Menjadi Muslim yang Tidak Bergantung pada Nonmuslim

Di suatu siang yang terik, saya berboncengan dengan seorang teman membelah Jalan Diponegoro, Surabaya. Beberapa rumah makan tampak tutup, karena saat itu bulan puasa. Tapi beberapa lainnya tetap membuka pintu, sehingga kami bisa melihat menu dan orang-orang yang sedang bersantap di dalamnya. Pemandangan biasa yang harusnya tak terlalu menggoyahkan ibadah puasa kami. Tapi, tanpa disangka, teman saya mempermasalahkan itu. “Kenapa sih mereka masih nekat berjualan? Kok nggak menghormati yang berpuasa!” katanya.

Geli juga saya mendengarnya. Sekadar catatan, teman saya itu lulusan magister di bidang agama Islam. Sejak SD, dia hidup di lingkungan pesantren. Praktis, seumur hidupnya hanya bergumul dengan orang-orang saleh-salehah. Lingkungan yang sangat kondusif, sebenarnya! Namun, jika tidak diantisipasi dengan memperkaya pergaulan, saya rasa ada sisi negatif dari “keterkungkungan” tersebut: kita tumbuh jadi seperti anak manja yang sedikit-sedikit menggerutu, sedikit-sedikit mengadu, terutama ketika orang-orang nonmuslim cuek atau tidak tahu bagaimana menghargai Islam.

Kenapa sebagai muslim kita begitu manja dengan meminta (bahkan sekelompok orang terkadang memaksa) orang-orang nonmuslim menghargai kita? Kenapa kita tidak memilih menjadi muslim mandiri yang kuat, yang dibantu atau tidak, tetap bisa istiqamah? Coba bayangkan bila kita tidak lahir di Indonesia atau di negara-negara muslim, mengharap bantuan atau toleransi dari orang-orang nonmuslim pasti hanya akan berujung kesia-siaan.

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Jerman untuk menghadiri sebuah konferensi internasional. Jerman adalah negeri yang jangan diharapkan islami. Tentu saya mengalami kendala di sana. Seperti, tidak yakin mana makanan yang mengandung babi mana yang tidak (atau setidaknya daging-daging dari hewan yang tidak disembelih dengan basmalah), jadwal salat yang “aneh”, tidak disediakan tempat dan waktu buat salat (karena konferensinya seharian memang padat), dsb.

Bagaimanapun, saya tidak merasa perlu mengharapkan belas kasih atau fasilitas dari panitia yang kebanyakan nonmuslim itu. Ya, untung-untung kalau dibantu. Sekadar dikasih tahu, “Oh, tadi ada yang diam saja, tapi lalu bergerak-gerak aneh (salat, maksudnya) di bawah tangga sana,” pasti saya berterima kasih sekali. Tapi, tidak mereka bantu pun saya takkan mencibir. Masih banyak kok ikhtiar yang dapat dilakukan.

Saya, misalnya, berusaha berkenalan dengan orang-orang berwajah Arab untuk bertanya-tanya tentang jadwal salat di Jerman dan kiat-kiatnya. Meskipun saya akhirnya kecele karena sebagian dari mereka ternyata ikut berjingkrak-jingkrak di diskotik, minum sampanye, dan tidak salat. Usaha lainnya, saya menginstal beberapa aplikasi Android di ponsel, mulai dari aplikasi jadwal salat di seluruh dunia, penentuan kiblat, letak masjid, sampai restoran halal yang terdekat dengan posisi saya, plus review-nya. Selebihnya, iyyaaka nasta’iim, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Saya pun merasakan puasnya menjadi muslim yang mandiri, yang tidak menolak namun juga tidak bergantung pada uluran tangan orang-orang nonmuslim!

Sekadar berbagi ilmu yang secuil, saya kira, jalan pertama untuk menjadi muslim yang mandiri adalah dengan memahami ada budaya lain di luar Islam yang telah kita akrabi selama ini. Bahkan sama-sama Islam, belum tentu kita satu pandangan. Percayakah Anda, bahkan beberapa teman saya enteng saja minum alkohol, makan babi, dsb. Padahal mereka muslim yang cerdas. Diingatkan? Wah, malah bisa jadi pertengkaran!

Makanya, setiap kali terbentur dengan perbedaan, saya tidak ambil pusing. Bukan lantaran tidak peduli, tapi karena memaklumi, dunia ini memang ditakdirkan hadir dalam keanekaragaman. Lihatlah sekeliling Anda. Dari sudut pandang keimanan dan ketakwaan saja, ada banyak golongan orang. Saya menemukan setidaknya empat:

(1) Beriman, bertakwa
Tahu kan? Selain meyakini tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, orang-orang ini juga menjalankan perintah agama sambil menjauhi larangannya.

(2) Beriman, tidak bertakwa
Orang-orang di golongan ini percaya hal-hal mendasar seperti “Tuhan itu ada”, “agama itu baik”, dst. Tapi mereka enggan menjalankan kewajiban ibadahnya. Penyebabnya bisa bermacam-macam: kemalasan, frustrasi karena merasa doa-doanya tak pernah dikabulkan, kurang bersyukur, percaya bahwa tanpa repot-repot beribadah pun dia tetap dijamin masuk surga, salah menafsirkan sifat rahman-rahim Allah dengan pemikiran “Masa’ sih Tuhan akan sekejam itu menyiksa hamba-hamba-Nya di neraka?”

(3) Tidak beriman, tidak bertakwa
Bahasa sederhananya: atheis. Orang seperti ini sekarang tambah banyak saja. Teman-teman Prancis saya dulu mayoritas atheis, meski sewaktu kecil sempat dibaptis ala Katholik. Dan mereka selalu heran, kenapa di Indonesia orang diwajibkan mempunyai agama? Saya sudah lama menduga, dunia Barat yang menyembah nalar akan cenderung menjauhi agama. Tren serupa tentu bisa dengan mudah menjalar ke Indonesia, bahkan jauh sebelum zaman internet yang memberi kita kemudahan dalam menyebarkan wacana.

(4) Tidak beriman, bertakwa
Bagaimana mungkin orang yang tidak percaya bisa bertakwa? Ya mungkin saja! Merekalah orang-orang yang hanya memedulikan pencitraan. Mereka melakukan ibadah-ibadah yang kelihatan: salat Jumat, Tarawih, di bulan puasa mereka (terlihat) puasa. Tapi ibadah-ibadah itu tanpa jiwa, tanpa ketertundukan, tanpa bekas! Sebab, semua itu sejatinya dilakukan hanya supaya tetangga, kolega, atasan, bawahan, klien, fans atau rakyat melihatnya sebagai pribadi yang seimbang: sukses duniawi namun tak pernah lupa Tuhan.

Suka atau tidak, keempat golongan ini hadir di sekitar kita. Mari kita bergaul dengan semuanya, jangan maunya hanya berkutat dengan orang-orang tipe pertama. Dengan mengalami sendiri banyaknya perbedaan kepentingan dari setiap orang, insya Allah, pelan-pelan kita akan bisa menghilangkan sifat “manja” kita.

Sungguh, berharap orang yang bukan Islam menghargai Islam adalah sifat kekanak-kanakan. Karena kepentingan mereka sudah berbeda, kawan. Mari kita sama-sama mendidik diri menjadi muslim yang kuat dan mandiri. Sehingga ibadah-ibadah kita menjadi lebih terfokus pada ibadah itu sendiri.

NB: Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nurul Hayat Edisi 104.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge