Novel Alias: Antara Rinai, Greti, Eru, dan Jeruk

  • Alias: Harga untuk Sebuah Nama (sebuah novel)Judul: Alias: Harga untuk Sebuah Nama
  • Genre: Novel misteri-horor
  • Pengarang: Ruwi Meita
  • Editor: Mahir Pradana
  • Penerbit: Rak Buku
  • Tebal: iv + 236 halaman
  • Terbitan: 2015

Saya membaca novel Alias mulai pukul 00.25, dan menyelesaikannya pada pukul 3.07. Namun sebelumnya, saya sudah membaca lima bab awal dalam file .pdf yang dikirim oleh penulisnya sendiri. Membaca di tengah malam begitu, sumpah, bukannya saya bermaksud menantang unsur horornya. Tapi, memang kondisinya memaksa seperti itu.

Belakangan, pada jam menjelang tidur, anak saya suka mengajak “berolahraga”. Suasananya terlalu chaos untuk membaca buku. Bocah tiga tahun itu selalu heboh merecoki, “Itu foto siapa, Yayah? Itu burung apa, sih? Gagak, ya? Iya?” Kadang-kadang, itu dilakukannya sambil berusaha merebut si Alias.

Sebelum terjadi sesuatu terhadap novel yang bertanda tangan pengarangnya ini, saya putuskan batal membaca. Tidur saja. Lalu, bangun untuk membaca saat semua orang masih terlelap.

Untungnya, Alias tidak membuat saya bervisualisasi yang aneh-aneh dini hari itu.

Anda tahu, Alias ini bercerita tentang seorang novelis bernama Jeruk Marsala. Biasa dipanggil J oleh Darla, sahabatnya sejak kanak-kanak. J adalah seorang penulis romance yang laris. Namun ketika dia menulis menggunakan nama pena Rinai untuk novel-novel bergenre horor, ternyata karya alter-egonya lebih meledak.

Problemnya di sini bukan ego atau kecemburuan J terhadap nama aliasnya. Namun, si Rinai seperti menjadi benar-benar hidup setelah itu. Apapun yang ditulisnya menjadi kenyataan. Termasuk adegan-adegan pembunuhan di novel-novel best seller-nya. Bagaimana bisa?

Semua misteri yang membuat merinding itu dijabarkan dengan runut oleh Ruwi Meita. Seperti sungai di pegunungan, alurnya bersih, jernih, dan mengalir. Faktanya, saya lebih lancar membaca Alias ketimbang Misteri Patung Garam yang banyak dicampuri cerita masa lalu dan hubungan asmara antartokohnya.

Meskipun di Alias, Jeruk juga menjalin hubungan dengan Alan, pria metroseksual asal Jakarta. Metroseksual? Ya. Nanti, ada pula tokoh Mahameru alias Eru yang jago masak. Keduanya mengingatkan saya akan Kiri Lamari, tokoh pria yang juga cerewet, jago masak, dan terlalu peduli pada kesehatan di novel Misteri Patung Garam. Agaknya, penulis memang terobsesi dengan pria-pria semacam ini.

Bagaimanapun, hubungan antara Alan dan Jeruk digambarkan dengan porsi yang lebih pas. Makanya, saya lebih suka Alias dibanding setidaknya dua novel Ruwi Meita sebelumnya.

Membaca novel Alias, entah mengapa, ingatan saya spontan tertuju pada sosok Ilana Tan. Dia penulis best seller kesayangan Penerbit Gramedia yang tak pernah menampakkan diri ke publik. Bahkan di media sosialnya, tak pernah kita temukan fotonya.

Rumornya, Ilana Tan adalah kumpulan penulis atau editor. Atau, sekadar nama pena dari novelis lain yang sedang bereksperimen pasar. Entahlah. Yang jelas, menarik juga mengangkat misteri semacam ini ke dalam novel.

Bisa dibilang, Alias adalah sebuah metafiksi atau metanovel. Novel yang berbicara mengenai (penulis) novel. Suka atau tidak, setiap penulis pasti pernah tergoda untuk menceritakan profesinya sendiri dalam karyanya. Ini seperti selfie, dalam pandangan saya.

Saya bersama istri pun pernah melakukannya di novel Satin Merah (2010). Waktu itu, kami memadukan tema penulis sastra Sunda dan pembunuhan berantai. Stephen King malah sering menulis metafiksi semacam ini. Baca saja Misery, Bag of Bones, dll. Di kalangan penulis skenario pun ada film The Ghost Writer, Adaptation, dll.

Kembali lagi ke novel Alias. Saya begitu menikmati membacanya (juga menulis resensinya). Deskripsi-deskripsi mengenai penampilan tokoh, fashion, serta beberapa lokasi di Jogjakarta terasa riil. Gamblang, tanpa bertele-tele. Alur novel pun merambat cepat, tapi tidak terburu-buru.

Bagian favorit saya ialah dialog di rumah Eru. Jantung saya turut berdebar membaca bagian itu. Di sanalah, kejadian-kejadian yang terserak di beberapa bab terdahulu mulai bersinar benang merahnya.

Sayang, adegan tersebut harus dipungkas dengan klise. Sang tokoh ingin kabur, lalu kebetulan ada taksi yang melintas. Kebetulannya lagi, taksinya sedang kosong. Oh, rasanya adegan ini sering saya tonton di film-film Hollywood.

Bagaimanapun, subbab itu tetap merupakan bagian favorit saya di novel Alias. Bagian favorit berikutnya adalah epilognya. Meskipun teknik ini kerap diaplikasikan dalam film atau novel horor, tapi tetap saja menurut saya pas untuk mengakhiri Alias. Jempol!

Nah, sekarang, saya ingin memberi kritik untuk Alias. Boleh, kan?

Sembari membaca, sebenarnya saya mencatat beberapa kata, seperti “detil”, “rejeki”, “asik”, “jaman”, “sekedar”, dsb. Novel ini pun rasanya terlalu kikir menebar koma, seolah tanda baca itu berpengaruh terhadap penambahan biaya produksi, sehingga harus diirit sedemikian rupa.

Namun, lupakan printilan EYD itu. Ada yang lebih menarik untuk ditanyakan.

Misalnya, pertama, Inspektur Kemal berkunjung dan membeberkan dugaannya di depan hidung calon tersangkanya, lazimkah prosedur ini? Saya membayangkan bila masih sebatas dugaan, belum ada bukti, tapi pegawai KPK lancang mengumbar temuannya, apa si calon tersangka korupsi tidak kabur duluan atau minimal buru-buru menghilangkan barang bukti?

Juga, apakah sang Inspektur berhak mendobrak pintu (sebagaimana yang diancamkannya di halaman 219) tanpa surat perintah resmi Kepolisian? Tanpa adanya surat penggeledahan atau surat penangkapan?

Pertanyaan kedua, makhluk halus jenis apa yang bisa berbicara lancar dengan manusia? Maksud saya, berbicara secara langsung, alias tanpa perantara atau medium. Penasaran saja.

Bahkan makhluk ini, pertanyaan terakhir saya, kenapa gaya bicaranya sama seperti tokoh-tokoh lainnya di Alias? Warna suara para tokoh identik. Mulai dari Ela yang belia, Alan yang flamboyan, Darla yang gotik, hingga Uti Greti, nenek Jeruk yang mengidap alzheimer.

Ini yang saya sayangkan dari seorang Ruwi Meita. Cerita yang dia tulis bagus-bagus. Temanya selalu tak terduga. Namun, dialog-dialog tokohnya selalu keinggris-inggrisan. Sebenarnya, tidak masalah bila tokohnya memang bule atau lama tinggal di mancanegara. Tidak masalah juga bila yang bersuara seperti itu satu atau dua tokoh saja, bukan semua tokohnya.

Bagi yang belum bisa merasakan ini, coba ambillah beberapa dialog dan terjemahkan ke Inggris. Pasti mudah. Karena ungkapan-ungkapan dan sense-nya sudah mirip.

Dugaan ini diperkuat pula dengan beberapa kalimat yang mengindikasikan konsep “you”. Seperti di halaman 2, Jeruk berbicara kepada Uti Greti, “Kamu, Uti. Nenek tercantik di dunia.” Dan di halaman 231, Eru bertanya kepada Inspektur Kemal, “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”

Seorang nenek dan perwira kepolisian dikamu-kamukan? Wajar bila orientasinya dialek bahasa Inggris, karena memang hanya ada “you” di sana. Barangkali penulisnya memang fasih berbahasa Inggris. Tapi, ayolah, tokoh-tokoh ini kan orang Jogja (atau Solo untuk keluarga Eru). Masa gaya bicaranya seperti itu semua?

Tentu saja, ketiga pertanyaan itu tak perlu dijawab. Cukup dibaca dan dipertimbangkan. Itu pun kalau mau.

Pada akhirnya, inilah novel yang membuat saya angkat tangan, malas menebak-nebak, alias pasrah saja. Kalau Misteri Patung Garam, saya hanya perlu satu tebakan dari pertengahan novel, dan ternyata benar. Begitu pula di Kamera Pengisap Jiwa.

Di Alias, saya sebelumnya tidak menduga sama sekali siapa sesungguhnya si alias itu. Apalagi tentang bagaimana caranya membunuhi para korban sehingga bisa persis dengan cerita novel-novel Rinai. Misterius!

2 thoughts on “Novel Alias: Antara Rinai, Greti, Eru, dan Jeruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge