Perumahan Amerika Bermasalah, Semua Kena Getah

Kredit perumahan di AS bermasalah

Kredit perumahan di AS bermasalah

Bursa Efek Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-30. Namun kado tak menyenangkan terpaksa diterima: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 34,006 poin ke level 2.207,4. Padahal IHSG sempat meraih gain terbesar setahun terakhir pada 24 Juli lalu.

Sebenarnya, tak hanya di Indonesia, bursa di dunia memang sedang kompak merunduk. Bursa-bursa Eropa, Asia Pasifik dan Wall Street rontok berjamaah. Biang keroknya adalah krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat. Subprime mortgage merupakan hipotik yang ditopang jaminan kredit kepemilikan rumah dengan debitor berkemampuan bayar rendah.

Bursa global merosot tajam sejak aksi jual dari para pemodal, bahkan terhadap saham-saham unggulan sekalipun. Konsekwensinya, bank-bank besar melakukan pengetatan likuiditas, yang ujung-ujungnya membuat investor babak belur.

Sebagai ilustrasi, ketika harga rumah (murah) naik, pembeli, broker dan bank untung. Tapi begitu kenaikan itu sudah dinilai tidak masuk akal, harga akan turun kembali. Otomatis, pembeli dan bank merugi. Dimulailah episode krisis itu.

Krisis lokal seperti ini pun pada gilirannya berimbas ke pasar dunia. Salah satu penyebabnya, pembeli (investor) tadi bukan cuma dari Amerika, sebab pasar kredit di Amerika telah disekuritisasi.

Krisis ini telah merugikan banyak fund manager, bank dan investor besar. Para ekonom dunia bahkan memperkirakan guncangannya masih akan berlanjut hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Subprime mortgage di negeri Paman Sam memang tidak berpengaruh langsung pada pasar modal global, namun berpotensi menjadi sumber resesi ekonomi ke depan.

Amerika sendiri terlalu lambat mengantisipasinya. Padahal informasi tentang terpuruknya pasar subprime mortgage sudah ada lumayan lama seiring melemahnya pasar rumah kelas menengah ke bawah.

Di lain sisi, performa keuangan Amerika Serikat sedang tampil kedodoran. Negara adikuasa itu sedang dihantam dua defisit, yaitu defisit APBN (bumerang dari berbagai aksi perang yang digemarinya) dan defisit neraca perdagangan.

Untungnya, krisis ini memicu strategi global baru. Sejumlah bank sentral di dunia mengambil langkah inisiatif yang kompak, tidak jalan sendiri-sendiri seperti biasanya. Sebagai misal, European Central Bank menyuntikkan 94,8 miliar euro ke pasar valas, sementara Bank of Japan menggelontor 1,4 miliar yen untuk meyakinkan pasar dan meredakan kepanikan.

Pernyataan Bank of China untuk tidak melepas cadangan devisa senilai 1,2 triliun USD pun lumayan berhasil menenangkan pasar. Sebab sebelumnya, yang dikhawatirkan adalah saat China yang sedang sakit hati lantaran produk-produknya dilarang di Amerika, melakukan aksi balas dendam dengan melepas cadangan devisa yang berbentuk dolar Amerika. Andaikan itu sampai terjadi, krisis ini bisa jadi bertambah parah.

Pasar keuangan Indonesia sendiri terkena imbas lebih lama ketimbang negara-negara maju di atas. Pasalnya, pemodal asing di sini menguasai sekitar 70% dari total transaksi saham. Selain itu, diyakini intervensi Pemerintah relatif kecil. Pantas saja, rupiah dan IHSG tak pernah mengalami penguatan signifikan pada periode krisis ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge