diam-diam membangun mahligai bernama keluarga.

Saya baru tahu itu beberapa hari sebelum Ramadan. Tiba-tiba, rumah kami kedatangan dua tamu. Satunya Chaplin, dan satunya kucing kecil mungil. Mereka sepertinya ibu-anak. Jadi kita sebut saja Bunda Pus dan Anak Pus. Lupakan panggilan Chaplin, karena kami waktu itu tidak tahu ia betina.

Bukan main gembiranya kedua anak saya dengan kehadiran mereka, terutama kucing cilik itu. Apalagi Akira. Bocah satu tahun itu suka menunjuk-nunjuk sambil mulutnya dimonyong-monyongkan (mungkin meniru ucapan “puuuus” tetapi belum bisa).

Bunda Pus: Berubah Galak Sejak Punya Anak

Tidak seperti dulu, kucing hitam-putih ini sekarang galaknya berlebihan. Ia mencari makan di tempat kami, tetapi setiap kami dekati, selalu menggeram seperti mesin, lalu mendesis seperti ular.

Bunda Pus yang judes dan over protective

Awalnya, terus terang saya agak merinding ketika sepasang mata fluoresen itu menatap saya sambil mendesis-desis begitu. Seolah-olah, ia binatang liar yang siap menerkam lawannya kapan saja.

Kiara juga merasakan itu. Biasanya, dia berani mendekati semua kucing. Dan kalau kucingnya tidak lari, dia akan mengelus-elusnya.

Namun karena perubahan perangai Bunda Pus, pandangan Kiara tentang kucing berubah drastis. Meskipun masih antusias setiap kali keluarga kucing itu muncul, Kiara sering takut sendiri dan mengingatkan yang lain, “Jangan dekat-dekat kucing itu, nanti dicakar! Nanti digigit, lho!”

Memang bingung juga menghadapi si meong ini. Ketika kami menyapa “Puuuus…” saja, ia menggeram dan mendesis penuh curiga. Kami mendekati anaknya yang lucu, ia mendesis lagi. Bahkan saat saya memberi makan, ia tetap menggeram dan mendesis-desis sambil menggondol makanan itu.

“Nggak tahu balas budi,” komentar istri saya. “Udah sering dikasih makan, malah mengancam-ancam si pemberi!”

Pernah juga, hawa Surabaya dingin lantaran hujan deras semalam suntuk. Bunda Pus dan Anak Pus tidur di atas keset kami di ruangan dalam. Saya tahu itu ketika mau ke kamar kecil untuk buang air kecil. Saya membiarkannya karena kasihan.

Namun, apa yang terjadi?

Begitu melihat saya, Bunda Pus langsung kumat jahatnya. Padahal, tadinya saya cuma lewat untuk buang air kecil. Awalnya pun saya hanya tahu anaknya, tidak melihat Bunda Pus sama sekali. Saya baru tahu ia di sana setelah mendengar geramannya.

Kucing yang aneh. Mengapa kami, tuan rumahnya, dianggapnya musuh? Begitu bencinya kepada kami, ia sampai rela hengkang dari tempatnya berteduh dan balik ke atas meski hujan-hujanan.

Oalah, ternyata ada ya tipe kucing menjengkelkan seperti ini! Rasanya kucing-kucing begini, nih, yang membuat manusia tega membantai (lalu memamerkan fotonya di media sosial) sebagaimana tren beberapa waktu lalu. Meski pembantaian dan penyiksaan kucing atau hewan lain tetap saya nilai sebagai tindakan manusia goblok dan tidak waras, setidaknya, saya bisa melihat sisi yang lain (bahwa kucing tidak selalu cute dan adorable).

Mungkin, naluri seorang ibu mendorongnya untuk melindungi anaknya dengan cara yang overprotective dan lebay begitu. Jadi dapat dimaklumi bila ia selalu curiga dan mengantisipasi seandainya manusia atau binatang lain akan menyakiti anaknya.

Tetapi istri saya tidak setuju dengan teori itu. Alasannya, “Kalau memang niatnya melindungi anaknya, mestinya ia nggak lari duluan setiap kali anaknya terancam!”

Hahaha, betul itu!

Bunda Pus penakut juga, sebenarnya. Setelah menggeram dan mendesis, kalau yang diancam tidak takut dan malah maju ke arahnya, atau ada tanda-tanda hendak menciduk air untuk mengguyurnya, ia akan lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Lucunya, larinya itu sambil tetap mendesis-desis marah.

Sementara anak yang seharusnya dilindunginya malah ditinggal kabur begitu saja. Sudah beberapa kali kejadian seperti itu, membuat saya jadi bingung, “Sebenarnya, ia jahat itu buat melindungi anaknya atau dirinya sendiri, sih?”

Ayah Pus: Cool, Calm, Confidence

Sempat terpikir, keluarga ini bapaknya di mana, ya? Apakah ia bapak yang tidak bertanggung jawab? Hit and run seperti playboy?

Ayah Pus, antara sang petualang dan Bang Toyip yang jarang pulang

Tidak juga. Ia bukan playboy, ia Garfield! Suatu hari, ia datang menemani anaknya. Badannya semakin bongsor, tongkrongannya semakin dewasa dan tenang, berbeda jauh dengan istrinya yang judes dan penuh rasa curiga. Lagaknya seperti seekor singa yang sedang bersantai di bawah pohon. Penuh karisma!

Kiara pernah menangis ketika kucing berwarna kuning itu tahu-tahu merebah di depan kamar mandi sewaktu dia mandi. Hanya rebahan santai, menikmati semilir angin, nggak ngapa-ngapain. Begitu saja sudah membuat Kiara ketakutan sendiri dan memanggil-manggil saya dengan panik, hahaha.

Bagaimanapun, ayah, ibu, dan anak kucing ini tidak pernah terlihat bertiga dalam satu tempat. Kalau bukan ibu-anak, ya bapak-anak yang tampak. Tidak pernah sekaligus bertiga.

Oh, pernah, ding! Satu kali.

Saya ingat, keluarga kecil kucing ini pernah duduk-duduk di pelataran belakang rumah kami. Ya, bertiga. Sayang, saya saat itu sedang ada tenggat proyek, sehingga tidak sempat membuat foto keluarga untuk mereka.

Toh mereka bukan keluarga yang harmonis. Bukan pula keluarga sakinah. Ayah Pus jarang pulang, seperti Bang Toyip. Barangkali hanya seminggu sekali ia menengok anak-istri. Tanda-tanda Ayah Pus pulang bisa diketahui dari suara lolongan kucing yang bersahut-sahutan di lantai jemuran atas. Tampaknya, setiap bapake pulang, ada saja bahan yang memicu pertengkaran rumah tangga.

Saya bercanda ke istri saya, “Ayah Pus itu pasti sibuk cari duit. Sering dinas ke luar kompleks. Kemarin malam pas berantem itu Bunda Pus mungkin protes, ‘Aku ngurusin anak sendirian, kamu nggak tahu susahnya, malah enak-enak cuci mata lihat betina lain! Udah, aku nggak mau hamil lagi!’ Hahaha….”

Mudah-mudahan, Anak Pus tidak meniru kelakuan cuek bapaknya. Atau kejudesan ibunya.

Anak Pus: Cute & Adorable

Kucing cilik ini berwarna dominan putih persis ibunya. Tetapi ada corak kuning di kepala dan ekornya yang mungkin diperolehnya dari fenotipe bapaknya.

Anak Pus, kucing yang kalem dan mau bergaul dengan manusia

Yang pasti, sikap mentalnya tidak mirip ibunya. Pertama datang dengan tubuh sekepalan tangan saya, hingga beberapa minggu kemudian tubuhnya sudah hampir setinggi orang tuanya, ia tetap memegang fitrah kucing yang menggemaskan dan menyenangkan.

Anak Pus lebih luwes “bergaul” dengan manusia. Ia mengeong manja hampir setiap saya memanggilnya. Ia juga berani mendekat. Bahkan dengan kurang ajarnya tidur di ember yang berisi pakaian kotor kami. Kurang ajar yang dimaafkan, karena itu tadi, ia menggemaskan dan menyenangkan.

Walaupun terkadang ia meniru ibunya juga. Berhubung sehari-harinya bersama sang bunda yang suka judes terhadap manusia, terkadang si kecil juga suka mendesis ketika didekati. Inilah bukti kalau orang tua mendidik anaknya dengan negatif, cepat atau lambat, anak akan melihat sekitarnya dengan negatif pula.

Korban pertama desisan Anak Pus adalah Kiara. Maklum, Kiara suka menggoda-goda sampai Anak Pus jengkel dan mendesis ke arahnya. Kalau sudah begitu, Kiara malah tertawa-tawa riang.

Suatu hari, saya menggendong Akira mendekat Anak Pus. Karena seperti biasa, dia menunjuk-nunjuk dan memonyong-monyongkan bibirnya, meminta saya mengantarnya sedekat mungkin dengan kucing itu. Begitu sudah dekat, Akira mengoceh. Anak Pus pun mengeong manja menyambutnya. Terjadilah dialog absurd antara bayi manusia dan bayi kucing.

Lalu, datanglah Kiara menimbrung. Anak Pus langsung menoleh dan mendesis ke arahnya. Hahaha….

Saya dekatkan lagi Akira, kucing itu kembali mengeong manja.

Kiara menimbrung lagi. Anak Pus pun mendesis lagi. Saya terpingkal-pingkal melihat kejadian itu.

Keluarga Kucing Itu Sudah Pergi

Menginjak pertengahan Ramadan, Ayah Pus semakin jarang mampir. Selang beberapa hari, Bunda Pus juga semakin jarang datang. Hanya sesekali menengok anaknya yang masih suka asyik bermain di pekarangan belakang rumah kami.

Menjelang akhir Ramadan ini, Anak Pus juga sudah tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Kedatangan terakhirnya, seingat saya, adalah ketika dia mengacak-acak kompor di dapur.

Pernah, Bunda Pus datang sebentar, walau tidak sampai turun. Mungkin merasa kecele karena tidak menemukan anaknya di bawah sini, ia pun pergi lagi.

Anak Pus sudah hampir sebesar bapaknya dalam beberapa minggu saja

Ke mana si kecil itu? Dugaan pertama saya, ini seperti siklus hidup manusia. Seperti sepasang suami-istri yang pada gilirannya ditinggal pergi anak-anaknya yang sudah mulai mandiri.

Dugaan kedua, ada orang yang tega membuang Anak Pus, atau bahkan membunuhnya (entah dengan makanan yang diracun atau dibunuh langsung). Saya hanya berdoa, semoga yang benar-benar terjadi adalah dugaan pertama saya. Bukan yang kedua ini.

– Foto-foto: Brahmanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge