Kenapa Saya Lebih Suka Baca Novel Berbentuk E-Book

E-book koleksi saya. Bisa dibaca di mana-mana: smartphone, tablet, termasuk laptop berlayar 14 inch.

E-book koleksi saya dalam My Books – Google Play. Bisa dibaca di mana-mana: smartphone, tablet, termasuk laptop berlayar 14 inch.

Dua bule masuk ke kereta yang saya tumpangi. Penampilan mereka khas backpacker dengan pakaian yang asal melekat dan ransel yang menggunung lebih tinggi dari kepala. Mereka duduk di kursi depan saya. Salah satu dari mereka memasang bantal leher dan segera tidur. Satunya lagi mengambil komputer tablet. Yang menarik, tablet itu ternyata bukan untuk bermedia sosial, browsing, atau main game. Saya intip dari celah kursi, ternyata dia membaca novel! Saya kaget. Turis backpacker? Membaca novel?

Tapi terus terang, melihat bule tersebut asyik berjam-jam menikmati bacaan di tabletnya, saya jadi ingin meniru. Sayangnya, itu kejadian tahun 2011, masih jarang sekali penerbit yang membuat versi e-book dari buku-bukunya. Baru 3-4 tahun kemudian, mulai banyak penerbit Indonesia yang berani berspekulasi meluncurkan buku-buku elektronik. Salah satunya via platform Android: Google ‘lapak semilyar umat’ Play Store.

Apakah ini tanda-tanda e-book sudah booming? Tidak juga. Apalagi di Indonesia. Masih jauh panggang dari api. E-book sepi peminat. Di sini, apa-apa memang harus di-print supaya jelas dan mantap. Kalau perlu, difotokopi rangkap tiga, hahaha….

Yang Dianggap Kelemahan E-book

Bukan tanpa alasan bila banyak orang merasa tidak nyaman membaca e-book. Saya menduga, mereka menganggap e-book itu…

  1. Tidak bisa dicoret-coret seperti buku biasa? Padahal bisa! Semua huruf, kata, kalimat, dan paragraf bisa di-hilite dengan bermacam warna (seperti di-stabilo), di-search terjemahan atau artinya di web (jika Anda terkonek internet), atau dikasih catatan (add note). Bahkan catatan tersebut bisa kita copas ke mana pun: email, media sosial, SMS, atau sekadar disimpan di aplikasi Google Keep.
  2. Membuat mata pedih? Bisa jadi! Ini lantaran cahaya dari layar ponsel/tablet terlalu tajam. Saran saya, aturlah dulu tingkat kecerahannya. Atur juga ukuran font-nya. Kalau file e-booknya berformat .epub, Anda tinggal membesarkan font tersebut dalam satuan persen. Maka semua pun berubah menyesuaikan, sehingga jumlah halaman e-book jadi lebih banyak. Jangan lupa, pastikan juga gadget Anda lumayan lebar. Buat saya, cukup ponsel berlayar 4,5 inch. Kalau Anda merasa itu kurang gede, belilah e-book reader dengan layar selebar buku. Atau, bacalah via laptop.
  3. Perlu batere? Ya iyalah! Kalau Anda enggan terlibat dengan batere dan malas nge-charge, buang saja laptop Anda dan kembali gunakan mesin tik. Buang juga ponsel Anda, lalu pakai lagi telepon rumah, hehehe. Kecuali kalau Anda butuh bacaannya saat jauh dari sumber listrik (seperti di pulau terpencil atau puncak gunung), seharusnya batere bukan masalah. Batere untuk membaca e-book tidak boros, kok. Paling banter, setara dengan menyalakan radio FM di ponsel (itu pun kalau Anda menggunakan fasilitas Read Aloud). Untuk membuatnya lebih hemat daya dan adem di mata, Anda selalu bisa memilih tampilan layar gelap (font otomatis putih). “Mode gelap” ini bahkan membuat saya bisa tetap enak membaca dalam keadaan gelap.
  4. Ribet dalam membalik-balik halamannya? Setahu saya, membalik halaman-halaman buku fisik lebih repot. Perlu dua jari: jempol dan telunjuk. Terkadang bila jari itu terlalu kering, perlu juga melibatkan ludah, hehehe. Sementara membalik halaman di e-book cuma perlu satu jari dan satu ketukan, atau maksimal dua ketukan. Tap, tap! Kalau belum bisa juga, cari dan aktifkan opsi “tap to scroll”, sehingga nanti Anda tinggal mengetuk untuk membalik halaman.
  5. Tak bisa mengalahkan sensasi memegang buku? Kalau ini, saya sulit membantah. Tapi seberapa penting, sih, sensasi itu? Seberapa penting bersentimental dengan bau, suara gemerisik, atau hangatnya kertas buku? Bagi saya, esensi buku adalah tulisan. Huruf-huruf yang tersusun menjadi kalimat, lalu menjelma wacana, ilmu, atau hiburan. Selama bisa memperoleh itu, saya tidak akan cerewet soal mediumnya. Itu saya, lho. Entah Anda.
  6. Tidak cocok untuk acara peluncuran atau disumbangkan? Ya, ya, ya. Agak lucu membayangkan peluncuran sebuah buku yang tidak ada tumpukan bukunya. Juga, kurang mantap rasanya bila menyumbang perpustakaan, rumah baca, sekolah, atau lainnya dalam bentuk e-book. Aneh, memang! Tapi siapa tahu, di masa depan, hal-hal seperti ini menjadi sesuatu yang lumrah.
  7. Tak ada edisi bertanda tangan? Benar! Sejauh ini, pengarang tidak bisa menandatangani e-book secara personal, juga membubuhi kata-kata khusus untuk seorang pembaca (bukan massal). Tapi, sekali lagi, mungkin saja ini bisa dilakukan suatu hari nanti. Saya yakin, inovasi seperti ini tidak terlalu sulit bagi programmer-programmer Google, Amazon, Sony, dan lain-lain.

Keunggulan Mutlak E-book

Antara membaca buku atau e-book, jujur, saya lebih enak membaca buku biasa. Tapi untuk membeli dan menyimpan, saya jelas pro e-book. Ada beberapa kelebihan e-book dibanding buku biasa….

  1. Tidak perlu takut kehabisan. Pernahkah Anda pergi ke toko buku untuk mencari buku tertentu, tapi ternyata kehabisan? Entah ludes terjual atau dikembalikan ke gudang. Mengesalkan! Nah, kalau ada versi e-book, tak perlu mengkhawatirkan hal-hal semacam ini. Tinggal search di Play Store, bayar dengan kartu kredit/pulsa/Google Wallet, dan unduh. Selesai!
  2. Bisa lihat bab-bab awalnya. Umumnya, setiap e-book di lapak Play Store dibuka hingga 20%. Sample ini bahkan bisa diunduh untuk dibaca-baca dulu dalam kondisi offline. Jadi, kita bisa menilai gaya menulis si pengarang kira-kira sesuai selera atau tidak, asyik atau garing, isinya bermanfaat atau tidak. Kalau iya, tinggal tekan tombol “Buy”. Kalau tidak seindah bayangan, ya berarti Anda terselamatkan dari kejadian salah beli.
  3. Harganya lebih murah. Memang, ada penerbit yang menyamakan harga e-book dengan buku fisik. Tapi banyak kok yang membandrolnya lebih murah. Secara alami, di e-book tidak ada biaya cetak dan kertas. Praktis, produk ini tanpa risiko diretur karena cacat produksi. Ia juga bisa terus dijual (penghasilan tanpa batas). E-book hanya perlu membayar jasa penerbit, penulis, dan pemilik lapak (dalam hal ini Google). Sementara buku fisik perlu memberi makan penerbit, penulis, distributor, sekaligus toko buku.
  4. Terkadang gratis atau berdiskon. Beberapa penerbit kadang-kadang promo “gila” dengan menggratiskan e-booknya selama periode tertentu. Lumayan, kita bisa membeli e-book itu dengan harga Rp0. Selain itu, Google juga kadang membagi-bagikan gift card, meskipun saya sendiri tidak tahu ini carinya di mana. Operator seluler pun kerap meng-SMS-kan kode voucher diskon untuk pembelian produk tertentu di Play Store.
  5. Tak perlu ruang penyimpanan. Coba hitung baik-baik pertambahan ruang rumah Anda dibanding pertambahan tumpukan buku, seimbang tidak? Saya pernah menulis spesifik masalah ini di sini. Lho, tapi e-book kan juga butuh ruang penyimpanan di gadget? Betul, tapi ruang virtual semacam itu kan gampang dibeli. Kalau tidak mau beli pun tinggal Anda remove saja e-book yang sudah dibaca. Maka lenyaplah dari ponsel Anda. Bukan lenyap betulan, sih. E-book itu masih ada di akun Google Anda, sewaktu-waktu bisa Anda unduh kembali, tanpa harus beli lagi.
  6. Bebas debu, rayap, penyakit kuning, lapuk, dsb. Pernah syok melihat koleksi buku kesayangan disantap rayap? Pernah sedih melihat halaman-halaman buku koleksi Anda membercak kuning? Pernah jengkel dengan debu yang sepertinya cepat sekali menebal? Sekalipun dirawat baik-baik, buku pasti berdebu. Ini masalah bagi saya. Karena saya punya alergi yang bisa memicu asma. Sial. Untung ada e-book!
  7. Mudah ditelusuri. Mau mencari kata atau kutipan tertentu? Di buku fisik, sulit. Harus mengandalkan hapalan atau Bab Index (yang pastinya tidak semua kata dikelompokkan di situ dan tidak semua buku punya bab ini). Di e-book, Anda tinggal search. Daftar isinya pun siap mengantarkan pembaca ke bab manapun dalam sekali klik. Anda juga dapat “menyelipkan” pembatas buku (bookmark) sebanyak mungkin dengan mengklik bagian kanan-atas layar. Melihat daftar halaman yang telah di-bookmark pun gampang sekali.
  8. Bisa dibaca di mana-mana. Sewaktu saya mati gaya di bengkel, mengantre di bank yang tidak ada koran atau majalahnya, atau mati lampu, saya tinggal membuka ponsel dan mulai membaca e-book, di ruang gelap sekalipun! Dengan e-book dalam gadget, kita takkan kelupaan bawa bacaan. Ini asyik. Tahukah Anda, membawa novel ke kantor akan membuat kita terlihat tidak niat bekerja (kecuali kalau kerjanya di penerbit). Tapi ke kantor membawa ponsel (meskipun isinya puluhan novel), tidak ada yang mempermasalahkan. Ya, asalkan tidak ada yang membuka-buka ponsel itu, hehehe.
  9. Tidak akan dipinjam teman. E-book dalam sistem Google bukan e-book bajakan yang dapat dikopi, digandakan, atau diunggah lagi untuk dijadikan bancakan bagi pendosa-pendosa egois yang tak peduli dengan hak cipta. E-book ini hanya bisa dibuka lewat eReader yang terproteksi, seperti tablet atau smartphone beraplikasi Google Play Books, Sony eReader, Barnes & Noble Nook, atau langsung di web Google Play. Jadi, kalau seorang teman mau meminjam e-book koleksi saya, berarti dia harus bawa ponsel saya, dong. Atau meminta password akun Google saya. Hahaha, kasih nggak, ya?

Selain keunggulan-keunggulan praktis di atas, sebenarnya, ada juga keunggulan ideologis e-book. Apa itu? Semangat paperless! Semangat green with screen untuk mengurangi kertas dan limbah di bumi.

Walaupun, pada akhirnya, tentu saja semua berpulang kepada masing-masing individu. Tulisan ini pun tidak hendak mempengaruhi Anda untuk menyukai e-book atau merevolusi kebiasaan Anda membaca. Sekali lagi, semua terserah Anda.

Saya cuma ingin mengatakan, jika Anda ingin mencoba sensasi membaca e-book yang canggih ini, tidak ada salahnya memulainya dari novel saya 🙂

Unduh saja dulu sample-nya. Baca. Kalau suka, baru silakan klik “Beli”. ^_~

4 thoughts on “Kenapa Saya Lebih Suka Baca Novel Berbentuk E-Book

  1. Rini Nurul Badariah

    Aku berbeda pendapat mengenai “bawa ponsel ke kantor terkesan lebih niat kerja daripada novel”. Di banyak tempat, lama megang ponsel justru terkesan main hape melulu pada jam kerja. Sama dengan menekuri layar komputer dengan gestur tertentu yang bisa mengundang kecurigaan lagi main medsos atau game. Aku pernah lihat perusahaan tertentu memasang tulisan “Dilarang menggunakan ponsel pada jam kerja” besar-besar. Tapi ya, bukan berarti boleh bawa novel juga sih.

    Terkait e-book, mungkin lebih cocok untuk yang sangat apik merawat perangkatnya dan bukan orang pelupa/slordig/ceroboh ya. Bukan yang sebentar-sebentar hapenya rusak, hilang, atau jatuh entah di mana. Ini bisa sih disanggah dengan argumen “Ya kalau ceroboh, jangan punya gadget atau hape sekalian. Pula laptop dan teman-temannya.” Aku pribadi tengah berusaha menyeimbangkan baca buku fisik, bahkan melebihkan porsinya dibanding layar, karena masalah mata yang benar-benar cepat lelah. Selain romantisme masa lalu tadi. Kekurangan lainnya menurutku, karya berupa e-book sulit “dipamerkan” kepada orangtua dan saudara yang tidak punya smartphone atau perangkat kekinian untuk membacanya. Mungkin ini “zaman modern” tapi masih banyak yang pakai ponsel biasa saja atau bahkan memilih tidak punya ponsel sama sekali, walaupun mampu membelinya.

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Menurutku, tetap lebih berkesan profesional ponsel, Teh. Dalam kantor normal (belum ada aturan apa-apa, hanya ada etika), orang akan biasa-biasa saja melihat pegawai yang menunduk baca (e-novel) ponsel selama 5 menit. Tapi pegawai yang baca novel selama 5 menit di kantor bisa mengundang pertanyaan, “Apa itu? Ngapain kamu? Tugasmu sudah selesai?” Sama-sama lima menitnya. Sama-sama nunduknya. Kesannya sudah beda. Ini kita bicara kesan, lho. Bukan profesional beneran. Kalau profesional beneran, dua-duanya jelas nggak profesional 😀

      Ceroboh pun nggak masalah lho mengoleksi e-book. Asal cerobohnya bukan dalam hal username & password. Selama kita bisa mengakses akun Google, kita tetap bisa mengunduh dan membaca e-book yang pernah kita beli. Ponsel hancur atau tidak punya ponsel pun tetap kita bisa baca koleksi e-book itu via web. Coba kalau rumah kita yang hancur, katakan banjir atau kebakaran (naudzubillah), koleksi buku fisik kita kan terancam wasalam.

      Kalau tujuannya dipamerkan ke mereka yang nggak mampu/mau mengikuti perkembangan smartphone, memang nggak efektif. Nggak kepikiran ke situ :p Aku nulisnya melihat diriku sendiri, sih. Aku kan malas mamer-mamerin apa-apa ke keluarga. Bukan karena aku rendah hati, cuma males aja (ini ceritanya panjang). Aku biasanya beli-beli sendiri, menikmati-menikmati sendiri bacaanku. Berbagi pun paling cuma dengan istri. Ternyata, ada sudut pandang lain. Nanti artikelnya kutambahi sudut pandang “berbagi bacaan” ini 🙂

      Nuhun, feedback-nya, Teh.

      Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Betul, Mbak. Itu yang aku yakini. Dulu juga banyak kan yang ragu kualitas kamera digital. Katanya hasilnya nggak bakal setajam dan sedramatis kamera dengan film analog (yang harus dicuci cetak itu). Sekarang? Hampir semua fotografer pakai digital, hihihi. Ini cuma masalah kebiasaan.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge