Kategori
review

Menginap 3D-2N di Hotel Kurnia Blora, Jawa Tengah

Selain koneksi internet, semua kebutuhan dasar saya tercukupi di Hotel Kurnia Blora Jawa Tengah, dengan tarif yang murah.

Menginap 3D-2N di Hotel Kurnia Blora, Jawa Tengah

Setelah lelah berbulan-bulan menyelesaikan dua buku dengan total sekitar 138.000 kata, saya ingin kabur sebentar. Liburan sejenak! Tidak perlu ke tempat jauh, karena masih banyak tanggungan juga di rumah. Saya juga tidak tertarik dengan kota-kota wisata yang terlalu mainstream. Singkat cerita, pilihan akhirnya jatuh ke Blora, Jawa Tengah.

Seperti biasa, saya mencari kamar hotel melalui Agoda atau Traveloka. Sayangnya, saya tidak menemukan satu pun penginapan di daftarnya. Yang terdekat adalah hotel di daerah Cepu. Itu masih jauh dari Blora. Harganya pun mahal (bintangnya cuma satu tetapi 600.000 per malam).

Saya pun menggunakan cara lama: browsing untuk mengumpulkan alamat dan telepon penginapan-penginapan. Menghubungi lima hotel untuk komparasi, saya akhirnya booking Hotel Kurnia Blora.

Tempat parkir tamu Hotel Kurnia Blora

Penginapan ini kami pandang memiliki harga dan fasilitas terbaik di antara hotel-hotel melati lain di Blora. Oh ya, saya menginap di sini pada 29-31 Maret, bersama istri dan anak.

Poin Minus Hotel Kurnia Blora

Teras masing-masing kamar Hotel Kurnia Blora

Tiba di Hotel Kurnia, waktu sudah menunjukkan pukul 17.04, dan kami belum salat Asar. Saya langsung kecewa dengan penginapan berklasifikasi hotel melati-2 ini. Karena begitu saya tanya sajadah, penjaganya (resepsionis sekaligus room service) langsung menjawab cepat, “Tidak ada sajadah, Mas. Soalnya saya bukan muslim.”

Hah? Memangnya hospitality dan professionalism harus sama agamanya? Wah, belum-belum sudah begini.

Namun, begitu masuk kamar, kami lihat di plafon hotel ada panah arah kiblat. Akhirnya, saya dan istri salat dengan kresek yang dijajar-jajar sebagai sajadah. Beberapa menit kemudian, saya melihat seorang pegawai salat Magrib menggunakan alas koran di ruang resepsionis. Saya jadi bertanya-tanya, “Apakah sajadah tergolong barang haram di sini?”

Beginilah kondisi interior kamar Hotel Kurnia

Lantai kamar kami memang bersih. Hanya, di lantai, saya menemukan batang lombok dan (maaf) tahi cicak yang sudah mengering. Bukan masalah besar, tetapi sempat membuat jijik.

Kekecewaan berikutnya, KTP saya ditahan selama tinggal di situ, padahal saya bayar lunas di muka! Katanya, “Sudah biasa, Mas, KTP disimpan pihak hotel. Semua hotel juga begitu.”

Ah, rupanya anak muda ini kurang piknik dan jarang menginap di hotel. Memangnya KTP itu tidak bisa difotokopi? Kenapa main sita macam saya tak bayar saja? Namun, ya sudahlah. Toh, rasanya saya tidak bakal membutuhkan KTP itu selama di Blora.

Kekecewaan lainnya, ternyata Hotel Kurnia juga tidak punya peta wisata Blora. Fotokopiannya pun tidak ada. Sudah begitu, resepsionisnya tidak tahu apa-apa tentang wisata sekitar, apalagi jurusan-jurusan angkot atau bus. Alasannya, “Saya bukan orang sini.” Haduuuh…

Masih ada kekecewaan selanjutnya. Antara lain water heater yang tidak berfungsi, sehingga anak saya harus mandi dengan air dingin selama menginap di sana. Staf hotel berjanji akan memperbaiki, bahkan sudah memperbaiki beberapa saat kemudian. Namun, air di shower tetap dingin sampai tiba waktunya kami check-out.

Lagi-lagi, saya mengalah. Karena suhu Kabupaten Blora tidak dingin, mungkin sama panasnya dengan Surabaya. Jadi, kami pun terbiasa mandi air dingin, termasuk anak saya yang masih berumur 2,5 tahun.

Ranjang twin yang sengaja kami dempetkan

Selain itu, sepertinya air di Hotel Kurnia Blora dari sumur, bukan PDAM. Selain sumur tersebut kelihatan jelas di depan jendela kamar kami yang lebar, terlihat juga dari banyaknya kerak di ember mandi. Juga, ketika saya menampung air keran di wastafel putih, warnanya tampak keruh kekuningan khas air sumur. Meskipun air itu tak berbau, tak berasa, dan tidak kotor (oleh jentik, serat lumut atau pasir).

Oh ya, pesawat telepon tidak ada. Ya, namanya juga hotel melati. Ini membuat tamu penginapan harus berjalan ke lobi kalau butuh sesuatu. Untung, kamar saya di depan ruang resepsionis. Kalau jauh di belakang atau di lantai dua, alamat sengsara, tuh!

Rasanya, penginapan ini agak jorok dan semrawut, banyak sampah di halamannya, cat pagar dan palangnya mengelupas, tulisan “Hotel Kurnia” hampir pudar, seolah ini penginapan yang sudah tua sekali (meski tidak sampai muncul kesan angker bagi kami).

Pemandangan Jalan Pemuda Blora dari jendela kamar kami

Alangkah bijaknya bila pemilik Hotel Kurnia Blora lebih punya kepekaan artistik. Bukan sekadar berorientasi pada layanan bed & breakfast. Jangan gara-gara ini hotel melati, lantas dibuat asal-asalan saja. Toh ketika saya berjalan-jalan ke sekitar, ada juga beberapa hotel melati yang terlihat elegan (setidaknya dari luar).

Poin Plus Hotel Kurnia

Kamar mandi dalam Hotel Kurnia Blora

Alasan pertama yang membuat kami memilih penginapan ini adalah karena lokasinya strategis, di pusat kota. Dekat dengan stasiun. Kami bertiga naik becak bertiga dengan ransel dan tas karier yang berat, tukang becaknya cukup semringah dibayar hanya Rp5.000. Terminal juga relatif dekat. Mau naik bus, minibus, atau angkot? Tinggal jalan 100-200 meter, lalu cegat saja di jalan.

Banyak pula yang jual makanan di sekitar Hotel Kurnia Blora: penyetan, martabak/terang bulan, siomay, warteg dengan aneka menu, toko oleh-oleh khas Blora, kios pulsa, dan sebagainya. Sayangnya, tidak ada bakul sate atau soto blora di dekat-dekat sini. Padahal, itu yang kami incar sejak dari Surabaya.

Kehabisan duit? Tak perlu khawatir. Ada setidaknya dua bank di sekitar Hotel Kurnia Blora. Berjalanlah ke timur sekitar 20 meter, ada kantor Bank Jateng dengan fasilitas ATM Bersama. Lebih jauh sedikit, sekitar 50 meter, ada kantor BCA dengan banyak bilik ATM.

Lingkungan Hotel Kurnia sepertinya aman, jauh dari kriminalitas, karena di seberangnya berdiri Komando Distrik Militer (Kodim) 0721/Blora. Setidaknya, penjahat akan segan mau macam-macam di daerah ini, hehehe….

Tarif kamar-kamar Hotel Kurnia Blora tergolong murah. Kelas I Rp200.000 (pendingin AC), kelas II Rp125.000 (AC), dan kelas III Rp75.000 (menggunakan kipas angin). Kami memilih kelas I. Dua ratus ribu sudah dapat kamar yang lumayan luas, kamar mandi dalam, dengan pancuran dan penghangat air (yang ternyata tidak berfungsi itu), ber-AC, ada televisi tabung (stasiun nasional dan lokal), dan kulkas mini.

Televisi, kulkas mini, dan paket sarapan Hotel Kurnia Blora

Sarapan cukup cepat tersaji dan lumayan enak. Berupa tiga lapis roti bakar yang diisi cokelat dan selembar keju, ditambah telur rebus. Itu untuk dua orang, jadi rotinya enam lapis dan telurnya dua butir.

Kemudian, ada dua botol air mineral Cleo berukuran 600 ml, beberapa saset kopi instan Good Day, beberapa kantung gula pasir, dan setermos air panas. Selain roti, semua itu diganti dua kali tiap hari.

Bagaimana dengan koneksi internet? Ada wi-fi di tiap kamarnya. Walaupun akhirnya saya tidak memakainya sama sekali karena kualitas koneksinya payah.


Dengan segenap kekurangan dan kelebihan di atas, apakah saya merekomendasikan Hotel Kurnia Blora?

Selain koneksi internet, semua kebutuhan dasar saya tercukupi di Hotel Kurnia Blora Jateng. Meski demikian, saya tidak sampai mengacungkan jempol untuk penginapan ini. Secara umum, saya hanya memberi poin 6/10 untuk Hotel Kurnia Blora.

Hotel Kurnia Blora Regency, Central Java

  • Alamat: Jalan Pemuda 51, Blora, Tempelan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah 58211 (Google Maps)
  • Telepon: +62 296 531123

Oleh Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

5 tanggapan untuk “Menginap 3D-2N di Hotel Kurnia Blora, Jawa Tengah”

Hehehe,…

Sudah minta ijin nggak menampilkan nama hotel ini. Jangan2 nanti dituntut mencemarkan nama baik hotel. Hehehe. Saya salut dengan pilihanmu yang tidak mainstream. Ya, betul. Saya ingin juga seperti ini. Tapi tidak terlaksana. Seperti keinginan saya mengunjungi semua kota di Jawa Timur. Ternyata sampai seumur ini masih ada beberapa kota yang belum pernah saya kunjungi seperti Pacitan dan Bondowoso.

Selamat berlibur, mumpung anak-anak masih bisa diajak. Nanti kalau sudah besar, mereka sudah malas diajak liburan bareng.
Mochamad Yusuf recently posted..Berkunjung ke Sentra Produksi Senapan AnginMy Profile

Wahahaha, sejak kapan review butuh izin? Kalau seperti itu, orang-orang yang ngereview hotel di Agoda, TripAdvisor, Lonely Planet, dll. bisa dituntut semua dong! Hanya gara-gara mengutarakan penilaian dan perasaannya. Padahal, itu demi perbaikan juga.

Entahlah, aku malas aja rasanya kalau pergi ke Bali, Jogja, Malang, Jakarta, atau Karimun Jawa seperti orang-orang itu, Pak. Kecuali kalau memang ada urusan di sana. Atau, kecuali kalau ada yang bayarin, hehehe. Tapi santai saja. Liburan kan tidak pakai deadline atau target-targetan. Yang penting… happy.

Ya, mumpung ini belum ada bayi lagi juga. Ini aja Kiara sudah bandel banget. Nggak mau anteng, pinter memanipulasi keadaan, pandai membantah! Tambah lama, orangtuanya tambah kerepotan. Dulu repot gendong, sekarang repot ngatur. Haduuuuh…

Balas

jadi cuma poin 6 dari 10 ya,
kalau cuma dapat poin 6 berati masih kurang recomended.

thank informasinya mas, bisa buat pertimbangan kalo pas main ke blora.

Kalau poinnya masih di atas 5 sih masih recommended. Tapi ya dengan keterbatasn-keterbatasan tadi 🙂

Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.