(Aplikasi) Tempo yang Bandel

(Aplikasi) Tempo yang Bandel

Sejak SD, saya sudah membaca Majalah Tempo. Ayah saya rutin membelinya secara eceran. Sewaktu majalah ini diberedel untuk kedua kalinya pada 21 Juni 1994 (bersamaan dengan Editor dan Detik), kami sempat beralih ke Gatra, mingguan berita yang lain. Namun, kesannya tidak pernah sama.

Saat Tempo terbit kembali, dengan format berwarna, harga majalah pun membumbung. Tetapi herannya, ayah saya tetap bela-belain membelinya tiap terbit. Apalagi bila beliau bertugas ke luar pulau, pasti menyempatkan membeli majalah ini dulu di kios untuk bahan bacaan di lokasi proyeknya. Sehingga setiap beliau pulang, saya selalu menagih bacaan-bacaan fisik. Berita basi tidak mengapa. Saya terbiasa merapel beberapa edisi Tempo (dan Intisari) sekaligus.

Setelah ayah saya tidak bekerja lagi, otomatis tidak ada pendapatan dan tidak memiliki daya beli lagi. Di lain sisi, bandrol Tempo pun melangit seiring harga kertas yang kian membumbung. Dengan pertimbangan prioritas dan efisiensi, saya memutuskan tidak melanggan media cetak apapun hingga hari ini. Kalau versi digital, saya masih melanggan Kompas (harian), Koran Sindo (harian maupun mingguan), Kontan (harian maupun mingguan), Media Indonesia, Majalah Intisari, dan Info Komputer.

Di zaman digital ini, Tempo termasuk media cetak yang mampu beradaptasi dengan menyulap dirinya menjadi pabrik konten lintas media. Ia membuat portal (Tempo.co) dan aplikasi Android.

Melalui aplikasi tersebut, PT Info Media Digital mendigitalisasi isi majalah dan korannya, dan menjual paketnya dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Ini strategi marketing agar Tempo terus memiliki pembaca setia, terutama milenial (seperti saya) yang mulai malas membeli kertas.

Terus terang, saya sudah berhenti melanggan Tempo Digital sejak Juni 2019 lalu, karena kebanyakan koran dan majalah membuat saya pusing sendiri membacanya. Namun pengalaman lima bulan lebih melanggan Tempo Digital membuat saya lumayan mengerti positif-negatifnya. Inilah review Aplikasi Tempo dari sudut pandang saya.

Menu Aplikasi Tempo

Rubrikasi di Aplikasi Tempo adalah Politik, Teknologi, Bisnis, Metro, Olahraga, Bola, Travel, Otomotif, Gaya Hidup, Seleb, Cantik, Dunia, Investigasi, Pilkada, Sosial, Budaya, Lingkungan, Prelude, Tokoh, Laporan Khusus, Laporan Utama, Kolom, Kesehatan, dan Hukum. Sedangkan menunya, secara umum ada tiga, yaitu:

  • Kategori. Antara lain berisi semua isi Majalah Tempo, Koran Tempo, Tempo English (ini kurang-lebih terjemahan dari Majalah Tempo), dan portal Tempo.co. Untuk berita portal, gratis diakses. Sedangkan untuk majalah dan koran, kita hanya dibatasi mengakses lima artikel/berita. Kalau mau bebas mengakses, termasuk berita dari tahun-tahun pertama Tempo terbit di zaman baheula, kita harus membeli keanggotaan.
  • Artikel Tersimpan. Saya biasa menggunakannya untuk menyimpan berita/artikel menarik yang sekiranya saya butuhkan di masa depan. Kita bisa mengaksesnya kapan saja, selama keanggotaan kita belum kedaluwarsa. Jika sudah habis, dan suatau saat kita menyambungnya lagi, bagian ini masih bisa diakses.
  • Profil. Antara lain berisi status keanggotaan kita (Silver, Gold, atau Platinum), profil kita selaku pelanggan, tema-tema tulisan yang kita pilih (bisa diubah sewaktu-waktu), kontak Tempo, dan keterangan versi aplikasinya.

Keanggotaan di aplikasi ini tidak eksklusif, karena juga berlaku di portal Tempo.co, termasuk untuk mengakses Tempo Store. Jadi, untuk membaca berita/artikel, Anda bebas memilih di ponsel melalui aplikasi, atau di layar yang lebih lebar seperti komputer/laptop melalui browser.

Di halaman Profil aplikasi, juga ada tautan untuk berlangganan atau memperpanjang periode langganan, tetapi mengarah ke laman web. Padahal, bisa saja aplikasi ini dibuat lebih praktis dengan menambahkan menu Tempo Store. Bukan saja untuk urusan berlangganan, melainkan juga membeli aneka produk Tempo, seperti buku, hasil riset internal, merchandise, dan mungkin pendaftaran pelatihan Tempo Institute.

Aplikasi Gojek atau Traveloka saja tidak “malu” merambah penjualan pulsa eceran. Kenapa Tempo membatasi aplikasinya hanya pada tiga menu di atas, padahal punya produk-produk andalan lainnya yang juga relevan?

Pengalaman Membaca Berita lewat Aplikasi Tempo

Aplikasi ini lumayan cepat diakses. Tidak ada iklan yang mengganggu, karena mengandalkan sistem keanggotaan berbayar. Kita pun dapat mengakses hingga ke edisi perdana Tempo.

Sayang, tidak ada fasilitas searching. Jadi, jika ingin mencari sesuatu, kita harus hafal sesuatu itu dari Koran Tempo atau Majalah Tempo edisi kapan, baru kita klik majalah/korannya dan menelusuri halamannya satu per satu secara manual. Padahal, karena kontennya sudah digital, seharusnya bisa langsung search kata kunci.

Konten utama dari aplikasi Tempo adalah berita, artikel, dan cerpen dari produk-produk jurnalistik Tempo. Namun, tidak untuk diunduh dalam bentuk .PDF. Kita membaca dengan mengaksesnya melalui internet, seperti membaca isi situs web yang mobile-friendly. Jadi, jangan mengharap desain dan tata letak setiap berita sama dengan yang di majalah/koran fisiknya.

Penampakan konten di aplikasi jauh lebih sederhana, tetapi ramah di mata. Kita dapat mengatur ukuran fon, sehingga tidak perlu memperbesar atau memperkecil halaman secara manual, sebagaimana ketika kita membaca .PDF.

Art dan infografis Tempo, seperti bisa kita lihat di koran atau majalahnya, memang kreatif dan sering menggelitik. Tetapi infografisnya, terutama yang tulisannya kecil-kecil, membuat sakit mata. Apalagi bila infografis tersebut membentang hingga dua halaman koran/majalah. Sudah pasti itu sulit dibaca di aplikasi.

Namun, untuk kualitas konten dan gaya penyampaiannya, saya tidak pernah ada masalah. Gaya bahasa orang-orang Tempo dan caranya membahas atau menginvestigasi suatu persoalan sudah lama menjadi rujukan saya dalam menulis, baik sebelum maupun ketika menjadi wartawan dulu.

Sesuai slogannya, Enak Dibaca dan Perlu, konten-konten Tempo memang enak dibaca. Saya menikmatinya, kecuali artikel-artikel tentang riset sains (yang terasa sekali kalau terjemahan) dan tulisan-tulisan Goenawan Mohamad (yang saya sepertinya terlalu bodoh untuk memahaminya).

Pasang Karikatur Jokowi Berhidung Pinokio, Rating Tempo Drop

Bisa dibilang, Tempo adalah media nasional yang setia pada nilai, bukan pada golongan. Adakah media nasional yang setia pada golongan? Ada, dan mereka tidak malu-malu memperlihatkannya dengan alasan, “Di Amerika yang jawara demokrasi pun, media berpihak. Berati, menjadi partisan itu wajar-wajar saja!”

Media yang setia pada nilai, tidak pernah memandang person per person. Jika ada golongan (bisa pejabat, perusahaan, atau parpol) yang melenceng dari nilai yang dianut media tersebut, sudah pasti akan dihajar dengan kritik pedas. Seberapa pedas? Apakah gambar Pinokio untuk menggambarkan pemimpin negara diperbolehkan?

Menurut saya, silakan saja selama tidak menyinggung SARA (sebagaimana Charlie Hebdo di Prancis, atau beberapa media Barat yang enteng saja menghina Alquran, Yesus, atau simbol-simbol SARA lainnya atas nama freedom of speech).

Parameter berikutnya adalah apa kata Dewan Pers. Nyatanya, untuk kasus Pinokio, Dewan Pers mengatakan Tempo tidak melanggar kaidah maupun etika jurnalisme apapun. Jadi, masalahnya sebenarnya beres di sana.

Hanya, sebagian massa Jokowi masih gondok, “Berani-beraninya si Tempe ini menghina presiden!” Mereka lalu mengadili Tempo di Google Play Store. Rating aplikasi Tempo pun terjun bebas dari bintang empat koma hingga bintang 1. Diserbu begitu, bukannya mengkeret, Tempo tetap kritis terhadap pemerintah.

Tempo memang terkenal bandel. Bukan sekali ini ia menerima persekusi dan represi. Bahkan, saya catat, majalahnya sudah dua kali diberedel pemerintah ORBA, yaitu pada 1982 dan 1994.

Dari perspektif yang netral, hal ini sebenarnya semakin meneguhkan bahwa Tempo setia pada nilai, bukan pada golongan. Tempo menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi, dan menunjukkan bahwa ia tidak bisa didikte dengan kepentingan golongan.

Toh ketika saya cermati di Play Store, pemberi bintang satu itu rata-rata gaya bahasanya seragam, baik yang berbahasa Inggris maupun Indonesia. Jelas, ini ada yang mengarahkan, dan bukan mustahil sebagian besar adalah akun palsu, mungkin akun-akun Google sisa Perang Pilpres 2019 silam. Jika Tempo mau melaporkan ini ke Google, saya yakin banyak akun yang berguguran dan review mereka jadi tidak sah.

Dari pantauan saya, aplikasi Tempo sekarang sudah menanjak ke bintang dua. Barangkali, pulihnya tidak bisa seketika. Sebab, Tempo pun tidak disukai oleh kubu pembenci Jokowi. Jangan berharap kubu itu mau membantu memberi bintang 5. Selain karena bukan segmen Tempo, mereka juga kemungkinan masih sakit hati dengan Tempo yang kerap menyudutkan tokoh-tokoh mereka.

Namun, cepat atau lambat, rating aplikasi Tempo pasti akan pulih kembali. Hakulyakin! Karena pembaca setia Tempo yang rasional pun banyak. Di lain pihak, akun-akun Google dadakan yang menghujat Tempo di Play Store pun akan bertumbangan satu per satu.

Pilar Keempat Demokrasi yang Berusaha Diruntuhkan

Perisakan digital terhadap Tempo terjadi berbarengan dengan serangan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Drone Emprit, di Twitter, beredar tagar #KPKCengeng, #TempoKacungKPK, serta #KPKdanTaliban yang menjadi trending. Namun, rata-rata tagar tersebut diramaikan melalui giveaway (iming-iming hadiah), bukan trending yang terjadi secara alami.

Mari kita nilai sendiri dengan kepala yang jernih. Pada akhirnya, terserah masing-masing pihak, mau membela siapa. Kalau Anda begitu cinta pada Jokowi, hak Anda juga untuk memboikot Tempo. Bebas saja.

Tetapi, terus terang, ini cukup meresahkan saya.

Bila setiap media yang kritis ditekan begini, pilar keempat demokrasi lama-lama bisa ambruk. Media-media akhirnya hanya akan menjadi penjilat-penjilat penguasa yang selalu akan menceritakan yang baik-baik saja. Kita pun jadi seperti kembali ke zaman ORBA, di mana yang tidak sependapat akan diberangus!

Bayangkan, sudah pilar Legislatifnya sekarang seia sekata dengan Eksekutif, media pun mau dipaksa tutup kuping-mata-mulut saat melihat bad news di depan hidungnya.

Seandainya demokrasi adalah bangunan besar dan penopangnya hanya satu pilar (katakanlah Eksekutif), mampukah ia berdiri tegak? Atau, tinggal tunggu waktu saja bangunan itu ambruk?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.