Pelukan dan Sentuhan Kulit ke Kulit

Ketika dunia semakin terasa berat dan kejam, pelukanlah yang membuat kita lebih kuat menjalaninya.Dulu sewaktu masih pengantin baru, saya dan istri sering berpelukan. Terutama ketika hendak tidur. Jangan ditanya rasanya. Seingat saya, tak ada yang mengalahkan nikmatnya tidur sambil dipeluk atau memeluk istri. Di sana, ada kenyamanan dan ketenangan yang membuat saya lebih cepat pulas.

Banyak penelitian menyebutkan, dekapan dari orang-orang terdekat memang dapat menciptakan mood positif. Pelukan bisa merangsang hormon oksitosin, dopamin, serotonin, dan endorfin yang membuat kita bahagia, stres berkurang, dan jantung menjadi lebih sehat.

Anjurannya, kita perlu berpelukan selama 10 menit dalam sehari. Katanya, ini resep gratis untuk mencegah penuaan. Siiiip!

Problemnya, kesempatan saya mencegah penuaan secara gratis itu jadi berkurang sekarang. Pasalnya setelah anak pertama lahir, kami malah jarang berpelukan. Maklum, ada penghalangnya.

Kiara tidur di tengah, sejak bayi. Posisinya menghalangi kami berpelukan. Sengaja kami letakkan di tengah supaya dia tidak ke pinggir dan jatuh. Sekadar catatan, Kiara pernah terjun bebas dari ranjang setinggi setengah meteran saat berusia delapan bulan. Sejak insiden itu, kami trauma.

Setelah berumur tiga tahun pun Kiara tetap menghalangi kami berpelukan. Kali ini bukan karena posisinya, melainkan karena tingkah dan mulutnya. Tidak jarang, dia memisahkan kami seperti wasit melerai dua petinju yang bergumul di atas ring. Jadi pahlawan kesiangan begitulah.

Misalnya, dia selalu berusaha melindungi bundanya kalau saya coba-coba menyergap istri saya. “Yayah, niiiiiih…!” begitu tegurnya. Entah protektif, entah posesif, dia juga suka menanyai bundanya dengan curiga, “Itu tadi diapain sama Yayah? Hah? Diapain?”

Kelakuannya ini sering membuat kami terpingkal-pingkal.

Sampai umur empat tahun, si anak masih “cemburuan” ketika melihat kami berpelukan. Mungkin dia seperti merasa dicuekin.

Kalau itu kami teruskan, dia bisa membuat ulah. Contohnya dengan mengutak-atik laptop atau ponsel saya, membukai buku-buku koleksi kami, atau main sendiri dalam diam (yang membuat kami jadi merasa ada yang aneh). Pokoknya, ada saja akalnya untuk “memisahkan” kami.

Akhirnya, kami mengalah. Ya sudahlah, jangan dulu berpelukan atau bergumul di depannya, di depan si penghalang itu. Seiring bertambah dewasanya Kiara, insyaallah, kelak dia bisa memahami bahwa pelukan itu bukan hanya baik untuk dilakukan, melainkan juga wajib!

Namun dewasa juga belum, sudah datang penghalang lainnya. Terutama pasca kelahiran Akira, anak kedua kami. Aduh. Resmilah status saya sebagai jablai yang fakir pelukan.

Untungnya, belakangan Kiara tidak protes kalau saya peluk sebelum tidur. Dia juga tidak jarang memeluk saya dari belakang. Adiknya yang masih bayi juga terkadang tiba-tiba menggelinding dan menempel dekat-dekat tubuh saya.

Ini, di luar dugaan, ternyata efeknya sama dengan berpelukan dengan istri! Saya juga baru menyadari bahwa sekadar sentuhan kecil (dari orang-orang yang saya sayangi) pun bisa menimbulkan perasaan tenteram.

Ketika tangan hangat Akira menyentuh punggung saya, misalnya, saya juga merasakan kenyamanan. Barangkali saat itu pasokan hormon oksitosin, dopamin, serotonin, dan endorfin dalam tubuh saya juga sedang melonjak.

Bukan hanya itu! Terkadang, mereka juga menendang-nendang saya dalam tidur. Atau, kaki-kaki mungil itu tanpa sadar menindih saya. Tangan-tangan itu pun tak jarang mencubit-cubit kulit saya.

Saya menikmati semua itu. Karena selain merasa nyaman oleh sentuhan dari kulit ke kulit tadi, rasanya juga seperti dipijat saja. Membuat saya semakin mengantuk. Tidak tahu lagi kalau mereka bertambah berat dan kuat nanti.

Yang jelas, saat ini, saya suka ketika istri maupun anak-anak saya menyentuh saya, kulit ke kulit, baik melalui dekapan, tindihan, cubitan, maupun tendangan ringan (yang tidak disengaja tentunya).

Saya baru risih dan tidak nyaman dengan sentuhan-sentuhan semacam itu hanya ketika sedang sakit, kegerahan, atau kebelet BAB/BAK, hehehe…

Terus terang, saya agak terlambat menyadari keajaiban sentuhan afektif dan pelukan ini. Mungkin karena saya tidak lahir dari keluarga yang biasa berpelukan. Di keluarga orang tua saya, bahkan untuk momen-momen perayaan atau emosional sekalipun, kami lebih banyak mengekspresikannya melalui mimik wajah dan tingkah laku, bukan dengan pelukan.

Namun sekarang, rasanya saya perlu memulai tradisi berpelukan di keluarga kecil ini. Karena ketika dunia semakin terasa berat dan kejam, pelukanlah yang membuat kita lebih kuat menjalaninya. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge