Categories
bisnis

Penting dan Sulitnya Punya Mentor Bisnis yang Pas

Seorang mentor pernah di posisi kita dan merasakan kesulitan serupa. Toh dia tetap sukses. Maka dengarkan saran-sarannya bila ingin lebih cepat sampai ke tujuan.

Penting dan Sulitnya Punya Mentor Bisnis yang Pas

Saya dulu menyepelekan arti mentor dan mentoring. Saya pikir, sekolah, kuliah, atau kursus sudah cukup. Memiliki guru privat atau mentor khusus rasanya berlebihan. Namun pelan-pelan saya sadar, memiliki mentor bisa menghemat waktu dalam meraih cita-cita. Pasalnya, kita dapat belajar dari pengalaman langsung sang mentor.

Taruhlah kita ingin membangun usaha penerbitan. Sang mentorlah yang akan mencegah kita jor-joran menghabiskan modal untuk promosi. Atau, justru menegur sebaliknya, “Pantas saja bisnismu berkembang kayak siput. Kamu masih ragu, sih, menghabiskan uang di marketing!”

Karena mentor adalah seseorang yang sudah pernah di posisi kita saat ini, mengalami kesulitan yang kita alami sekarang, dan kini sukses, maka nasihat-nasihat dan peringatan-peringatannya pasti bermanfaat bagi kita. Supaya kita bisa menapaktilasi jalan suksesnya, tanpa perlu tersandung oleh batu atau lubang yang sama.

Pertanyaannya, tidak bisakah kita sukses tanpa mentor? Benarkah orang sukses selalu punya mentor di belakangnya? Apakah tanpa mentor kita dipastikan akan gagal?

Apa Mentor Itu?

Mentor artinya orang yang yang memiliki bisnis atau profesi yang sama dengan kita. Hanya, dia jauh lebih sukses dan telah kenyang asam-garam di industri yang kita tekuni. Kalau profesinya berbeda dengan kita, lebih pas kita sebut konsultan atau motivator, bukan mentor.

Walaupun, definisi mentor di kamus-kamus ternyata terlalu luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), contohnya, mentor adalah pembimbing atau pengasuh. Sehingga, mentoring adalah aktivitas pementoran atau pembimbingan saja.

Dalam praktik di lapangan, ada dua jenis mentor:

  1. Mentor Interpersonal. Mentor jenis ini benar-benar membimbing kita langsung. Dia akan menganalisis apa yang sudah kita lakukan dan apa tujuan kita, lalu memberi saran-saran terbaiknya untuk mencapai tujuan itu. Karena itu, kita perlu meminta izinnya untuk bersedia membimbing kita secara personal.
  2. Mentor Massal. Mentor jenis ini membimbing banyak orang sekaligus, dengan sedikit atau tanpa tatap muka. Dia tidak tahu, kita “mencuri” ilmunya dan meniru langkah-langkahnya. Kita tidak perlu meminta izinnya. Sang mentor juga tidak perlu meluangkan waktu khusus untuk kita. Karena sesi mentoring biasanya berupa seminar publik, temu wicara (talkshow), kelas pengajaran, status media sosial, buku, atau metode-metode komunikasi massa lainnya.

Lantaran setiap orang memiliki fase berbeda dalam belajar, maka kebutuhan akan mentor sangat bergantung pada diri masing-masing.

Ada yang benar-benar butuh, karena tidak mampu belajar sendiri secara efektif, alias selalu perlu dibimbing. Ada pula yang memerlukan mentor, tetapi sekadar untuk mengawali bisnisnya. Dan ada yang tidak membutuhkan mentor sama sekali, karena dia memiliki kemampuan autodidak dan determinasi.

Namun secara umum, kita membutuhkan mentor. Setidaknya, mentor massal.

Seorang pebisnis bisa saja mengaku sukses seratus persen lantaran usahanya sendiri. Tetapi coba telusuri asal muasal kesuksesan itu, pasti di ujungnya kita bertemu dengan mentor-mentornya. Minimal, orang tuanya, kakaknya, atau siapapun yang membimbingnya secara tidak langsung, selalu menerima curhatnya ketika gagal, atau sekadar menyemangati untuk bangkit dari keterpurukan.

Agak mustahil juga kita merintis sesuatu dengan pengetahuan nol.

Memang, jika hendak mendirikan Social Media Management Agency, misalnya, kita dapat belajar dari pengalaman sehari-hari mengelola akun-akun medsos sendiri. Namun, kita juga perlu membaca banyak buku dan artikel tentang pengelolaan medsos, menonton tutorial di YouTube, mengikuti seminar, pelatihan, bertanya kepada para pakarnya, dan sebagainya.

Itu artinya kita belajar juga kepada mereka, bukan? Itu artinya, mereka mentor-mentor kita juga, bukan?

Mentor Penulis

Sebelum hidup total dari menulis, saya ternyata juga memiliki beberapa mentor (massal). Saya membaca banyak buku penulisan, salah satunya On Writing karya Stephen King. Saya juga belajar banyak dari Orson Scott Card, William Noble, Anne Rice, Dan Brown, termasuk Bram Stoker.

Untuk nonfiksi lokal, Dahlan Iskan, AS Laksana, dan penulis-penulis Majalah Tempo sangat memengaruhi awal-awal gaya menulis saya.

Saya tidak pernah bertemu mereka, tetapi bisa dibilang merekalah mentor-mentor saya. Saya cukup mengamati tulisan-tulisan mereka dan meniru pola serta cara mereka menyajikan fakta demi fakta.

Bila mereka menulis sesuatu di medsos atau blog tentang sesuatu yang memang saya butuhkan, saya menganggap itu sebagai sesi konsultasi dengan seorang mentor. Sesederhana itu.

Mengapa saya tidak mengambil kursus-kursus penulisan dan mencari mentor interpersonal? Sebagaimana yang saya katakan tadi, tidak semua orang membutuhkan mentor penuh (mentor interpersonal) seperti itu.

Soal menulis, saya cukup percaya diri belajar sendiri tanpa bimbingan privat. Hasilnya? Alhamdulillah, sejauh ini saya berhasil menghidupi diri dan keluarga hanya dari kemampuan menulis saya, tanpa menjadi karyawan siapapun.

Mentor Bisnis

Bagaimanapun, untuk urusan bisnis atau kewirausahaan, saya merasa tidak cukup bakat.

Dalam silsilah keluarga saya, semuanya berada di kuadran pegawai. Hingga usia pensiunnya, ayah saya seorang karyawan. Sementara ibu saya, sempat bekerja sebagai sekretaris kantoran, dan saat ini ibu rumah tangga. Setahu saya, tidak setetes pun darah pengusaha mengalir di nadi saya.

Makanya, saya memerlukan mentor yang dapat membimbing saya secara lebih intens untuk urusan bisnis. Supaya bisnis saya berkembang lebih pesat.

Menemukan Mentor yang Cocok

Kabar buruknya, mencari mentor pun ternyata tidak mudah. Sekalipun itu mentor bisnis online yang berbayar. Karena ada tiga faktor teknis yang harus kita penuhi semuanya:

  1. Jenis bisnisnya
  2. Karakter personalnya
  3. Ideologinya

Kalau jenis bisnis, memang harus sama. Tetapi kenapa karakter personalnya diungkit juga?

Begini. Sebagai seorang introver, saya akan tidak nyaman dan tidak akan efektif bila dimentori oleh seorang ekstrover.

Mayoritas mentor bisnis di luar sana adalah ekstrover. Mereka biasanya menyuruh kita sering-sering keluar, “Bersosialisasilah dengan pebisnis lainnya! Kalau ikut seminar, jangan langsung pulang setelah acaranya selesai. Jadilah pembicara di sebanyak mungkin seminar. Bilamana perlu, pindahkan kantormu ke co-working space supaya setiap saat berhubungan dengan pengusaha-pengusaha rintisan lainnya. Pendeknya, berjejaringlah!”

Di medsos pun demikian. Sarannya sudah bisa ditebak, “Sapa akun-akun yang lain, sekalipun tidak kenal! Lakukan siaran langsung atau live setiap hari. Nggak ada yang nonton? Ciptakan atraksi, makanya! Oh ya, instal juga TikTok dan unggah video tiap hari. Joget-joget satu menit, nggak sulit, kan? Pokoknya, tarik massa milenialmu supaya terjadi interaksi di akun medsos bisnismu!”

Haduuuh…

Mentor-mentor seperti ini sulit berempati dengan sifat kita yang tidak suka kerumunan, tidak nyaman menjadi pusat perhatian, atau cepat merasa lelah bila berada di antara orang banyak. Mereka takkan paham, karena mereka berkarakter ekstrover.

Mereka akan menganggap aneh dan yakin bisnis yang dikelola secara introver tidak akan bisa maju. Karena itu, hanya ada satu jalan: berubahlah jadi ekstrover entah bagaimana caranya!

Bayangkan bila seorang introver tulen mendapatkan mentor seperti itu. Kira-kira, bisa sukses atau tidak usahanya? Dijamin, tambah depresi pemilik bisnisnya! Hahaha….

Menurut saya, apapun karakter pebisnisnya, semua orang bisa sukses besar. Sebab, semua makhluk hidup pada dasarnya memunyai jatah rezeki. Introver pun berhak sukses besar.

Benarkah? Siapa contoh introver yang sukses besar?

Hanya karena saya belum menemukannya bukan berarti mereka tidak ada. Maklum, karakter introver itulah yang membuat mereka jauh lebih sulit ditemukan ketimbang pebisnis-pebisnis ekstrover.

Jadi, saya hanya perlu bersabar dan terus mencari calon mentor yang cocok.

Setelah bertemu orang sukses yang bisnis dan karakternya sama, kita masih harus mempelajari ideologinya. Seorang mentor ideal harus punya ideologi yang sama dengan kita. Saya segera ilfil dan mundur teratur bila seorang tokoh bisnis incaran terbukti:

  • Menyarankan jualan secara membabi buta di medsos, meskipun itu di linimasa medsosnya sendiri. Ini, sih, spamming namanya.
  • Mendompleng iklan orang lain untuk mempromosikan produknya sendiri. Biasanya, di kolom komentar di FB Ads orang lain. Betapa tidak beretikanya!
  • Menyuruh utang. Ada pebisnis yang mengaku bisnisnya pernah bangkrut, lalu bangkit dengan utang atau pinjam orang tuanya. Tiga ratus juta dia pakai untuk bisnis barunya. Tiga ratus juta dia ucapkan dengan enteng. Saya sulit klik dengan orang-orang semacam ini. Seandainya saya bangkrut, saya tidak mau ada yang menyarankan saya utang atau minta orang tua. Saya tidak suka dengan ideologi utang.

Sulit sekali, ya, mencari mentor yang pas itu. Terutama bila keadaan kita cenderung non-mainstream.

Dan jangan lupa, kalaupun kita sudah menemukan calon mentor yang ideal, ada hambaran yang terakhir: kesediaan sang mentor.

Ingat, kebanyakan pendekar pilih tanding tidak punya murid, kecuali untuk ahli warisnya. Karena menjadi mentor itu jelas-jelas membuang tenaga dan waktu produktifnya.

Anda saja, bila ada orang yang mengajukan proposal untuk menjadi murid, mungkin akan spontan menggerundel, “Halah, kerjaan masih numpuk gini, ada saja proposal aneh-aneh begini!” Iya, kan?

Logis sekali pemikiran itu, sebenarnya. Maka jangan tersinggung bila seseorang menolak menjadi mentor Anda atau tidak menggubris permintaan Anda. Itu bukan karena dia sombong, tetapi sekadar langkah logis manajemen waktu dan tenaga.

Senyampang mentor terbaik belum kita temukan, kita selalu bisa mengambil ilmu dari mana saja: artikel blog, seminar, buku, YouTube, podcast, acara radio, dan sebagainya. Cari tokoh panutan, dan jadikan dia mentor massal kita.

Namun, bagaimana jika mentor massal itu pun ternyata tidak sesuai karakter kita? Tinggal ambil tips-tips yang cocok, dan modifikasi atau abaikan yang tidak cocok. Itu yang selama ini saya lakukan.

By Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.