Reaksi Negatif Teman atau Saudara Ketika Kita Berbisnis

Tidak perlu menjadi pebisnis sukses untuk sekadar mengamati berbagai reaksi teman atau saudara dekat saat tahu kita berbisnis. Ada yang negatif, ada yang positif. Beberapa mendukung usaha kita, meskipun cuma sebatas omongan. Beberapa mendukung tanpa banyak omong, alias langsung membeli dari kita. Untuk saudara dan teman dekat yang sudah bersikap positif, saya ingin mengucapkan terima kasih.

Reaksi Negatif Teman atau Saudara Ketika Kita Berbisnis

Namun, yang saya bahas di sini justru yang negatif, hehehe….

Jangan salah, ada, lho, teman atau saudara yang menganggap kita tidak cukup layak untuk meraup untung. Sehingga apapun dagangan kita, berapapun harganya, mereka selalu tidak terima dan menganggap kita “serakah”. Menurut pengalaman saya, sikap tidak terima ini akhirnya mewujud dalam setidaknya lima tipe karakter.

(1) Tipe “Ah, Dia Nggak Mungkin Berhasil”

Ini tipe yang paling datar. Dia merasa kita tidak akan mampu, sambil diam-diam berharap kita gagal. Nah, ketika kita tidak kunjung gagal, dia pelan-pelan menjauhi kita. Atau membenci kita. Tahu-tahu, hubungan merenggang tanpa kita tahu sebabnya.

Namun, saya tidak keberatan dengan tipe ini. Karena artinya, secara tidak langsung dia mengakui dan mengagumi kita. Hanya, dia terlalu gengsi untuk mengucapkannya. Selain itu, tipe ini tidak bermuka dua. Dan potensi untuk menyakiti hati kita kecil sekali. Dia memang meremehkan kita, entah sampai kapan, tetapi pasif saja. Bandingkan dengan tipe-tipe lainnya.

(2) Tipe “Itung-itung Pelaris”

Ini yang paling umum, yaitu mereka yang suka minta gratisan atau diberi harga teman (baca: diskon gede). Kita jualan soto, maka dia tidak sungkan meminta soto gratis kepada kita. Biasanya alasannya, “Kan teman, masa harus beli, sih?”

Kalau kita berjualan jasa, lebih ngeri lagi alasannya. Contohnya, kita membuka usaha jasa pijat refleksi. Selain merasa teman tidak harus membayar, orang-orang berkarakter ini akan menambahkan, “Toh kamu nggak keluar biaya apa-apa untuk memijat, kan?”

Orang-orang yang tidak punya kepekaan seperti ini tidak pernah tahu susahnya mengembangkan bidang yang kita geluti. Atau, tidak mau tahu. Mungkin dia hanya terlalu lama menjadi karyawan (yang menganggap semua orang hidupnya dari gaji rutin), sehingga bisnis serius kita dianggap sampingan yang iseng-iseng berhadiah.

Nanti dengan temannya yang jual pulsa, dia akan minta pulsa gratisan. Dengan temannya yang jualan kue, dia akan minta tester melulu. Teruskan saja begitu. Cepat atau lambat, akan kena batunya ketika nanti dia sendiri terpaksa harus berjualan.

(3) Tipe “Beri Tahu Resepmu”

Orang bertipe ini, ketika melihat kita berbisnis jasa semir sepatu, misalnya, dia akan merendahkan, “Mana ada duitnya? Ide bisnismu nggak masuk!” Namun begitu bisnis itu mulai laris, dia pelan-pelan akan merapat, “Ajari aku cara mengembangkan usaha jasa semir sepatu, dong, sampai bisa sukses seperti kamu.”

Yang seperti ini beberapa kali saya temui akhir-akhir ini, baik di dunia nyata maupun di inbox Facebook dan Instagram. SOP saya untuk ini adalah tidak menanggapinya.

Pertama, karena buang-buang tenaga mengajari orang yang sejak awal passion-nya bukan di sana. Saya yakin, dia pasti mundur teratur begitu saya beber to-do list-nya. Kedua, saya bukan guru dan mengajar bukan gairah saya. Ketiga, sungguhpun saya guru, ingat, guru pun dibayar!

(4) Tipe “Traktirannya, Dong!”

Dia bukan pembeli kita, tetapi juga bukan pencela. Hanya, ketika kita berhasil melewati milestone tertentu, dia akan berteriak, “Selamat! Makan-makannya kapan?” Bila dia sebelumnya memang berandil dalam keberhasilan itu, tidak apa-apa. Bila dia cuma basa-basi, juga tidak apa-apa.

Masalahnya, dia yang tidak berjasa apa-apa itu ngotot ingin ditraktir. Kalau dibercandai, kata-katanya malah nyelekit, “Dasar pelit! Hidupmu nggak barokah kalau pelit-pelit gitu. Nggak pernah beramal, sih!”

Lha, kok malah berkhotbah soal amal? Apa saya perlu menunjukkan berapa pengeluaran bulanan saya untuk amal supaya mulutnya terbungkam? Kan sama konyolnya, kalau begitu.

(5) Tipe “Asetmu Asetku Juga”

Ini lebih kocak lagi. Katakanlah saya berdagang es puter. Setiap hari, saya berkeliling kompleks menjajakannya. Semakin lama, semakin banyak pembelinya. Tiba-tiba, orang ini datang dan bilang, “Wah, laris, ya? Aku kepengin jualan es puter juga. Bisa nggak kamu bikinin gerobak dorong kayak gini buat aku?”

Gubrak combo, nih! Sudah tidak kreatif, tidak punya keterampilan, tukang sontek, pemalas pula!

Dikiranya membuat gerobak itu simsalabim, tak perlu proses eksperimen panjang, dan langsung jadi tanpa melewati kegagalan-kegagalan. Ujug-ujug, minta dibuatkan. Gratisan pula!

Pernah, saya mendapat surel ajaib. “Mas, aku penggemar karya-karya sampean. Aku ingin belajar nulis thriller juga. Jika berkenan, tolong sampean kirimi aku softcopy naskah pertama dari novelnya, kemudian naskah terakhir. Biar aku bisa belajar bagaimana tahap-tahapnya.”

Ini semua sebenarnya masalah “etika” dan “kemampuan berempati”. Tanpa memiliki keduanya, secerdas apapun seseorang, setinggi apapun gelar pendidikannya, sekaya apapun dia, tetap takkan tertolong. Salah satu, beberapa, atau kelima tipe penyakit di atas tetap akan menjangkitinya. Terus kambuh, tanpa bisa sembuh.

Kalau kita menanggapi serius orang-orang semacam ini, kita yang rugi. Ini seperti teman yang resek bertanya, “Kamu dapat berapa mengerjakan hal-hal kayak gini?”

Cobalah menjawab dengan, “Banyak rupiah.” Niscaya suatu hari, dia butuh utangan, dia akan lari ke kita. Atau minta traktiran, sumbangan, jualan sesuatu yang tidak kita butuhkan, atau entah apa lagi. Sambil sesekali memberi khotbah tentang pentingnya beramal.

Namun bila kita menjawab “sedikit rupiah” atau “nggak dapat apa-apa”, dia akan mengajak kita bergabung dengannya, entah melamar kerja (seperti pekerjaan “luar biasa” dia saat ini), MLM dia, atau apalah. Minimal, dia akan memandang kita sebagai pecundang yang kalah derajat dengannya.

Tidak masalah apakah kita memang kalah derajat atau justru berada di atasnya. Tetapi, meladeni orang-orang seperti ini seperti makan buah simalakama. Serbasalah. Makanya, saran saya, tidak usah terlalu serius menanggapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge