Thai Massage: Nikmatnya Pijat ala Thailand

Renggangan khas Thai Massage

Kenapa tiba-tiba bicara Thai Massage? Beberapa teman dekat pasti tahu, saya bukan pecandu pijat alias massage. Untuk masalah capek dan pegal, obat paling mujarab bagi saya adalah tidur. Alami, murah dan tidak merepotkan orang lain.

Tapi bagaimanapun, sebagaimana sebagian besar orang lain, saya tetap dapat menikmati saat tubuh ditekan-tekan dan diurut-urut. Dipijat itu tetap nikmat bagi saya. Saat melihat orang dipijat saja, baik secara langsung maupun sekadar menontonnya di televisi, saya bisa terbawa relaks dan mengantuk karena berempati pada posisi orang yang dipijat itu.

Makanya saya dulu juga rutin melakukan creambath dan pijat per 20 menit di mal-mal. Tapi begitu tahu, semakin rutin creambath atau pijat, semakin berkurang sensasi nikmatnya, saya tidak lagi punya agenda rutin. Sekarang, semua serba spontanitas. Kalau tidak sedang ingin, meskipun sudah setahun lebih, ya tidak berangkat. Kalau lagi ingin dan ada waktu, ya ayo!

Seperti kemarin, saat badan pegal dan pikiran penat, saya spontan mengajak istri untuk mencoba Thai Massage. Hm, sebenarnya tidak benar-benar spontan. Karena dari dulu saya memang penasaran dengan pijat ala Thailand itu. Dan kebetulan sewaktu jalan-jalan ke City of Tomorrow, saya sekelebat melihat gerai U Cool di lantai satu. Gerai ini menyediakan beberapa variasi pijat dan spa.

“Ini satu-satunya tempat terapi di Surabaya yang menyediakan Thai Massage lho,” klaim resepsionisnya.

Wah, sejujurnya, saya tidak peduli itu memang satu-satunya atau hanya salah satu. Yang jelas, saya ingin mencoba Thai Massage. Saya tahu bentuk terapi ini dari YouTube. Saya pun tahu bahwa Thai Massage adalah teknik pemijatan tanpa minyak dengan berfokus pada perenggangan dan penekanan.

“Tanpa minyak. Berarti nggak harus copot pakaian ya?” saya iseng bertanya.

“Hanya berganti pakaian. Itu pun kami sediakan.”

Saya mengangguk setuju.

Mereka lalu mengantar kami masuk menuju bilik-bilik. Musik tradisional Thailand segera terdengar, mengalun lembut tanpa henti. Udara sedikit pengap oleh harum yang sengaja disebarkan sebagai aroma therapy. Mereka kemudian memberikan satu setel kaos dan celana panjang yang kedodoran buat saya. Kainnya lemas dan tipis. Putih-putih. Sementara buat istri saya, kaosnya putih, celananya abu-abu.

Setelah siap, saya disuruh tengkurap. Wajah saya menghadap lubang di ranjang. Langsung menghadap gentong yang terus mengeluarkan aroma wangi di kolong ranjang. Wangi itu tidak terlalu tajam. Tidak menganggu. Jadi, tidak masalah.

Tiba-tiba, saya merasakan si terapis mulai memijat-mijat pergelangan dan telapak kaki saya. Hm, enaknya…. Sebuah awalan yang bagus.

Pijatan beralih ke betis, paha, lutut, punggung, belikat, pundak (pijatan di sini tidak pernah bisa saya nikmati entah mengapa), lengan, tangan, sampai kepala. Tekniknya bermacam-macam, mulai dari ditekan seperti pijat biasa, diinjak, dipukul, dipeluntir, sampai diregang. Jangan khawatir, semuanya nikmat! Setidaknya buat saya 80% nikmat, 10% biasa, dan 10% baru sakit.

Bagian yang sakit adalah sewaktu pinggang diputar lebih dari 180 derajat. Atau yang lebih “parah”, ketika punggung diregangkan hingga membentuk busur. Kalau Anda lihat foto di atas, saya beri tahu, itu gerakan yang masih bisa saya nikmati. Tapi saat posisi dibalik: si massager berada di bawah dan menyangga punggung saya dengan kedua dengkulnya… wah, wah, wah!

Ya, sebagaimana beladiri orang Thailand, Muay Thai, Thai Massage ternyata juga mengandalkan lutut dan sikut. Baik sebagai kuncian sebelum Anda dipeluntir atau diregang, maupun sebagai penekan atau pemijat tubuh Anda. Sebuah seni yang istimewa! Sebuah paduan unik antara pijat dan yoga.

Saya ingin menikmati setiap teknik kreatif dari pijatan ini. Sayang, si thai massager terus mengajak saya mengobrol. Saya jawab saja pendek-pendek. Biar dia tahu, saya adalah tipe pasien yang tidak bisa menghayati enaknya pijatan kalau disambi mengobrol. Pesan tersirat itu tersampaikan. Si pemijat akhirnya hanya bicara seperlunya. Seperti, “Permisi, saya pijat kepalanya, Kakak.” Atau, “Permisi, Kak, badannya dibalik dulu.” Atau, “Sudah selesai, Kakak. Mau minum apa? Lemon squash? Lemon tea? Jahe? Kunyit asam?”

Yah, tak terasa sudah satu jam. Saya puas juga. Demikian pula istri. Saya tidak tahu di kota Anda, tapi di Surabaya, tarif Thai Massage adalah Rp 85.000/jam/orang. Lumayan untuk mengobati rasa penasaran dan menyegarkan otot serta persendian tubuh. Terbukti, sampai rumah, tidur saya lebih pulas dari biasanya.

Silakan buktikan sendiri sensasi Thai Massage. Tapi, pastikan dulu Anda…

  1. Tidak punya sakit, infeksi, memar atau luka di kulit. Kalau Anda, misalnya, sedang terluka bakar dan harus diregang-regang begitu, pastilah sesi pijatan berubah jadi sesi penyiksaan. Selain itu juga kalau ada infeksi, Anda bisa menulari sang pemijat. Karena dia memijat dengan tangan telanjang, bahkan tanpa minyak apa-apa.
  2. Tidak sedang hamil, menjalani kemoterapi, pasca operasi, dalam proses pemulihan hernia, tumor, atau patah tulang. Ini jelas terlarang untuk melakukan Thai Massage.
  3. Tidak sedang cedera otot. Waktu saya dipijat kemarin, otot-otot saya sedang nyeri akibat beberapa hari lalu terlalu memaksakan diri berolahraga berat, padahal sudah setahun lebih tidak rutin berolahraga. Nah, saat dipijat, ditekan dan diregang, otot-otot itu terasa lebih nyeri. Membuat pemijatan di bagian hamstring saya tidak nikmat lagi.

Kalau tidak ada pantangan-pantangan itu, terutama yang pertama dan kedua, silakan coba pijatan khas negeri Siam ini. Mungkin benak Anda akan melayang-layang, atau merasa seperti petarung Muay Thai yang sedang diterapi sesaat sebelum bertarung.

Photo from thai-massage.org

17 thoughts on “Thai Massage: Nikmatnya Pijat ala Thailand

  1. Dina Begum

    Pingin cobaaa…. *Googling Thai Massage di Bekasi*
    Biasanya sih kalo lagi kepingin aku manggil tukang pijat langganan. Tapi aku pernah dipijat di sebuah mal dan pemijatnya rada kecewa. Pasalnya aku sama sekali enggak mengeluh atau kesulitan saat badan dipelintir-pelintir atau dilengkungkan ke belakang… hehehe…. Kayaknya dia mengharapkan ‘pasien’nya mengaduh atau menolak hihihi.
    Dina Begum recently posted..Segitiga Emas: Kembalinya Arsène LupinMy Profile

    Reply
  2. Rie

    Sejujurnya, aku nggak puas dgn Thai Massage ini. Punggung sih udah baikan, tp lengan, pergelangan tangan dan tangan masih sakit. Kaki juga masih pegel. Terus abis dipijat aku nggak bisa tidur nyenyak karena Penpen. Yah, Thai Massage cuma ngilangin pegal buat sementara aja, sedangkan pegel2 yg aku rasain sekarang itu bukan pegel biasa. Kecuali, mungkin, kalo di-Thai Massage tiap hari, hehehe.
    Rie recently posted..Mengungkap Rahasia SunyiMy Profile

    Reply
    1. indri

      thai it u perrnggangan capekk..tp kl u badan yg lg sakit n ngilu tlg lbh baik d massage ajj..

      Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    @Mbak Dina: Aku juga diem aja tuh waktu punggungku dibikin kayak jembatan. Tapi kalau sedikit lebih lama, pasti aku udah minta, “Pass aja! Pass!” Hehehe…. Tapi recommended deh! Nggak tahu lagi kalau buat yogi, mungkin sensasinya rada berkurang karena udah biasa dg gerakan2 “aneh” 😀

    @Cherie: Thai Massage setiap hari? Siapa takut! Tapi serahin ke aku dulu ATM-mu dan PIN-nya…. ;D

    Reply
  4. ellia

    Waaah.. Jadi pengen nyoba niih…
    Lumayan deket sama rumah.
    •̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃:D

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Coba saja. Tapi ingat, pria dg pemijat pria, wanita dg pemijat wanita ya… 😀

      Reply
  5. Mochamad Yusuf

    Sebentar… Cito itu Surabaya atau Sidoarjo sih? Kok satu2nya di Surabaya, padahal setahu saya Cito itu sudah masuk Sidoarjo. Hehehe.

    Saya sebenarnya jarang pijat. Bukan tidak suka. Cuma nggak mau keluar uang. Hehehe. Obat kecapekan ya seperti Brahm bilang: tidur! Tapi dulu saya dapat voucher pijak seperti ini. Yakni di sebuah mall di Surabaya. Ini asli di Surabaya. Hehehe.

    Wuih,… saat masuk rasanya seperti masuk ke markasnya gang2 mafia. Dan benar-benar dimanja. Setelah pijat selesai bisa milih mandi sauna, atau renang yang didalamnya seperti ada semburan air hangat. Atau bisa keduanya.

    Setelah itu tiba di rumah, tidur nyenyak sampai pagi. Sebuah kenikmatan hidup yang masih bisa saya ingat sampai sekarang. Pada waktu kita, saya dan istri, karena begitu nikmatnya dipijat ala bos2 mafia ini, berencana sebulan sekali ke sana. Tapi karena berbagai pertimbangan, khususnya uang hehehe, sampai sekarang tidak bisa ke sana lagi. Itu mungkin sudah tahunan. Hehehe.
    Mochamad Yusuf recently posted..Misteri Cinta & Jodoh (11): Apa Tanda Kalau Dia Jodoh Anda?My Profile

    Reply
    1. Brahm

      Cito ya Surabaya, Pak. Juanda itu baru Sidoarjo, hahaha….

      Kalau aku, jaga jangan sampai jd rutinitas. Soalnya kalau rutin ada dua kemungkinan yg sama2 merugikan: Pertama, ketagihan (ini bakal berat di ongkos). Atau, kedua, jadi “kebal” (kenikmatannya berkurang karena sudah biasa). Makanya sekarang spontanitas aja, nggak pakai agenda2 rutin.

      Tapi Thai Massage ini ya nggak sampai dimanjakan kayak bos2 mafia gitu, Pak. Wong cuma 85 ribu, hehehe…

      Reply
  6. Dona

    Saya agak cerewat dalam menerima pendapat.
    .. tapi setelah membaca karya nie… saya rasa … saya perlu bersetuju dengan awak.
    .. tahniah atas persembahan idea yang menarik.
    ..
    Dona recently posted..Tips Manjakan SuamiMy Profile

    Reply
  7. Pingback: Pelukan dan Sentuhan Kulit ke Kulit | Blog Brahmanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge