Categories
pandangan

Ini tentang Anies Baswedan

Tulisan ini sekadar jejak digital, bahwa saya memilih berdasarkan pengetahuan terbaik saya. Selebihnya, Anies Baswedan menang atau kalah, itu urusan takdir.

Ini tentang Anies Baswedan

Kalau teman-teman lain tidak malu-malu deklarasi mendukung capres pelanggar HAM berat dan konstitusi, kenapa saya harus sembunyi-sembunyi mendukung Anies Baswedan? Ya, saya memilih Anies Rasyid Baswedan dalam Pemilu 2024 ini.

Kalau ia menang, alhamdulillah. Saya yakin, Indonesia akan berubah dan maju pesat. Kalau ia kalah, saya akan bersedih, tetapi ya sudahlah. Saya serahkan semua kepada Allah, sang Maha Pengatur.

Sekilas Latar Belakang Keresahan

Banyak yang saya prihatinkan dari negara ini dalam sepuluh tahun terakhir. Terutama terkait kualitas demokrasi yang terus menurun. Sekadar menyebut contoh:

  • Fenomena munculnya pendengung (buzzer) yang suka mengeroyok orang-orang atau media-media yang tidak sejalan dengan pemerintah. Beberapa yang pernah menjadi korban antara lain Tempo dan Najwa Shihab.
  • Kebebasan berbicara kian terancam dengan UU ITE. Berbicara tidak sebebas waktu zaman reformasi sampai SBY, Bro!
  • KPK, lembaga yang dahulu membanggakan, kini makin dilemahkan. Sekarang berada di bawah presiden langsung.
  • Proyek-proyek keren tetapi kurang berguna atau tidak urgen bermunculan: Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ibu Kota Negara (IKN) baru, food estate (lumbung pangan) yang menggunduli hutan ratusan hektare tanpa hasil, dan lain-lain.
  • Sembako dibiarkan terus mahal. Harga beras terus naik, bahkan sampai hari saya memublikasikan artikel ini.
  • Pajak-pajak yang sedang dan akan dinaikkan. PPN dari 10% ke 11%, salah satunya.
  • Utang negara makin ugal-ugalan. Siapa yang akan membayarnya? Juga bunga-bunganya yang fantastis? Anak-cucu kita!
  • Fenomena orang dalam (ordal) dan Korupsi-Kolusi-Nepotisme (KKN) yang khas ORBA merajalela kembali. Anak presiden menjadi wali kota Solo (yang saat Pilkada nyaris berhadapan dengan “kotak suara kosong”), menantunya jadi wali kota Medan, anak lainnya jadi ketua parpol PSI.
  • Mahkamah Konstitusi (MK), yang melambangkan supremasi hukum di republik ini, dibuat main-main, dengan meloloskan anak presiden di bawah umur sebagai calon wakil presiden.

Mau jadi apa Indonesia ke depan kalau ini semua diteruskan?

Belum lagi ada indikasi kecurangan Pemilu 2024 yang sistemik dan masif. Untuk detailnya, tonton film dokumenter Dirty Vote ini:

Saya ingin Indonesia berubah! Itulah mengapa saat Anies Baswedan dan tim suksesnya menggaungkan kampanye Perubahan, saya langsung merasa terwakilkan. Meskipun, saya tidak langsung mendukungnya.

Sebelumnya, saya katakan kepada istri saya, “Pilpres tahun depan, tiga calon yang maju keren-keren semua. Aku golput. Karena siapapun yang menang, aku enggak masalah!”

Bahwa akhirnya saya memutuskan tidak jadi golput dan malah memilih Anies Baswedan, itu karena beberapa alasan.

7 Alasan Memilih Anies Rasyid Baswedan

1. Sehat dan Bugar

Menjadi presiden Indonesia itu berat. Coba bandingkan presiden SBY sebelum menjabat dan setelah dua periode menjabat, wajahnya menjadi sayu, kantung matanya membesar, keriputnya bertambah, dan kian beruban. Begitu pula Jokowi.

Maka presiden ke depan harus memiliki fisik yang prima. Harus sanggup diajak maraton. Sore ini di Jakarta, besok paginya di Batam. Siangnya terbang ke Papua. Lalu besoknya memberi seminar di universitas Singapura. Untuk kemudian lanjut hadir di Forum Ekonomi di Frankfurt.

Anies Baswedan telah terbukti memiliki stamina kuat dalam menjalani kampanyenya. Dengan 22 edisi Desak Anies dalam dua bulan, ditambah forum-forum di luar itu, acara-acara televisi, dan siniar-siniar, fisiknya tidak kendor. Otak dan psikisnya juga selalu tajam.

Walaupun mungkin Anies tidak rutin berolahraga, minimal tidak seperti Ganjar Pranowo atau Sandiaga Uno, fisiknya terlihat begitu bugar. Ia juga seorang ekstrover (tidak seperti saya, hehehe). Makin banyak bertemu orang, makin bersemangat orangnya.

Presiden Indonesia harus seperti itu!

2. Antitesis dari Jokowi

Walaupun tidak suka kebijakan-kebijakannya, saya bukan anti-Jokowi. Saya hanya merasa logika Anies Baswedan lebih masuk akal.

Saya beri contoh. Jokowi mau ibu kota pindah ke Kaltim, Anies mau mengkaji ulang. Saya dahulu antusias mendengar kabar Kalimantan akan jadi ibu kota baru, karena saya bosan apa-apa harus Jakarta. Namun, setelah tahu biayanya 450 triliun (dan akan terus bertambah seiring inflasi), saya jadi berpikir ulang.

Itu sumber dananya dari mana? Memangnya investor mau babat alas dari nol begitu? Kan, tidak jelas pasarnya. Itu, kan, daerah baru? Kapan bisa balik modal?

Kalau minim investor, padahal sudah terlanjur membangun dan malu kalau dihentikan, takutnya solusinya: tambah utang lagi!

Di sisi lain, masih banyak daerah-daerah yang belum punya puskesmas, sekolah, guru honorer belum diangkat, dan seterusnya. Masih banyak pulau-pulau yang tidak memiliki sarana transportasi publik, seperti kereta, bus, komuter, feeder (kendaraan pengumpan).

Surabaya sebagai kota terbesar kedua saja belum memiliki feeder. Sementara, satu-satunya komuter dalam kota hanya Bus Suroboyo.

Daripada membuang-buang uang untuk membangun istana supermegah (IKN) yang hanya akan dinikmati ASN atau PNS, menurut Anies, mengapa uangnya tidak dipakai untuk meng-upgrade atau meningkatkan (bukan membangun dari nol) 40 kota di Indonesia? Program ini lebih menarik buat saya.

Alangkah menyenangkannya mengeksplorasi Bali dengan kereta api.

Bila kita pergi ke Kalimantan bersama keluarga, alangkah murahnya berkunjung dari satu tempat ke tempat lain naik transportasi publik, bukannya menyewa mobil jam-jaman.

Saya juga antusias membayangkan Surabaya yang sudah bagus ini ditingkatkan fasilitas-fasilitas umumnya menjadi setara kota-kota Eropa, atau minimal seperti Jakarta saat ini.

Saya ingin terbang ke Papua sama murahnya dengan terbang ke Thailand atau Jepang.

Intinya, pariwisata Indonesia akan marak. Efisiensi akan terasa jika kota-kota besar ditingkatkan. Bukan hanya membangun satu kota (IKN).

Cawapres Gibran, anak Jokowi, bolak-balik mengatakan, “IKN adalah simbol pemerataan pembangunan di Indonesia.” Aduh, saya tidak butuh simbol-simbol. Saya butuh pemerataan yang nyata!

3. Pandai Bicara dan Beretorika, Termasuk Bahasa Inggris

“Anies itu hanya bisa merangkai kata, omon-omon, bla-bla-bla!” kata kaum pembenci.

Sebagai sarjana Komunikasi, saya tersinggung setiap ada yang bilang seperti ini. Seolah-olah berbicara dan beretorika itu mudah. Itu keterampilan yang perlu diasah, Bung! Tidak mungkin juga orang pandai berbicara kalau otaknya kosong dan pengalamannya minim.

Lagi pula, tugas pemimpin memang berbicara. Sekadar memberi gambaran, pentingnya seorang presiden pintar bicara, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris:

    • Supaya jajaran di bawahnya mengerti instruksinya, sehingga bisa bekerja dengan benar dan tepat. Makin efektif presiden itu omon-omon, makin sedikit terjadi kesalahpahaman atau salah tafsir di kalangan anak buahnya.
    • Supaya ia bisa menjelaskan kontroversi yang terjadi di pemerintahannya. Pemimpin itu dapat menjelaskannya langsung kepada masyarakat dan wartawan, asing maupun lokal. Bukannya malah menghindar, “Kok tanya saya?” Atau ngeles dengan menunjuk bawahannya, “I want to test my minister to explain this.”
    • Supaya saat ada forum-forum internasional, ia berani hadir. Bukan hanya hadir, ia juga mampu bersosialisasi dengan para pemimpin dunia lainnya, tanpa minder. Syukur-syukur, bisa public speaking di sana dan melakukan lobi-lobi strategis. Melalui pemimpin yang “pandai merangkai kata”, Indonesia pasti lebih terpandang.

Pemimpin-pemimpin dunia yang disegani, semua adalah pembicara ulung: Soekarno, Barack Obama, Emannuel Macron, Angela Merkel, dan lain-lain. Harusnya kita bangga memiliki presiden yang lancar beretorika.

Sekali lagi, sebagaimana CEO, presiden itu bukan pekerja lapangan. Masa CEO disuruh kerja, kerja, kerja? Tugasnya hanya berpidato, bernegosiasi, bersosialisasi dengan para pemimpin dunia. Soal urusan dalam negeri, ia cukup memiliki gagasan, visi-misi, lalu menyuruh anak buahnya (menteri) yang bekerja.

4. Rekam Jejak, Karya, dan Prestasinya Berkilau

Semua janji kampanye Anies Baswedan sewaktu menjadi Gubernur DKI tertunaikan. Bahkan bonus pembangunan Jakarta International Stadium (JIS).

“Tapi program Rumah DP 0-nya jalan, enggak?”

Jalan! Tetapi memang belum memenuhi target. Realisasinya hanya beberapa ribu unit. Namun, ingat, “belum memenuhi target” tidak sama dengan “tidak dikerjakan”. Dan “belum” itu artinya masih bisa dilanjutkan!

Saya baru-baru ini jalan-jalan ke Jakarta. Menurut saya, Jakarta sudah sangat bagus. Penilaian ini mungkin tidak komprehensif, karena saya hanya tiga hari di sana. Lalu, penilaian siapa yang komprehensif? Warga DKI Jakarta, tentunya!

Di banyak survei, Anies Baswedan selalu unggul tebal ketimbang dua paslon lainnya ketika cakupannya Provinsi DKI. Tidak ada lawan!

Logika sederhananya, kalau warga DKI tidak suka, tidak cinta, dan tidak kagum dengan lima tahun kinerja mantan gubernurnya itu, mustahil Anies Baswedan mendominiasi survei-survei tersebut. Berarti, ia memang sebagus itu di mata warga Jakarta!

“Terus, kenapa Anies Baswedan dipecat Jokowi sebagai Menteri Pendidikan?”

Wishnutama Kusbandrio, Susi Pudjiastuti, Tom Lembong, Pramono Anung, dan banyak tokoh hebat lainnya juga kena reshuffle Jokowi. Apakah mereka orang-orang yang tidak kompeten?

Kita tidak tahu mengapa Anies diganti oleh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan. Kalau mengapa Prabowo Subianto dipecat dari TNI, semua sudah tahu. Sudah jelas karena pelanggaran HAM berat. Jauh lebih bahaya orang seperti itu!

Ada rumor, Anies diberhentikan justru karena memergoki anggaran yang aneh di kementeriannya. Saya belum tahu kebenaran rumor ini. Namun, rasanya, Anies memang dianggap tidak cocok oleh Jokowi, jadi harus diberhentikan.

Tidak cocok, bukan berarti tidak kompeten. Dan berhubung saya melihat banyak ketidakberesan di pemerintahan Jokowi, saya justru yakin, Jokowilah tokoh antagonis dalam pemecatan ini. Bukan Anies.

5. Pemberani (karena Bersih)

Satu-satunya kandidat yang berani melawan skenario politik Jokowi adalah Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Ini karena ia bersih dari kasus korupsi. Coba kalau tidak bersih, pasti sudah “dikunci” dan mudah dimasukkan ke Koalisi Prabowo-Gibran, karena ancamannya adalah di-KPK-kan.

Anies memang sempat bolak-balik diperiksa di KPK karena kasus Formula E. Berhubung bersih, ia selalu berhasil keluar dari kantor KPK tanpa rompi oranye. Yang ada, Firli Bahuri, ketua KPK yang ngotot memenjarakan Anies Baswedan itu yang sekarang tersandung kasus dan dipenjara. Hahaha….

Keberanian Anies juga tampak dari kemauannya untuk melayani kemarahan pendemo di Jakarta, saat menjadi gubernur dahulu.

Yang lebih ikonik, ia pernah menentang Luhut Binsar Pandjaitan. Menteri Jokowi yang sangat berkuasa itu menginginkan proyek Reklamasi Jakarta dilanjut. Namun, Anies bersikeras menyetop proyek yang berpotensi merusak lingkungan sekaligus merugikan nelayan pesisir Jakarta itu.

Dalam masa kampanye Pemilu 2024, Anies mengadakan Desak Anies. Orang bilang, gaya kampanye ini seperti ulo marani gepuk (ular mendatangi pemukulnya). Ia mendatangi masyarakat di seantero Indonesia, bersedia dikeroyok, dicecar, dan ditanyai apa saja. Mana ada pejabat atau capres yang sebunuh diri itu?

Di depan rakyat, Anies Baswedan selalu tersenyum ramah dan menyediakan dadanya untuk dipeluk. Di depan para penguasa, bahkan Jokowi sebagai RI-1, ia enggan menjilat atau kongkalikong jika itu ujung-ujungnya merugikan rakyat.

Di depan anak-anak muda, ia sosok abah yang solutif. Di depan bawahannya, ia tegas dan lugas, tanpa marah-marah. Ini bisa dilihat di dokumentasi rapat-rapat Pemprov DKI di YouTube.

Di depan wartawan, ia sosok yang mengayomi. Di ajang Debat Capres, ia menjadi monster yang siap melahap lawan-lawan debatnya, sesama tokoh politik.

“Tapi didikte Surya Paloh, ketua partai pengusungnya, ia menurut saja! Dipasangkan dengan Cak Imin juga mau-mau saja. Enggak berani membantah. Padahal sebagai bacapres, ia berhak menolak.”

Didikte? Tidak berani membantah?

Pertama, memangnya sewaktu menjadi Gubernur DKI, ia didikte Gerindra atau PKS (parpol-parpol pengusungnya)? Tidak, kan? Tetap independen, kan?

Kedua, kalau Anies sampai setuju-setuju saja, itu berarti memang menurut kalkulasi politiknya sudah pas. Dalam hal ini, kalau Muhaimin Iskandar alias Gus Imin dan gerbong PKB-nya waktu itu tidak (di)datang(kan), Koalisi Perubahan dijamin tidak memenuhi syarat ikut Pilpres 2024.

6. Cerdas dan Visioner

Kecerdasan Anies Baswedan itu lengkap. Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritualnya tinggi. Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosionalnya mumpuni, antara lain terlihat dari keluwesannya bergaul, kepiawaiannya bernegosiasi, serta tidak gampang emosi ketika menghadapi konflik.

Sementara, Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan intelektualnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anies Baswedan lulusan S-1 Jurusan Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM), S-2 Jurusan School of Public Policy di Universitas Maryland (Amerika Serikat), dan S-3 Jurusan Kebijakan Publik di Universitas Northen Illinois (Amerika Serikat).

Bukan hanya cerdas, ia juga mencerdaskan. Tanpa campur tangan pemerintah, Anies Baswedan menggagas program Indonesia Mengajar yang bermanfaat bagi anak-anak di pelosok-pelosok Indonesia. Hingga kini, program tersebut masih berjalan.

Kalau tanpa berada di pemerintahan saja ia dapat berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa (sesuai dengan tujuan negara ini didirikan), pikirkan apa yang bisa diperbuatnya saat menjadi presiden.

Sebagai tokoh yang akrab dan pernah hidup di negara-negara maju, jangan tanya visinya tentang pembangunan kota. Pembangunan di Jakarta bisa menjadi bukti sekaligus prediksi betapa Indonesia dapat dibangun setara kota-kota maju di dunia.

Caranya dalam mengambil keputusan didasarkan pada pengetahuan dan sikap ilmiah. Ini tampak dari sikapnya saat merespons pandemi COVID-19 di Jakarta. Saat pemerintah pusat masih cengengesan memandang korona, Anies sudah mengirimkan sinyal waspada.

Saya masih jengkel setiap mengingat Jokowi saat itu justru membuka pintu lebar-lebar untuk wisatawan asing ke Indonesia. Sementara menteri-menterinya seolah berlomba-lomba meremehkan pandemi ini. Seandainya saja mereka seperti Anies, menggunakan sains dan pendapat pakar, korban pandemi di Indonesia pasti takkan sebanyak itu.

7. Pluralis, Toleran, dan Merangkul Semua

“Tapi Anies Baswedan itu intoleran, radikal, bla-bla-bla….” kata pembencinya.

Kalau memang intoleran, mengapa selama lima tahun ia memimpin, Jakarta adem-adem saja? Mengapa tidak pernah ada bentrokan antaretnis atau agama?

Mengapa puluhan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah-rumah ibadah (seperti gereja dan pura) justru dikeluarkan semasa kepemimpinan Anies? Mengapa malah ada Christmas Carol (takbiran untuk Natal), padahal sebelumnya dilarang?

Anies Baswedan memang merangkul kelompok-kelompok yang dituding radikal. Namun, ingat, Anies merangkul semua kelompok juga, tanpa pandang bulu. Itulah pendekatannya. Memimpin semua, mengayomi semua.

Seandainya Anda punya tiga anak, satu nakal, apakah Anda akan mencueki dan terus menjadikannya bulan-bulanan? Itu anak Anda sendiri, lo! Harusnya dirangkul, diajak bicara dari hati ke hati. Kalau Anda malah memusuhinya, dijamin, ia akan makin durhaka dan tindakannya makin menjadi-jadi.

Mau begitu? Mau Indonesia terus terpecah belah gara-gara politik belah bambu (yang satu diangkat, yang lain diinjak)?

“Tapi kami khawatir Anies akan merusak Indonesia. Ia keturunan Yaman, orang Arab, nasionalismenya diragukan!”

Heran, deh! Komentar-komentar rasis yang busuk seperti ini, kok, masih ada saja?

Anies Rasyid Baswedan itu lahir di Kuningan, Jawa Barat. Jadi, ia WNI tulen! Memang, ia keturunan Yaman, tetapi sudah jauh. Kakeknya saja lahir di negara ini, bahkan sewaktu namanya masih Hindia Belanda! Asal tahu saja, Abdurrahman Baswedan alias A.R. Baswedan, kakek Anies, adalah jurnalis, diplomat, wakil menteri. Presiden Jokowi bahkan sudah menetapkannya sebagai pahlawan nasional.

Masih meragukan nasionalisme Anies Baswedan? Masih meragukan bibit, bobot, dan bebetnya?

“Tapi Anies itu antek Amerika. Gawat punya presiden seperti itu!”

Hadeeeeh, ini lagi. Tadi dituding Arab, sekarang malah antek Amerika. Apa kata lo, deh!

Apa Indonesia akan Dipimpin oleh Seorang Guru?

Saya menulis ini bukan untuk memuja-muji Anies Baswedan. Ini hanya tujuh alasan mengapa saya memilihnya sebagai presiden Indonesia 2024-2029. Alasan-alasan yang logis dan ilmiah.

Kalau ditambah alasan berdasarkan Islam, ada empat kualitas pemimpin: Sidik (jujur), amanah (bisa dipercaya dan memenuhi janji-janjinya), tablig (cakap mendidik rakyat dan menyampaikan informasi), serta fatanah (cerdas). Keempatnya itu pun ada dalam diri Anies Baswedan.

Entah hoaks apa yang membuat beberapa orang begitu membencinya. Ia memang bukan sosok yang sempurna. Saya saja, misalnya, tidak suka dengan gayanya ketika ada orang yang berbicara kepadanya, terkadang Anies asyik bermain ponsel seolah orang di depannya tidak cukup berharga untuk disimak/dipandang.

Namun, bila itu masalah sepele, atau tidak berdasar, kenapa tidak dikesampingkan dahulu demi Indonesia?

Ada orang yang membenci karena Anies dianggapnya konyol. Soal parkir air, seni anyaman bambu ratusan juta, lem Aibon, angin tidak punya KTP, Imam Mahdi, dan sebagainya.

Malaslah menanggapi hal-hal semacam itu. Silakan cari tahu sendiri, apa olok-olok itu sesuai fakta? Atau justru ia yang selama ini gagal paham dan tidak berusaha untuk mengerti?

Ayolah! Demi Indonesia, logislah dalam memilih presiden.

Kalau Anies Baswedan kalah dalam Pilpres 2024 ini, ia takkan rugi. Tidak di pemerintahan pun bukan masalah baginya. Anies adalah guru, dosen, peneliti, mantan rektor, dengan pengalaman dan jam terbang internasional. Tidak akan sulit mencari pekerjaan bagi orang-orang seperti itu.

Namun, kita? Indonesia? Kapan lagi punya presiden dengan paket selengkap Anies Baswedan? Presiden yang pemikiran serta ide-idenya dapat membuat Indonesia bangga di forum-forum internasional.

Bagaimanapun, semuanya tergantung pilihan masing-masing.

Saya menulis ini sekadar sebagai jejak digital, bahwa saya telah memilih berdasarkan pengetahuan terbaik saya dan hati nurani. Tulisan ini juga sebagai bahan pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Selebihnya, Abah Anies mau menang atau kalah dalam Pilpres 2024, itu urusan takdir.

  • Gambar ilustrasi dibuat dengan Dall-E AI

By Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf, tidak bisa begitu

Index