Categories
c'est la vie

Begini Rasanya Menjadi Piatu

Senin, 14 November 2022, sepertinya adalah hari yang akan senantiasa saya ingat. Itulah hari meninggalnya orang yang paling penting dalam hidup saya.

2017: Bersama mama dan Ara, bersiap ke resepsi Agung, sepupu saya, di Bandung

Sekitar pukul 1 dini hari, saya hendak tidur. Baru saja lampu saya matikan, terdengar “ribut-ribut” di ruang depan. Ini jenis kegaduhan yang tidak saya sukai. Sayup-sayup, terdengar dialog bernada panik, “Kok jadi gini?” Sungguh, menyimaknya membuat saya makin sulit terlelap. Padahal, besok banyak pekerjaan yang harus dibereskan.

Tak lama kemudian, papa mengetuk pintu kamar dan memanggil saya. Begitu saya buka, beliau berkata dengan suara tenang, “Coba lihat mamamu. Mama ngorok.”

Hah?

Dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD)

2022: Bahu-membahu menemani papa yang sedang opname
2022: Bahu-membahu menemani papa yang sedang opname

Bergegas, saya menengok mama di depan. Beliau terbaring di matras. Matanya sedikit terbuka, tetapi tidak bereaksi terhadap goyangan-goyangan tangan sejengkal di depannya. Beliau kadang mengigau, kadang mengorok, dan sesekali keluar busa dari mulutnya.

Saya jadi terbawa panik. “Ini awalnya gimana?”

“Nggak tahu,” sahut keponakan saya yang pertama mengetahui kondisi mama. “Aku hidupkan lampu, sudah begini!”

Kakak saya langsung menelepon temannya yang kebetulan dokter, tidak peduli saat itu sudah dini hari. “Kalau mulut sudah keluar busa, tergolong gawat itu. Sebaiknya segera ke IGD!” begitulah kurang-lebih jawaban Bu Dokter.

Awan gelap langsung bergelayut di benak. Memori suram ketika mama strok ringan pada 2018 mendadak terputar kembali. Memang, gawat sekali jika ini strok kedua, karena tingkat fatalitasnya pasti lebih tinggi. Saya pun memesan Gocar untuk mengantar mama ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari.

Siapapun tahu, malam-malam, sulit memesan taksi daring. Stok driver terbatas, jalan-jalan kompleks juga banyak yang diportal. Benar saja. Driver yang di aplikasi tertulis akan datang dalam 10 menit, akhirnya baru tiba setengah jam kemudian, karena harus jalan memutar.

Itu pun harus saya rayu-rayu dahulu di telepon supaya jangan membatalkan pesanan, dengan alasan ini darurat.

Saya sendiri tidak ikut dalam mobil tersebut. Selain karena kondisi tidak fit lantaran kurang tidur, mata berat dan bawaannya mual, baterai ponsel saya tinggal 30 persenan. Mengingat pengalaman bolak-balik menunggui papa dan mama opname, baterai lemah bisa jadi masalah tersendiri di sana.

Mobil berangkat, saya berencana tidur sebentar. Namun, sulit sekali. Saya sempat tertidur beberapa menit, tetapi kemudian terbangunkan oleh semacam mimpi yang meletup. Seperti kita menonton film di bioskop, lalu tiba-tiba layarnya meledak dengan menyilaukan.

Saat itulah saya terbangun. Seketika, kantuk hilang total. Ini firasatkah?

Segera saya mengambil air wudu, apalagi lantas terdengar azan. Saya bangunkan anak-anak untuk salat subuh berjemaah.

Setelah itu, saya memacu motor menuju RSI.

Terpukul Telak di IGD

Setibanya di RSI, tim IGD masih memeriksa mama. Sementara, keluarga harus menunggu di luar ruangan. Ada papa, kakak, kakak ipar, dan kedua keponakan saya. Mereka tepekur dengan wajah yang redup.

Sekira setengah jam berikutnya, seorang staf memanggil kami masuk ruangan. Saya melangkah dengan kaki yang berat. Apalagi setelah melihat mama yang terbaring di atas brankar ICU, belum sadarkan diri.

Staf IGD lalu menyampaikan pukulan telak itu, bahwa mama tak tertolong lagi dan semua kabel-kabel medis yang menopang tubuhnya hendak dicabut semua.

Saya melihat monitor. Grafik itu memang datar, tetapi sesekali masih memperlihatkan denyut. Staf tersebut menjelaskan, “Itu terjadi karena faktor lain. Bukan berarti beliau masih hidup.”

Terdengarlah pekik tangis dan ratapan di ruang tersebut.

Saya masih perlu waktu lebih lama untuk mencerna semua ini. Ucapan istirja pun belum keluar dari bibir.

Namun, begitu saya pegang kaki mama, dingin seperti es! Barulah saya lihat, wajah mama dan sekujur kulitnya begitu kuning pucat! Seperti inikah kondisi orang yang sudah meninggal?

Seketika, dada terasa sesak. Lutut terasa lemas. Dalam hitungan detik, segera berkelebatanlah kenangan-kenangan indah bersama mama sejak saya kecil. Puluhan detik kemudian, dengan gemetar saya mengucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Pada 14 November 2022, pukul 4.40, resmilah saya menjadi piatu.

2022: Menandatangani Surat Keterangan Kematian di RSI
2022: Menandatangani Surat Keterangan Kematian di RSI

Mama meninggal begitu cepat. Begitulah beliau. Semasa hidup, beliau gampang sungkan. Tidak mau merepotkan siapa-siapa, termasuk anak-anaknya. Ternyata, begitu pun ketika ajal menjemput.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa perempuan yang penuh kasih, lugu, dan mudah khawatir dengan anak-cucunya ini. Terimalah amal ibadah beliau. Jauhkan beliau dari siksa kubur dan api neraka. Pertemukan kami kembali di surga-Mu. Aamiin, ya Rabbal ‘Alamiin.

Bagi siapapun yang mengenal mama dan kebetulan membaca tulisan ini, jika beliau pernah ada utang, mohon berkenan menghubungi saya selaku anak kandungnya. Juga, jika beliau pernah bersalah dan melukai hati, mohon keikhlasannya untuk memaafkan. Mudah-mudahan Tuhan menyayangi kita semua.

Semoga husnulkhatimah, ya, Ma. Allahumaghfirlahaa, warhamhaa, wa’afihaa wa’fuanhaa.

Firasat Itu Ada, Sebenarnya

2018: Di Bojonegoro (rumah Om Yudi) inilah terakhir kami traveling bareng sebelum mama strok
2018: Di Bojonegoro (rumah Om Yudi) inilah terakhir kami traveling bareng sebelum mama strok

Hari Minggu, 13 November 2022, menjelang magrib, saya sibuk membersihkan kamar. Sewaktu mau mandi, mama mencegat saya dengan panci yang diperlakukannya mirip mikrofon. “Ayo, ngomong di sini,” ucap beliau sembari bertindak seperti mewawancarai saya.

Saya tersenyum geli. Namun, saya mengabaikannya dan terus berjalan ke kamar mandi. Siapa sangka, itulah komunikasi dan candaan terakhir beliau dengan saya.

Di kamar mandi, saya masih mendengar anak bungsu saya, Akira, bercanda dengan mama.

Padahal, sebelumnya, selama sebulan lebih, Akira cuek dengan eyangnya itu. Akira tak acuh ketika mama melawak atau berkata hal-hal konyol untuk menarik perhatiannya. Misalnya, meniru-niru suara tokek, bertanya kabar (dengan klise), memuji baju Akira yang bagus (padahal itu baju sehari-hari).

Tak sekalipun Akira menggubrisnya. Mungkin karena gurauan mama terlalu receh buat anak Generasi Alfa seperti Akira. Atau, karena gurauan itu seringnya disampaikan dalam bahasa Jawa, sementara Akira belum menguasainya (sehari-hari kami menggunakan bahasa Indonesia).

Jadi, mama seperti hanya bertepuk sebelah tangan. Sedih juga melihat itu. Saya bahkan sampai menegur Akira, “Kalau Eyang nanya itu, mbok ya dijawab. Ditanggapi apa, gitu. Itu niatnya cuma bercanda. Eyang kesepian kalau nggak punya teman ngobrol atau bercanda. Kasihan, tahu!”

Ajaibnya, beberapa hari terakhir dalam hidup mama, Akira jadi terlihat akrab. Ia suka mencubit mama kalau berpapasan, tiba-tiba memukul bokongnya, kadang-kadang dihitung sampai 20. Kalau pukulannya baru 10, ia pun berjanji, “Nanti lanjut, ya, Yang. Pokoknya, harus sampai 20!”

Sang eyang yang lebai malah menjadi-jadi. Beliau pura-pura marah dan mengejar Akira. “Awas, yo… ta’bales, yo!” Akira segera lari tunggang langgang sambil terbahak-bahak.

Dalam hati, saya bersyukur melihat keakraban itu. Tak dinyana, begitulah cara mama berpamitan kepada cucunya yang paling kecil. Sama seperti pamitan mama dengan panci “mikrofon” itu kepada saya. Ya Allah….

Pertanda dari Paman Juga Ada, tetapi Sulit Percaya

Pertanda lain terjadi sebulan sebelumnya. Saya menghubungi adik sepupu mama di Sidoarjo. Melalui telepon, Om Joni bilang, “Kalau kamu ke sini, ajak mama sekalian. Aku mimpi mamamu terus. Dua hari berturut-turut, lo!”

Saya jawab, “Kalau papa, masih mungkin, Om. Tapi kalau mama, agak berat. Kami ke sana, kan, naik Bus Suroboyo, Trans Jatim, dan kereta komuter. Mana mungkin mama yang jalannya sudah agak terseok-seok gitu ikut.”

2022: Di rumah Om Joni dan Tante Diana, seminggu sebelum mama meninggal
2022: Di rumah Om Joni dan Tante Diana, seminggu sebelum mama meninggal

Singkat cerita, kami benar-benar sowan ke rumah Om Joni dan Tante Diana pada Sabtu, 5 November 2022. Firasat Om Joni benar. Sekitar sepekan kemudian, mama meninggal.

Tahu-tahu sakit, di IGD, dimandikan, dikafani, disalati, dan dimakamkan. Semua hanya dalam 12 jam.

Saya seperti sedang bermimpi ketika sendirian menemani jasad mama di belakang ambulans dalam perjalanan menuju masjid dan pemakaman. Saya bahkan masih memijat-mijat kaki beliau yang sudah dikafani, seolah-olah beliau hanya sedang tidur.

Ya, saya juga pernah menemani beliau di ambulans pada 2018. Sendirian juga. Saat itu, ambulans mengantar tubuh mama yang anfal dari RSI Jemursari ke RSAL Dr. Ramlan.

Rasanya begitu sama. Rasanya, mama hanya sakit, tetapi masih hidup. Bahkan sampai terjun ke liang lahat, saya masih berharap jenazah yang saya miringkan ke kanan itu bukan mama.

Mengenang Hidup Bersama Beliau

2016: Berjuang bersama membasmi wabah ulat bulu dengan peralatan seadanya
2016: Berjuang bersama membasmi wabah ulat bulu dengan peralatan seadanya

Betapa beruntungnya saya, musibah ini terjadi saat saya telah memiliki keluarga kecil. Sehingga, ada yang melipur lara selama hampir 24 jam ketika saya sedih. Ada tubuh-tubuh yang bisa dipeluk tatkala sembilu rindu mengoyak mengiris-iris.

Bayangkan kalau saya masih jomlo. Mental pasti terpuruk. Remuk seperti kerupuk. Ditinggal orang tua pergi haji sebulan pada 2007 saja saya galau. Tidak bersemangat melakukan apa-apa sampai semingguan!

2007: Mama ketika berhaji
2007: Mama ketika berhaji

Namun, untuk mama, saya sudah ikhlas. Melihat keadaan beliau pada Oktober 2018 yang parah, saya masih takjub betapa mama berhasil pulih dan ingatannya hampir seperti sedia kala. Maka saya anggap 2018 sampai 2022 adalah bonus yang Allah berikan kepada saya, untuk lebih menghargai kehadiran orang tua perempuan.

Saya tidak bilang, saya anak yang baik. Saya juga kadang-kadang berselisih dengan mama. Barangkali juga menyakiti hatinya. Namun, seingat saya, lebih banyak saya bercanda tawa dengan beliau.

Prinsip saya, sebisa mungkin membuat beliau tertawa di setiap percakapan. Atau seminimal-minimalnya, tidak membuat beliau sedih atau tersinggung. Sebab, saya percaya, beliaulah yang pertama membuat saya tertawa.

1981: Mungkin inilah pertama kalinya kami bertukar canda dan tawa
1981: Mungkin inilah pertama kalinya kami bertukar canda dan tawa

Waktu mengobrol favorit saya adalah ketika di kebun. Sambil mengurus kebun, kami biasa membicarakan apa saja. Kadang sebentar, kadang lama. Oh, indahnya. Saya seperti masih bisa mendengar suara beliau ketika curhat atau membahas isu tertentu. Begitu khas.

Alhamdulillah, bonus injuried time itu saya nikmati selama lebih dari empat tahun. Sekarang, semua sudah benar-benar berakhir. Mama sudah diminta kembali oleh Pemiliknya.

Menyesal rasanya karena belum sempat minta maaf sejak Lebaran tahun ini, juga karena belum berhasil menunjukkan diri sebagai anak yang sukses dan membanggakan. Duh, bahkan ketika saya menulis ini, masih terasa sekali sesaknya penyesalan itu.

InsyaAllah Ikhlas, Ma

Takdir sudah berbicara. InsyaAllah saya rela melepas kepergian mama. Apalagi bila mengingat fisik beliau yang makin terbatas akhir-akhir ini, baik karena sisa-sisa keganasan strok beberapa tahun lalu maupun lantaran dimakan usia.

Akhir-akhir ini, ada saja masalah di badan beliau. Suatu waktu, ada perban di tangannya. Di waktu lain, beliau menunjukkan lengannya yang biru memar sebesar telur ceplok.

Jalan juga terkadang dengan sebelah kaki yang mendorong-dorong sandalnya. Bukannya dikenakan, sebelah sandal itu hanya didorong atau diseret. Sering saya tegur, “Laopo seh, Ma, ngono iku? Kesannya jadi kayak orang sakit lagi maksain jalan.” Biasanya, beliau beralasan macam-macam.

Diminta beristirahat saja beliau menolak. Disuruh jangan mengangkat-angkat atau naik-turun tangga, seringnya “ngeyel” atau diam. Maksudnya, diam-diam tetap melakukannya.

Saya tidak pernah terlalu keras melarangnya, karena tahu, orang tua sebenarnya juga butuh bergerak. Jangan sampai diam saja, karena dapat menyebabkan atrofi. Jangankan manula, otot pemuda yang sehat saja bisa mengecil dan mengendur kalau jarang digunakan.

Belum lagi faktor psikis. Akan ada perasaan bahagia kalau kita aktif dan bermanfaat bagi lingkungan kita, bukan? Sebaliknya, orang tua yang sehari-harinya diam akan terbawa suasana murung dan mudah stres.

Apalagi waktu masih muda, mama adalah ibu rumah tangga yang aktif dan kreatif dalam mengurus rumah. Bagaimana mungkin sekarang kami melarangnya melakukan ini-itu?

Namun, sekarang mama sudah tidak bisa ngeyel lagi. Memang, sudah waktunya mama istirahat. Istirahat total!

2017: Bersama Ara, dalam perjalanan menuju Bandung untuk menghadiri pernikahan sepupu, Agung
2017: Bersama Ara, dalam perjalanan menuju Bandung untuk menghadiri pernikahan sepupu, Agung

Selamat jalan, Ma. Wis, jangan sedih. Yang tenang di alam sana. Terima kasih sudah pernah memberiku akomodasi yang nyaman di rahim Mama, lalu melahirkanku, membimbingku, melindungiku, menemaniku, dan mendoakanku selama lebih dari empat puluh tahun. Gantian. Sekarang, giliran aku yang mendoakan Mama. Sampai nanti kita bertemu kembali di surga, insyaAllah.

By Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf, tidak bisa begitu