Menyiapkan Pendidikan Anak dengan Emas

Menabung emas untuk jaminan pendidikan si buah hati

Menabung emas untuk jaminan pendidikan si buah hati

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti seminar tentang emas yang diadakan Pegadaian. Pembicaranya Rully Kustandar, penggagas konsep Berkebun Emas yang sekaligus seorang internet marketer. Tadinya saya kira akan dapat ilmu baru tentang cara membeli emas. Ternyata, seminar itu hanya bicara keunggulan-keunggulan emas (yang saya yakin sudah banyak orang tahu) dan program-program Pegadaian.

Bagaimanapun, seminar itu inspiratif juga. Membuat pikiran saya terbuka, bahwa kita bisa mengatur apapun kebutuhan jangka menengah dan panjang (di atas tiga tahun) dengan emas. Termasuk biaya pendidikan anak. Baguslah. Dengan begini, saya bisa menjauhi skema-skema pengelolaan dana pendidikan yang umumnya bersistem konvensional ribawi.

Pulang dari seminar itu, saya langsung mencoret-coret di kertas. Menetapkan alokasi emas untuk anak pertama saya, Kiara.

  • SD = 10 g
  • SMP = 25 g
  • SMA = 35 g
  • S-1 = 80 g

Jadi, total emas batangan yang harus saya miliki adalah 150 gram.

Anggaran ini tentu di luar SPP bulanan, biaya pelengkap (buku, seragam, les/kursus), dan daftar ulang. Tapi, perhitungan ini juga mengesampingkan peluang si anak mendapatkan beasiswa atau kebijakan Pemerintah menggratiskan biaya sekolah sampai kuliah.

Bagaimanapun, emas 150 gram rasanya cukuplah untuk menutup biaya-biaya dasar sekolah anak saya. Kalaupun ada biaya-biaya tak terduga nanti (dan saya yakin pasti ada), ya dihadapi saja di luar skenario emas ini.

Oh ya, hitungan di atas hanya buat keluarga saya lho. Kalau Anda merencanakan putra-putri Anda masuk sekolah internasional dan kuliahnya di Fakultas Kedokteran, apalagi Fakultas Kedokterannya di Eropa, satu kilogram emas pun belum tentu cukup. Jadi, sesuaikan hitungan di atas dengan idealisme keluarga Anda sendiri ya 🙂

Not for sale: Satu emas bisa untuk semua anak

Itu tadi 150 gram buat anak pertama. Bagaimana dengan anak kedua, ketiga, dan seterusnya?

Lho, buat apa berpikir anak kedua dan seterusnya? Emas 150 gram itu bukannya mau saya jual buat membiayai sekolah anak pertama. Emas itu hanya akan digadaikan! Inilah manfaat emas batangan: sampai kapan pun nilai gadainya takkan melorot dan habis (tidak seperti gadai mobil atau barang elektronik misalnya).

Anak masuk SMP, kita gadaikan emas 25 gram untuk pendaftaran, uang pangkal, dan biaya-biaya lainnya. Lalu untuk menebus emas yang tergadai, per bulan kita cicil. Sehingga beberapa bulan kemudian bisa lunas dan emas itu pun kembali ke kita. Emas yang sudah kembali itu bisa kita “sekolahkan” lagi ketika anak kedua giliran masuk SMP.

Terus seperti itu untuk setiap anak. Simpel kan? Tapi kita harus disiplin untuk menebus emas itu. Kemudian, jarak antaranak jangan terlalu mepet. Bisa ngos-ngosan membayar uang tebusan dan biaya titip per bulan di Pegadaian atau bank kalau tiap anak hanya berselisih setahun.

Namun kalau Anda tidak mau ribet membayar biaya-biaya semacam itu, Anda juga selalu bisa kok menjual emasnya. Konsekwensinya, setiap anak yang dilahirkan harus didukung dengan 150 gram emas (khusus untuk pos pendidikan). Dua anak berarti harus punya 300 gram, tiga anak berarti 450 gram, dan seterusnya.

Zero Inflation: Satu emas untuk kapan saja

Kenapa faktor inflasi tidak dipertimbangkan dalam hitung-hitungan di atas? Bukankah biaya pendidikan dari tahun ke tahun selalu naik?

Kalau Anda menanyakan itu, berarti Anda belum paham karakteristik emas 24 karat yang antiinflasi. Contoh gampangnya, hari ini kita bisa memborong 10 porsi besar pizza X dengan harga 1 gram emas. Tahun 2020 pun saya yakin harga 10 porsi pizza X masih setara dengan 1 gram emas, bahkan bisa saja lebih murah dari itu!

Harga-harga memang selalu naik. Tapi harga emas naiknya lebih pesat. Meskipun harga emas bisa stagnan atau turun juga, jika kita menengok sejarah, nilai tukarnya cenderung naik stabil dari masa ke masa. Selama bermilenium-milenium!

Jadi, ketika saya ingin menyekolahkan anak di SD A, SMP B, SMA C, dan Universitas D, yang saya lakukan cukup menyurvei satu-satu untuk memperoleh gambaran total biayanya sekarang. Tanpa perlu repot-repot menghitung biaya itu kira-kira tahun depan naik berapa, dan jadi berapa pada tahun anak saya masuk ke sana.

Cukup tanyakan biayanya tahun ini, lalu konversikan ke emas. Misalnya total biayanya 75 juta, berarti (saat ini) kurang-lebih setara dengan 150 gram emas. Lantas, segera belilah emas 150 gram itu. Kalau sedang punya uang sebesar itu, silakan beli tunai dan pastikan barangnya terpegang (bukan sekadar dalam bentuk sertifikat atau janji-janji).

Kalau sedang bokek, tidak ada salahnya juga membeli dengan sistem cicilan. Emas cicilan biasanya dibayar berdasarkan harga sewaktu akad ditandatangani. Saya merekomendasikan pembelian secara angsuran ini di Pegadaian atau beberapa bank syariah yang memiliki program pembiayaan kepemilikan emas.

Pendidikan anak hanya salah satu beban. Masih ada kebutuhan makan, listrik, air, gas, kontrak/cicilan rumah, asuransi kesehatan, transportasi, pulsa, gadget, hiburan, rekreasi, upgrade perabot, haji bagi yang muslim, dsb.

Semua itu bisa dipersiapkan dengan emas juga. Terutama untuk kebutuhan-kebutuhan tiga tahun ke depan atau lebih. Menabung emas malah bisa menjadi blunder kalau kebutuhan Anda tergolong jangka pendek. Apalagi bila Anda berencana menjualnya kembali saat tiba Hari H, bukan menggadaikannya. Karena kenaikan harga emasnya saat itu mungkin belum cukup signifikan.

Bagaimanapun, kebutuhan yang terpenting setelah sandang-pangan-papan, menurut saya adalah pendidikan anak. Tabungan untuk biaya SD sampai universitasnya harus sudah siap bahkan sebelum dia masuk TK. Supaya kita bisa lekas move on dan menabung untuk kebutuhan-kebutuhan besar lainnya.

Tapi ingat, menabungnya jangan dengan uang, melainkan dengan emas. Dan ingat juga, emas adalah objek zakat, jadi jangan lupa dikeluarkan 2,5 persennya per tahun.

One thought on “Menyiapkan Pendidikan Anak dengan Emas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge