Kategori
c'est la vie

Peristiwa Berdarah Kaum Primata

Sama seperti manusia, dunia hewan bukan hanya tentang rantai makanan. Di sana, juga ada intrik dan politik. Makin cerdas hewannya, makin pelik intriknya.

Peristiwa Berdarah Kaum Primata

Selama ini, manusia selalu menganggap dirinya makhluk cerdas yang paling beradab. Di sisi sebaliknya, kita juga makhluk yang paling biadab. Buktinya, kita suka menumpahkan darah makhluk lainnya, bukan untuk urusan hidup-mati atau berkaitan dengan kebutuhan pangan.

Kita sering membunuh hewan, tetapi dagingnya tidak dimakan. Kita membunuh burung hanya untuk belajar menembak, membunuh gajah hanya untuk diambil gadingnya, membunuh buaya hanya untuk diambil kulitnya. Secara statistik, manusia bahkan juara satu untuk urusan membunuh sesamanya. Pembunuhan tersebut dilakukan demi harta, harga diri, pasangan, kekuasaan, atau warisan.

Namun, benarkah hanya manusia yang gemar menumpahkan darah demi harta-takhta-wanita? Siapa menyangka, monyet dan kera ternyata juga demikian. Coba tonton videonya ini:

Pembunuhan Monyet di Pamurbaya

Kejadian pertama yang membuat saya agak syok itu di hutan bakau, kawasan Pantai Timur Surabaya atau Pamurbaya, sepuluh tahun silam. Di wisata mangrove forest atau hutan bakau, kita berjalan melewati jembatan bambu atau naik perahu menyusuri sungai, dengan pemandangan bakau di kanan-kirinya. Indah sekali.

Nah, saat sedang enak-enaknya naik perahu, sang pemandu bercerita kepada saya mengenai tragedi ini.

Cerita bermula pada 1 Januari 2010, Wali Kota Surabaya, Bambang D.H., meresmikan Wisata Mangrove Gunung Anyar. Sebagai tindak lanjutnya, Pemkot Surabaya berencana menyumbang beberapa monyet untuk dilepasliarkan di Pamurbaya.

Namun, lantaran beberapa pertimbangan, akhirnya rencana itu dibatalkan. Monyet-monyet yang terlanjur didatangkan hendak dikembalikan. Sialnya, ada seekor monyet yang lepas dari kurungan, lalu kabur menuju hutan bakau.

Hanya berselang empat jam, mayat monyet ini sudah ditemukan oleh warga setempat, dalam kondisi tergantung di atas pohon. Wajahnya hancur, kedua tangan dan kakinya putus, tubuhnya penuh luka cakar. Dilihat dari kondisi mayat tersebut, kuat dugaan, itu ulah monyet-monyet natif yang tidak terima.

Di Pamurbaya, jelas sudah ada komunitas monyet. Jika tiba-tiba monyet baru dilepas di sana, apalagi ia sendirian, pasti dikeroyok.

Perang Simpanse Gombe

Perang adalah sesuatu yang kompleks, karena melibatkan konsep-konsep abstrak seperti kekuasaan, kesetiaan, tipu daya, dan kawan-lawan. Namun ternyata, simpanse juga memahami hal-hal semacam itu.

Perang ini bukan terjadi di Indonesia, melainkan di Taman Nasional Gombe, Republik Tanzania, Afrika. Selama 1974 hingga 1978, dua kelompok simpanse berperang: Kasakela dan Kahama.

Dua kubu ini dulunya satu. Menurut catatan Jane Goodall, seorang primatolog spesialis simpanse, perpecahan mulai terjadi pada 1971. Berawal dari kematian Leakey, seekor alpha male di Gombe. Sepeninggal Leakey, Humphrey menjadi penguasa baru.

Charlie dan Hugh yang tidak sreg dengan kepemimpinan Humphrey akhirnya membelot dan membentuk kelompok lain. Humphrey adalah simpanse besar yang agresif, kasar, sering melempar-lempar batu. Mungkin karena karakter brutal itulah, Charlie dan Hugh tidak suka dengan Humphrey.

Komunitas pun terpecah menjadi dua. Kelompok Kahama di selatan Taman Nasional Gombe terdiri dari Hugh, Charlie, Goliath, dan tiga pejantan dewasa lainnya. Ditambah tiga betina dewasa dan anak mereka, Sniff.

Sementara itu, di utara Taman Nasional Gombe, kelompok Kasakela di bawah pimpinan Humphrey sang petahana menang jumlah. Terdiri dari 12 betina dewasa plus anak-anak mereka, dan delapan jantan dewasa.

Sejak 1972, anggota masing-masing kubu tidak pernah lagi saling berhubungan. Kalau sampai kedua kelompok ini bertemu di jalan, keributan selalu terjadi. Minimal saling teriak sambil melempar-lempar ranting pohon. Namun, bentrok fisik, bahkan yang berujung pada pertumpahan darah, baru terjadi pada 7 Januari 1974.

Kejadiannya saat Goby, seorang pejantan muda dari Kelompok Kahama, sedang asyik-asyiknya makan di atas pohon. Tiba-tiba, enam pejantan Kasakela menyergap dan mengeroyoknya sampai mati. Itulah pembunuhan pertama simpanse oleh simpanse lainnya yang tercatat di Taman Nasional Gombe.

Sejak itu, keadaan di sana menjadi semakin mencekam. Masing-masing kelompok saling waspada dan jaga jarak. Kalau sekelompok pejantan ketemu dengan seekor betina, mereka akan mengintimidasinya dan memaksanya bergabung dengan kelompoknya. Betina penting supaya kelompok yang bersangkutan dapat beranak pinak.

Kalau ketemunya sama-sama pejantan? Tergantung. Bila jumlah kelompok lawan lebih banyak, mereka akan diam saja. Cuma mengamati dari jauh.

Sedangkan bila kelompok lawan jumlahnya lebih sedikit, atau malah sendirian, di situlah lawan biasanya dicegat dan dihajar sampai tewas, bahkan terkadang dimutilasi. Mayat-mayat simpanse yang ditemukan sering tanpa tangan, tanpa kaki, bahkan tanpa alat kelamin.

Ini seperti kelakuan monyet di Pamurbaya. Tampaknya, mutilasi merupakan prosedur standar di kalangan primata. Fungsinya barangkali untuk mengirimkan pesan teror kepada pihak lawan.

Namun, sisi gelap primata bukan hanya itu. Dalam memoarnya yang berjudul Through a Window: My Thirty Years with the Chimpanzees of Gombe, Jane Goodall menguraikan temuan-temuan lain yang membuatnya kecewa dengan binatang kesayangannya itu, antara lain:

  • Seekor betina yang kedapatan menculik bayi dan memakannya, ini kejadian tahun 1975.
  • Satan yang pernah tepergok sedang menadahkan tangan di bawah dagu Sniff, lalu meminum darah yang bercucuran dari wajah Sniff.
  • Si tua Rodolf yang melempar batu seberat dua kilogram ke Godi.
  • Ada juga Jomeo yang menyobek kulit betis Dé.
  • Figan yang mengejar sambil terus memukuli Goliath. Padahal, Goliath adalah pahlawan masa kecil Figan.

Setelah perang empat tahun ini, Kelompok Kasakela berhasil membantai semua pejantan Kahama. Otomatis, anggota Kahama betina juga bertekuk lutut. Seekor betina tewas, dua ekor hilang, dan tiga ekor dipukuli serta diculik. Humphrey akhirnya menguasai bekas wilayah Kahama dengan telak.

Namun, itu tidak lama. Karena tempat tersebut ternyata berbatasan langsung dengan teritorial kelompok simpanse lain yang lebih banyak anggotanya, Kalande. Jadi, daripada babak belur, Kelompok Kasakela akhirnya memilih meninggalkan hampir seluruh wilayah barunya.

Ah, ternyata…

Sama seperti manusia, dunia binatang bukan hanya tentang rantai makanan atau memangsa dan dimangsa. Di sana, juga ada intrik dan politik. Semakin cerdas binatangnya, semakin pelik intrik dan politik tersebut.

Referensi

  1. Gombe Chimpanzee War. Wikipedia English. Diakses tanggal 25 Maret 2020.
  2. Feldblum, Joseph T. The timing and causes of a unique chimpanzee community fission preceding Gombe’s “Four Year War”. American Journal of Physical Anthropology. Diakses 1 April 2020.
  3. Thirzano, Yudie. Problema Pelepasliaran Satwa di Pamurbaya: Monyet Wali Kota Akhirnya Mati Dikeroyok. Harian Surya. Diakses tanggal 2 April 2020.
  4. Anindito, Brahmanto. Monkeys Kingdom in Gunung Anyar Mangrove. Blog Braindito. Diakses tanggal 1 April 2020.

Oleh Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.