Secercah Inspirasi dari Negeri Ginseng

Buku "Rahasia Bisnis Orang Korea"

  • Judul buku: Rahasia Bisnis Orang Korea: Keajaiban Ekonomi di Sungai Hangan
  • Penulis: Ann Wan Seng
  • Penerjemah: Edy Sembodo
  • Penerbit: Noura Books
  • Cetakan: I, Agustus 2007
  • Tebal: xi + 244 halaman

Sebelumnya, bangsa Korea Selatan (Korsel) dibayang-bayangi oleh kehebatan peradaban Cina dan semangat samurai Jepang selama lebih dari dua milenium. Tapi sekarang lihatlah bagaimana majunya bidang teknologi, otomotif maupun hiburan Korea.

Film dan kelompok musik Korea digilai-gilai anak muda kita, produk-produk hariannya (Samsung, LG, Daewoo, dll.) dominan di pasar kita, mobil-mobilnya (Kia, Hyundai, dsb.) berseliweran di jalanan kita, bahkan prestasi olahraganya mentereng (bulutangkis, sepakbola, dll.)

Tahukah Anda, bahwa 50 tahun lalu, Korsel adalah negara pecundang. Ia bahkan lebih memprihatinkan dibanding Indonesia di bawah Soekarno.

Maka menyimak bagaimana negara yang semula termiskin di dunia ini keluar dari kubangan lumpur menjadi cerita menarik. Kalau dibandingkan dengan Jepang dan Cina, Korsel yang dulu memang tidak ada apa-apanya. Tapi Korsel yang sekarang jelas sudah berdiri sama tinggi dengan macan dan naga Asia itu.

Jepang pernah dibom nuklir pada penghujung Perang Dunia II. Negaranya nyaris tamat pascatragedi tersebut. Namun kini Jepang menjadi salah satu negara dengan tingkat perekonomian yang disegani dunia.

Toh, kebangkitan negeri matahari terbit itu dinilai “tidak terlalu istimewa” jika ditilik dari karakter orang Jepang sendiri. Jepang punya sejarah bangsa yang panjang dan peradaban yang agung. Begitu pula Cina. Untuk ukuran negara-negara oriental yang besar, rasanya kebangkitan dari keterpurukan hanyalah soal waktu.

Namun Korea? Negeri ginseng ini awalnya hanya negara terbelakang yang terpinggirkan. Sempat dicap sebagai “pesakitan Asia” pula! Para penjajah bahkan tidak ada yang berminat mendudukinya, sebab memang tak ada apa-apa di tanah seluas hampir 99,000 kilometer persegi ini.

Segenap fakta pun melengkapi wajah bopeng Korea: pernah mengalami perang saudara yang menguras harta serta tenaga (tahun 1953-1962), tak memiliki sejarah istimewa, tidak pernah menjadi kekuatan besar di bidang perekonomian, militer, apalagi memiliki wilayah kekuasaan yang mengubah peta dunia.

Namun sejak tahun 1980-an, ekonomi Korsel melejit hingga 12% per tahun. Ini menjadikannya negara dengan angka pertumbuhan ekonomi terpesat di kolong langit. Korsel menyelesaikan semua kemelut ekonomi, hingga melunasi setiap sen utang-utangnya, dari jerih keringat sendiri.

Salah satu strategi mereka, mulai tahun 1960-an (pasca Perang Saudara), Korsel mengubah kebiasaan impor menjadi ekspor. Tujuannya untuk meredam inflasi. Ann Wan Seng, penulis buku ini, menjelaskan strategi tersebut pada bab 29, bab yang sepertinya merupakan inti dari buku berbahasa asli Malaysia ini.

Dari sudut lain, “Rahasia keberhasilan Korsel terletak pada etos dan budaya kerja rakyatnya. Bangsa Korea tekun bekerja melewati jam kerja biasa. Bangsa yang maju dan berhasil selalu memiliki jam kerja yang tidak kurang dari 14 jam. Cina dan Jepang telah membuktikannya. Bangsa yang membatasi jam kerja terbukti selalu berada dalam kemunduran dan tidak akan mencapai keberhasilan apapun. Inilah yang selalu dihindari bangsa Korea,” tulis Wan Seng di halaman 15-16.

Penyandang gelar Master di bidang Antropologi dan Sosiologi ini pun membongkar rahasia orang Korea dari sisi religi, mental, budaya serta ekonomi. Renyah, tanpa menciptakan kerut di kening pembacanya. Tidak hanya hal-hal yang bersifat wacana, Wan Seng juga melengkapi bukunya dengan tips-tips praktis bagi yang ingin menjajal bisnis di Korsel.

Apapun itu, menatap kebangkitan Korsel hingga menjadi negara industri dalam waktu relatif singkat dapat memberi harapan serta inspirasi pada bangsa kita untuk segera bangkit. Dan di buku ini, beberapa strategi bangkit dari orang-orang Koryo itu dibeber. Wan Seng pun seakan berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin, sekalipun bagi negara yang belum berkembang, untuk dapat menjadi semaju Korsel.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge