Categories
keluarga

Hotel Heng Heng Pung Per

Menjelang subuh, saya mengalami mimpi ini. Saya datang ke sebuah hotel yang melarang “heng heng pung per”. Bagaimana ceritanya?

Hotel Heng Heng Pung Per

Kemarin menjelang subuh, saya bermimpi. Seperti biasa, saat mendapat mimpi yang unik dan terasa berbekas, saya segera mencatatnya di Keep Notes, aplikasi ponsel bawaan Google. Dengan begitu, saya tidak kehilangan detail-detail (yang aneh) dari mimpi itu. Bagi saya, ini semacam cara untuk melatih kemampuan menulis dari hal-hal yang berlalu dengan cepat.

Saya mimpi menginap di sebuah hotel, entah di kota mana. Bahkan entah di negara mana. Saya datang berempat bersama keluarga kecil saya.

Bertemu Resepsionis yang Judes

Masuk ke ruang lobi untuk check-in, seorang resepsionis langsung meminta saya membayar. Seorang perempuan muda yang cantik tetapi gaya bicaranya judes. Angka yang harus saya bayar adalah Rp430.000. Saya bilang, tidak segini sewaktu saya memesan secara daring. Kan, saya carinya tarif promo, hehehe….

Lagi pula, “Saya sudah bayar lewat internet,” kata saya sembari menunjukkan tanda terima yang entah kenapa dalam bentuk bros. Para staf di sana terdiam, lalu segera memproses check-in kami.

Resepsionis yang tadi ngeyel lalu beranjak mengantar kami. Namun bukannya diserahkan kepada saya, kunci kamar saya malah ditinggal di mejanya, setelah ditunjukkan sebentar di hadapan saya. Saya tidak bisa mengambilnya juga, karena letaknya di meja bagian bawah (sejajar dengan tempat dia resepsionis), di luar jangkauan saya.

Saya berpikir, “Bagaimana, sih, orang ini?”

Namun, Mbak itu berjalan terus. Dia mengobrol bersama istri saya (yang sedang menggendong Kira, putri kedua kami) sambil jalan menyusuri lorong hotel. Ya sudah, saya mengikuti mereka. Tanpa membawa kunci.

Mereka berjalan cepat, sehingga posisi kami makin jauh. Tahu-tahu, mereka menghilang di tikungan. Saya kejar sambil berlari, eh, kok kembali ke halaman depan? Nah, itu dia, mereka terlihat!

Tetapi, staf itu malah memanjat sebuah bidang miring yang cukup terjal. Bidang miring itu seperti dinding miring yang berumput. Rumputnya basah, jadi sudah pasti licin.

Saya mau memprotes, “Kenapa pakai aneh-aneh begini, sih?” Tetapi istri dan anak saya malah menuruti staf judes itu dan ikut naik tanpa protes. Saya mencoba mengingatkan istri saya, tetapi dia sepertinya lebih mendengar staf itu.

Saya pun ikut mencoba naik. Meniru gerakan sang resepsionis yang berpegangan pada rumput, lalu menjejak. Kelihatannya caranya berhasil. Namun tetap saja, ini gila.

Hotel bagi Para Pendaki Profesional

Anak pertama saya, Ara, tidak ikut memanjat. Dia memilih santai-santai berkeliling menikmati suasana hotel. Ara memisahkan diri dari ibu dan adiknya, juga dari saya. Padahal dia masih bocah, masih umur 8 tahun. Situasi aneh ini membuat saya bingung.

Akhirnya, saya memilih meneruskan memanjat. Saya jambar rumput, saya jejakkan kaki, lalu angkat tubuh. Lalu jambak lagi rumput di atasnya, menjejak lagi, dan naik selangkah lagi. Begitu seterusnya.

Beberapa kali saya terjatuh dan merosot. Pakaian pun kotor. Tetapi tidak saya hiraukan. Saya hanya berusaha menyusul istri saya yang sedang menggendong Kira. Sudah begitu, mereka memanjat lebih cepat dan lebih lancar dari saya. Sungguh di luar nalar!

Saat berjibaku merayap ke atas, sempat terdengar celetukan-celetukan entah dari atas saya atau bawah saya, “Jangan sampai jatuh di sini. Kalau jatuh, bisa jadi perkedel, tuh.”

Ya, mereka benar. Herannya, kenapa saya menuruti resepsionis itu? Kenapa istri saya juga menurutinya?

Saya menengok ke bawah, siapa tahu ada jalan lain yang tidak berbahaya. Namun, ternyata saya sudah tinggi sekali. Sudah setengah jalan.

Oh ya, kalau saya perhatikan sekeliling hotel dari tadi, tampak beberapa tamu menongkrong dengan kostum pecinta alam atau pendaki gunung. Dari berbagai ras. Ada orang Asia, ada bule, ada India, macam-macam pokoknya. Jadi, hotel ini mungkin buat posnya para pendaki setelah atau sebelum menaklukkan gunung.

Selain itu, kontur halaman hotel memang naik-turun, mengesankan memang posisi hotel ini di daerah pegunungan.

Aneh, sih. Saya tidak hobi mendaki gunung. Kalaupun coba-coba belajar mendaki, mengapa mengajak keluarga? Dan mengapa langsung di gunung yang bukan untuk pendaki pemula ini? Buktinya, banyak pendaki dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sini, bukan?

Hotel yang Aneh

Dengan susah payah dan merinding, saya akhirnya berhasil mencapai lantai atas. Di teras lantai atas, ada jalan setapak dari semen. Miring juga, tetapi tidak securam bidang rumput barusan. Hanya, jalan setapak itu basah dan licin seperti habis kehujanan. Kalau tidak berhati-hati, sudah pasti saya jatuh berguling-guling ke bawah sana.

Untungnya, saya berhasil mencapai bagian atas yang datar. Ada pintu masuk. Saya pun masuk ke gedung lagi. Berkeliling mengeksplorasinya. Saya melihat, ya ampun, liftnya jelek banget dan kumuh.

Saya perhatikan, hotel ini memiliki banyak toilet dan kamar mandi. Setiap tiga meter ada toilet. Lampunya neon putih, menyala terang semua. Tetapi toilet-toilet ini jorok dan menyeramkan. Mungkin karena tidak ada orang sama sekali di sana. Saya sampai batal membuang air dan cuci tangan.

Saya memilih langsung masuk kamar hotel. Entah bagaimana ceritanya, saya bisa masuk kamar. Padahal sampai detik itu, saya belum menemukan istri dan anak kedua saya, juga staf hotel yang mengantar mereka tadi. Artinya, saya tidak tahu kamar saya yang mana. Saya juga tidak membawa kunci kamar.

Di meja kamar, ada surat dari operator hotel. Saya membacanya. Yang mencolok, ada tulisan, “No Heng Heng Pung Per!” Saya baru ingat, tulisan larangan Heng Heng Pung Per itu ada di mana-mana di hotel ini. Baik di dinding, surat resmi hotel seperti yang sedang saya pegang, maupun flyer hotel.

Apa itu “Heng Heng Pung Per”?

Sumpah, saya tidak tahu artinya. Bahkan itu bahasa apa, saya juga tidak ada ide. Mandarinkah? Indiakah? Thailandkah? Entahlah. Ini hotel di negara mana, sih? Seingat saya, semua staf berbicara bahasa Indonesia dan berwajah melayu. Bayarnya pun menggunakan rupiah.

Kemudian, saya membuka amplop vocer sarapan. Tulisannya tak kalah aneh, “Sarapan Pukul 5.00-12.00. Harap datang tepat waktu. Karena, mulai jam 5, orang-orang sudah banyak berdatangan.”

Sarapan sampai jam 12? Baru jam 5 sudah banyak orang? Sungguh, saya tidak habis pikir!

Saya kemudian keluar kamar. Bertemu anak pertama saya di sebuah sudut hotel. Jangan tanya bagaimana bisa bertemu dan di mana pertemuannya. Yang jelas, dia bersantai di kursi selonjor yang biasanya dipakai orang untuk berjemur.

Saya ajak Ara berjalan-jalan keluar hotel. Sekalian mencari ibu dan adiknya. Namun, kemudian kami dicegat seorang staf laki-laki. Kami dibawa ke lobi lagi.

Saya bilang hanya ingin berjalan-jalan keluar hotel.

Dia menginformasikan, “Kalau mau jalan-jalan, harus pakai topi tamu.” Satu lagi keanehan! Topi-topi itu, dalam berbagai ukuran, sudah disiapkan di tiang gantungan topi. Kami tinggal memilih.

Sampai situ, saya terbangun dalam keadaan berkeringat. Sebab, suhu kamar saya panas. Busyet, Surabaya belakangan memang bukan main gerahnya.

Hm, apa makna mimpi semacam ini, ya?

By Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You cannot copy content of this page