Senja Kala Kanal Anak di YouTube

Senja Kala Kanal Anak di YouTube

Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat menuding YouTube sudah bertahun-tahun melanggar Undang-undang Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA), salah satunya dengan menyimpan dan menggunakan data anak untuk mengeruk keuntungan.

FTC akhirnya menang di pengadilan. Akibatnya, bukan hanya harus membayar 170 juta dolar, YouTube pun dipaksa melakukan beberapa perubahan drastis dalam aturan mainnya. COPPA memang ada di Amerika Serikat, tetapi YouTube akhirnya menerapkannya di seluruh dunia.

Yang paling terdampak adalah YouTuber kanal (channel) anak. Diramalkan, penghasilan mereka akan tiarap, demikian pula dengan popularitasnya. Sialnya, kanal saya yang cuma remah-remah rengginang, Homerie, bakal tertumbuk juga. Sudah remah-remah, ditumbuk pula. Remuklah jadi butiran debu -_-

Dampak bagi Pengguna YouTube

Persoalannya, kanal Anda untuk anak-anak atau bukan? Itu yang pertama ingin YouTube ketahui. Maka ketika Anda login ke Studio YouTube, YouTube pasti langsung mencegat dan meminta Anda untuk memilih salah satu di antara tiga pilihan ini:

  • Ya, kanal saya untuk anak-anak. Semua video saya selalu untuk anak-anak.
  • Tidak, kanal saya bukan untuk anak-anak. Saya tidak pernah mengunggah video untuk anak-anak.
  • Biar saya tentukan sendiri di setiap video.

Pilihan pertama dan kedua itu untuk kanal yang sudah jelas peruntukannya. Jadi, setiap kita mengunggah video, tidak akan ditanya-tanya lagi. Fix!

Semetara pilihan ketiga direkomendasikan untuk kita yang kadang-kadang mengunggah video untuk anak (di Amerika didefinisikan sebagai 13 tahun atau kurang), kadang buat pemirsa di atas 13 tahun. Sehingga, setiap mengunggah video, kita masih harus disodori pilihan.

Walaupun mengaku memiliki algoritma khusus untuk mengidentifikasi secara otomatis setiap video, YouTube berharap setiap kreator berinisiatif menentukan sendiri apakah video-videonya untuk anak atau bukan. Aturan itu tertulis jelas:

Kreator diwajibkan untuk memberitahukan apakah konten mereka dibuat untuk anak-anak atau tidak. Kami juga akan menggunakan machine learning untuk mengidentifikasi video yang dengan jelas menargetkan penonton berusia muda.

Mungkin, algoritma ini dapat mendeteksi penampilan seorang anak dalam video dominan atau tidak, menghitung jumlah anak-anak dalam sebuah video, memantau orang dewasa yang berpakaian warna-warni dan gaya bicaranya seperti guru TK, gaya desain editing video, lagu ceria, atau hal-hal lain yang mengindikasikan bahwa itu video dari, oleh, atau untuk anak. Teknologi AI mudah saja mendeteksi itu, bukan?

Apakah Kanal Homerie adalah untuk anak-anak? Kalau mau opini jujur, jawabannya adalah tidak. Untuk keluarga muda, memang. Namun, segmen utamanya sebenarnya orang tuanya, bukan anaknya. Bahasa yang digunakan di Homerie bukan untuk anak-anak. Mereka boleh menontonnya, tetapi barangkali tidak sepenuhnya akan paham. Homerie pun tidak cocok bila ditaruh di YouTube Kids.

Nah, kenapa pada akhirnya kami memutuskan menaruh Kanal Homerie di kategori anak? Itu kami lakukan dengan berat hati setelah kami membaca ancar-ancar yang diberikan YouTube. Sebuah kanal harus digolongkan sebagai “Made for Kids” bila, kurang lebih:

  1. Temanya adalah anak-anak atau karakter anak-anak
  2. Tampak anak-anak (dalam kuantitas dan kualitas yang signifikan)
  3. Terdapat program atau tokoh animasi anak-anak yang populer
  4. Tokoh dalam video berakting atau bercerita menggunakan mainan anak-anak
  5. Tokoh melakukan pola permainan yang wajar dan umum, seperti berakting dan/atau berimajinasi
  6. Ada lagu, cerita, atau puisi anak-anak yang populer.

Video-video Homerie jelas memenuhi beberapa ciri tersebut. Ya sudahlah. Toh, apa gunanya menyangkal, kalau akhirnya teknologi machine learning YouTube mampu mengidentifikasinya secara sepihak?

Tidak jujur atau mencoba merekayasa semua ini bisa berujung pada sanksi untuk kanal atau akun YouTube kita. Bahkan mungkin, FTC sendirilah yang akan menindak kita. Eh, apa bisa? Ya, siapa tahu.

Lantas, setelah menentukan kanal kita untuk anak, apa konsekuensinya? Nah, ini yang ngeri-ngeri sedap. Kata YouTube:

Kami akan berhenti menayangkan iklan yang dipersonalisasi pada konten yang dibuat untuk anak-anak, baik yang diidentifikasi oleh Anda maupun sistem pengklasifikasi kami. Sesuai dengan Undang-undang COPPA, iklan yang dipersonalisasi (ditargetkan untuk pengguna berdasarkan penggunaan produk dan layanan Google sebelumnya) tidak boleh ditayangkan kepada penonton anak-anak. Kreator yang melakukannya akan mengalami penurunan pendapatan. Perlu diperhatikan bahwa kami akan terus menayangkan iklan yang tidak dipersonalisasi (iklan yang ditampilkan berdasarkan konteks, bukan berdasarkan data pengguna) pada konten yang dibuat untuk anak-anak.

Sebagian besar iklan di YouTube adalah iklan yang dipersonalisasi atau ditargetkan khusus ke demografi tertentu, asal tahu saja. Maka YouTubers yang mengandalkan penghasilan Adsense dari kanal anak jelas akan cemberut membaca keputusan ini.

Namun, sejak awal, mencari uang di YouTube lebih mirip dengan kegiatan wiraswasta ketimbang bekerja sebagai pegawai kantoran. Semua orang tahu, penghasilan dari wiraswasta itu bisa naik-turun, bahkan bisa bangkrut total. Risiko itu seharusnya sudah dipahami oleh setiap YouTuber. Kalau mau penghasilan yang pasti-pasti, kerja di kantor saja, jangan jadi YouTuber.

Beberapa fitur tidak akan tersedia lagi pada jenis konten ini, seperti komentar. Anda tidak akan dapat memberi komentar di halaman tonton. Fitur suka/tidak suka serta subscription pada konten ini tidak akan muncul di daftar umum. Secara keseluruhan, interaksi penonton dengan konten yang dibuat untuk anak-anak di YouTube.com akan sangat terbatas.

Tidak ada komentar, like-dislike, dan subscription. Bahkan ada indikasi fitur-fitur untuk mempromosikan video/kanal kita seperti end screen, card, notifikasi, playlist, save, dan suggested videos juga dihapus. Padahal, itu semua fitur-fitur yang sangat membantu.

Per 10 Desember 2019, pembatasan ini sudah mulai berjalan. Praktis, kanal anak seperti dipingit, tidak boleh keluar rumah atau bermain dengan anak luar. Lantas, siapa yang menonton kanal kita? Views pasti jauh menurun. Jelas, tahun 2020 nanti adalah senja kala bagi kanal anak!

Menyikapi Perubahan YouTube

Dengan aturan baru yang radikal ini, kita pantas khawatir. Saya lihat, banyak juga YouTuber yang gondok dan akhirnya berhenti mengunggah video anak, atau banting setir ke segmen remaja, dewasa, atau umum. Mudah dipahami kekecewaan dan kepanikan mereka.

Namun, Homerie sendiri memutuskan tetap berkarya di YouTube dengan konten-konten seperti biasa. Mengapa?

  1. Homerie tidak mencari uang di YouTube. Sejak awal, fungsi kanal ini hanya untuk berbagi tips pengasuhan anak dan dokumentasi kegiatan keluarga. Kalau generasi sebelum kita mendokumentasikan kegiatan keluarga dengan album foto, generasi sekarang dengan album video. Kami tidak ada niat untuk mengomersialkan atau memonetasi album video itu, apalagi membiarkannya menjadi baliho bagi produk-produk orang lain (baca: menjadikannya space iklan).
  2. Semua kekhawatiran ini belum terjadi. Baru berlaku efektif 10 Desember 2019, itu pun bertahap hingga 2020. Bagaimana keadaannya nanti? Bahkan YouTube sendiri, menurut saya, masih meraba-raba dan sangat mungkin melakukan beberapa penyesuaian di tengah jalan nanti. Jadi, buat apa mengkhawatirkan sesuatu yang kita belum tahu persis?
  3. Terserah YouTube. Kita ini siapa? Cuma pengontrak di rumah orang. Bahkan membayar uang kontrakan pun tidak, kan? Sudah sepantasnyalah kita patuh saja. Toh sejak awal, pengguna YouTube harus berusia di atas 13 tahun. Untuk anak, YouTube menawarkan YouTube Kids. Sebenarnya, media-media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter, juga melakukan pembatasan usia. Jadi, ini biasa-biasa saja.
  4. Ini aturan yang bagus. Memang sembrono bila kita membiarkan iklan betebaran di depan anak-anak. Apalagi iklannya tidak sesuai dengan usia dan kepentingan anak. Tujuan aturan ini adalah melindungi anak-anak. Kalau kita menilai dengan emosi dan ego, yang terjadi mungkin seperti kasus Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) vs Djarum (perusahaan rokok) beberapa bulan silam. Untung ini kejadian di Amerika. Seandainya di Indonesia, pasti warganet akan memburu orang-orang FTC untuk dirisak, dihina dengan meme-meme, dicari-cari kesalahannya di masa lalu dan diekspos di medsos-medsos sebagai, “Ini, lo, orang yang juga penuh dosa tapi sok ngatur!” Hehehe….
  5. Toh banyak temannya. Semua kanal anak juga terimbas kebijakan baru ini. Yang sedih itu kalau kita sendiri yang dipingit atau dihukum. Sedangkan ini “krisis” global. Seandainya views kami berkurang, views kanal sejenis pasti juga senasib. Buat apa merasa jadi YouTuber yang paling sengsara sedunia?

Memang, perubahan kebijakan ini telak menonjok YouTuber anak maupun yang agak nyerempet-nyerempet ke sana (seperti Homerie). Namun, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kan. Jadi, mau bagaimana lagi, Gaes….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.