Kategori
pandangan

Apa Profesi Penulis Bisa Hilang Tergusur oleh Mesin?

Banyak profesi yang diprediksi punah digeser oleh robot di masa depan, termasuk penulis. Fenomena ini sudah dan sedang terjadi.

Apa Profesi Penulis Bisa Hilang Tergusur oleh Mesin?

Satu per satu, profesi di dunia ini akan digantikan oleh robot atau mesin. Contohnya, dulu orang merekrut staf layanan konsumen (Customer Service) untuk menjawab telepon atau obrolan tekstual dengan pelanggan. Sekarang, banyak perusahaan yang mendelegasikan tugas berulang tersebut kepada robot atau chat bot. Bukan hanya bisa chatting, robot semacam itu juga dapat melayani obrolan lisan.

Teknologi Google Assistant di ponsel Android kita mungkin bisa menjadi gambaran dari fenomena ini. Google Assistant memang teknologi canggih, tetapi sama sekali bukan sesuatu yang mewah. Bahkan anak saya yang berumur tujuh tahun sudah familier dengannya:

Google Assistant adalah robot yang diprogram dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Asisten virtual tersebut dapat kita ajak mengobrol. Walaupun belum sealami obrolan manusia, setidaknya Google terus menyempurnakannya.

AI Bukan Program Biasa

Keistimewaan AI tidak sebatas kecerdasan yang telah diprogramkan oleh penciptanya. Bukan sekadar mengaplikasikan “jika X maka Y”, AI memiliki insiatif belajar dengan machine learning system-nya yang mampu terus menyempurnakan diri.

AI kemungkinan besar tidak kita temukan dalam gim catur di ponsel atau laptop kita, meskipun si komputer tampak cerdas dan sulit dikalahkan. Level kecerdasan komputer di gim itu masih cenderung stagnan. Misalnya, terbagi menjadi Easy, Medium, dan Hard. Kalau kita memilih Easy, maka sepanjang permainan dan berapa kali pun dimainkan, tingkat kesulitannya tetap easy. Takkan mungkin tiba-tiba meningkat menjadi medium atau hard.

Bandingkan dengan pecatur AI bernama Deep Blue. Pada kisaran 1996-1997, jagat percaturan dunia pernah digegerkan dengan mesin catur garapan IBM tersebut. Waktu itu, saya masih SMA, tetapi ingat benar betapa Deep Blue bolak-balik mengalahkan Garry Kasparov, GrandMaster catur kelas dunia. Yang menarik, semakin sering Deep Blue bertanding, semakin pintar ia.

Itulah AI. Mirip manusia, prinsip practice makes perfect tampaknya juga berlaku di kalangan makhluk AI.

Lantaran karakter yang mirip manusia itulah, AI berpotensi mengambil alih profesi-profesi manusia. Gara-gara AI, banyak profesi yang diprediksi akan punah, atau setidaknya berkurang drastis, sebelum tahun 2030. Untuk sekadar menyebut contoh, teller, kasir, tukang ketik, agen travel, sopir, pilot, penerjemah, bahkan penulis.

Ya, Penulis Juga Bisa Punah

Sebagai penulis, saya juga pernah merasa di zona nyaman dan penuh penyangkalan. Saya hidup di ranah kreativitas dan seni penulisan. Pendeknya, creative writing. Hal-hal yang khas manusia begini mana bisa ditiru oleh mesin?

Namun, jika kita mau melihatnya secara lebih jernih, penulis pada dasarnya berkutat di ranah bahasa. Sedangkan bahasa, logika, matematika, dan analisis posisinya sama-sama di otak kiri.

Bukan otak kanan? Bukankah menulis itu masalah seni dan emosi?

Memang, pasti ada unsur-unsur seni dan emosi dalam penulisan. Tetapi para penulis yang mencari uang dari menulis, bukan sekadar hobi, umumnya lebih sering menggunakan otak kiri. Karena jika otak kirinya lemah, tulisannya pasti kurang logis, berbelit-belit (tidak efisien), dan ambigu (membingungkan). Tidak ada pembaca yang bisa menikmati tulisan-tulisan semacam itu, kecuali penulisnya sendiri.

Bahasa dan logika itu satu paket. Orang-orang yang bahasanya kuat, biasanya logikanya juga kuat.

Tidak percaya? Coba saja belajar bahasa pemrograman, seperti Python, .PHP, .html, atau lainnya. Seandainya logika Anda kurang kuat atau terlalu memakai otak kanan, bayangkan apa yang terjadi? Bisakah coding mengandalkan kemampuan seni, emosi, dan intuisi? Bisa, tetapi programnya tidak akan jalan 😀

Karena bahasa lebih dekat dengan ranah logika, dan logika merupakan sesuatu yang mudah sekali dipelajari oleh mesin, maka bukan mustahil suatu saat profesi penulis akan digusur oleh mesin.

Penulisan oleh Robot Sudah Terjadi

Tiap akhir tahun, WordPress melalui Jetpack mengirimi kita annual report mengenai statistik blog kita dalam bentuk tulisan yang asyik. Untuk memberi gambaran, biar saya cuplikkan laporan yang pernah saya terima:

… The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 170,000 times. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it …

Lihat, ini sebenarnya data biasa, tetapi disajikan dengan cerita yang dihubung-hubungkan dengan Museum Louvre. Kreatif, bukan? Siapa penulisnya?

Tentu saja mesin! Ada sekitar 75 juta pengguna WordPress. Jika annual report semacam ini ditulis manual oleh penulis manusia, butuh berapa orang dan berapa lama? Mesin penulis otomatis mengambil statistik blog kita, kemudian meramunya dengan pemanis-pemanis seperti Museum Louvre tadi.

Dengan cara yang seperti itu pula, mesin atau robot dapat dikaryakan untuk membuat laporan jurnalistik. Misalnya, untuk pertandingan sepak bola.

Penulis AI di Institusi Media

Pada 2010, saya pernah bekerja untuk portal sepak bola. Bukan hanya sebagai reporter atau penulis artikelnya, melainkan juga UX tester mendampingi programmer-programmer-nya ketika membangun portal itu. Sehingga, saya tahu, membuat artikel secara otomatis sebenarnya tidak sulit-sulit amat.

Bacalah laporan pertandingan bola di koran-koran. Isinya begitu-begitu saja, bukan? Tim apa melawan tim apa, skornya berapa-berapa, siapa yang mencetak gol, dari umpan siapa, menit ke berapa, siapa yang terkena kartu kuning atau merah, apa alasannya, dan seterusnya. Isi utamanya hanya itu.

Maka masukkan data dan angka itu, atau cukup suruh robot penulis meramban sendiri dari situs penyelenggara pertandingan. Dalam waktu tidak sampai lima menit, berita pun siap! Tinggal kirim ke editor manusia untuk memberi sentuhan akhir.

Dibandingkan penulis manusia yang membutuhkan setengah jam atau berjam-jam sekadar untuk menulis satu artikel, alternatif penulis AI jelas lebih efisien. Seandainya saya pemilik media itu, saya pun akan memilih menggunakan jasa penulis AI secara reguler. Betapa tidak, kontennya sama, informasinya sama, tetapi kerjanya jauh lebih cepat.

Ditambah lagi, penulis AI tidak perlu gaji, tidak pernah istirahat, stres, atau sakit. Mau berapa pertandingan pun, ia, “Siap, Bos!” Pertandingan-pertandingan di Piala Dunia, Olimpiade, Liga 1 Indonesia, Premiere League Inggris, La Liga Spanyol, Serie A Italia, atau apapun, beritanya akan langsung tersaji lima menit setelah wasit meniup peluit panjang. Menarik secara bisnis, bukan?

Jurnalisme robot semacam ini bukan masa depan lagi, sekarang pun sudah diterapkan. Beberapa media seperti Associated Press, Los Angeles Times, Washington Post, Bloomberg sudah memakainya. Di Indonesia, kalau tidak salah, ada Lokadata (dulunya Beritagar).

Ke depannya, AI akan semakin merajalela dalam memproduksi konten. Pasalnya, ia mampu menerjemahkan konten dari bahasa-bahasa lain sedunia, mengakses KBBI untuk menentukan mana kata yang baku dan mana yang tidak, lalu mengoreksi tulisannya sendiri, juga mempelajari gaya menulis manusia.

Penulis AI untuk Karya Fiksi

AI memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang. Jadi, kalau saya menginputnya dengan seratus novel Stephen King, ia bisa menganalisis pola penulisannya, pembangunan karakter protagonis-antagonisnya, alternatif-alternatif ending-nya, dan sebagainya.

Lalu, saya bisa memintanya, “Buatkan saya novel bertema ini, dengan tokoh A, B, C, D, sinopsisnya begini, dengan gaya Stephen Kinggo!”

Saya pun menunggu hasilnya. Setelah selesai, saya tinggal membaca dan mengeditnya. Selesailah satu naskah novel dalam waktu yang jauh lebih cepat dari proses normal.

Begitu juga kira-kira proses pembuatan novel The Day A Computer Writes A Novel. Naskah itu berhasil lolos seleksi tahap pertama dari juri The Nikkei Hoshi Shinichi Literary Award di Jepang. Novelet tersebut dikonsep oleh manusia, tetapi ditulis oleh AI.

Ya, penulis fiksi AI!

Jadi sebenarnya, semua spesies penulis, mulai dari wartawan, penulis iklan, bloger, penulis film, sampai novelis, dapat digeser dan digusur oleh robot atau mesin AI. Tidak apa-apa kalau kita belum bisa menerimanya. Toh dua puluh tahun lalu, akal kita juga belum bisa menerima ide membaca koran melalui ponsel.

Oleh Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.