Investasi: Upaya Menyayangi Diri di Usia Senja

Nelayan mungkin hidupnya pas-pasan. Tapi bila rutin berinvestasi, masa tuanya bisa jadi lebih bahagia dan merdeka dari kita. Percaya? - photo by Brahm

Nelayan mungkin hidupnya pas-pasan. Tapi bila rutin berinvestasi, masa tuanya bisa jadi lebih bahagia dan merdeka dari kita. Percaya? – photo by Brahm

Saya masih kuliah ketika Robert T. Kiyosaki menebar kegalauannya. Menabung, kegiatan yang awalnya saya anggap bijak bestari, ditertawakan dalam buku-bukunya. Katanya, seaman apapun bank tempat kita menabung, selalu ada pencuri tak kasat mata yang akan berhasil menembus dindingnya. Sebangsa tuyul? Barangkali. Tapi seingat saya, Kiyosaki menyebutnya inflasi.

Taruhlah Anda menabung di bank dengan bunga 5% per tahun. Ternyata, inflasi alias kenaikan harga barang pada tahun itu 6%. Maka sudah kelihatan, simpanan Anda minus 1%. Per bulan kena pajak dan biaya administrasi bank pula. Tambah amsyong kan?

Jadi, sebenarnya buat apa menabung? Mending setiap dapat uang, habiskan saja untuk membeli barang-barang. Mumpung harganya belum naik.

Hehehe, ya tidak begitu juga.

Menabung tetap penting untuk cadangan dana jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, Kiyosaki (dan para penasehat keuangan lainnya) menyarankan berinvestasi. Sebab, hasil investasi biasanya lebih tinggi dari angka inflasi.

Tapi investasi jangan dibayangkan yang “seram-seram” seperti membeli klub bola, menyuntik dana buat pengeboran minyak lepas pantai, memodali film Hollywood, atau menekori pembangunan Disneyland. Ada kok investasi-investasi yang ramah kantong.

Di Manulife, misalnya, Anda bisa ikut program reksadana hanya dengan menyetor 100.000/bulan. Di bank-bank syariah, Anda bisa mengatur angsuran kepemilikan emas menjadi 100.000/bulan, atau bahkan kurang.

Hari ini, investasi itu masalah mau atau tidak. Bukan lagi mampu atau tidak. Dan kalau diperhatikan, pola pelakunya selalu 3i. Yaitu insyaf… irit… invest!

Insyaf dulu

Melalui buku-buku Kiyosaki, saya sadar bahwa investasi itu penting sekali demi masa tua. Sayangnya, pria blasteran Jepang-Amerika itu tidak membeberkan langkah-langkah menjadi investor, terutama bagi pemilik saldo cekak seperti saya.

Akibatnya, saya ngawur saja mencari peluang investasi di iklan-iklan koran. Saya masuk ke skema money game (program MLM menganakkan uang), patungan modal bisnis (dengan imbalan fix sekian persen per bulan), dan forex (perdagangan mata uang) yang dikelola seorang amatiran tapi punya semangat tinggi.

Hasilnya? Mantap! Saya pun merasa bahwa menjadi “investor” memang jalan tol untuk kaya. Kontrak dengan orang-orang dan lembaga-lembaga itu terus saya perpanjang.

Namun lama-lama, mulai ada yang curang. Entah karena sejak awal niatnya memang busuk, atau terpaksa curang karena mereka sendiri bangkrut. Singkat cerita, uang saya tidak kembali. Empat belas juta hangus. Baguuuus! Saya bukan anak orang kaya, belum bekerja pula. Jadi uang segitu besar sekali buat saya.

Namun Alhamdulillah, setelah berdoa tobat, lalu mendapat pekerjaan, keuangan lama-lama membaik. Mulai ada duit buat menabung lagi. Investasi lagi? Ya, siapa takut! Hanya, lebih selektif kali ini.

Jadi, Kawan, yang dimaksud dengan insyaf itu bukan sekadar sadar bahwa investasi sangat penting, melainkan juga move on dari segala bentuk investasi bodong.

Ingat, investasi itu ada proses dan nalarnya. Modal ayam ya dapat telur, bukan ayam baru. Modal sapi ya dapat susu. Berharap dapat sapi baru, boleh, tapi butuh waktu bertahun-tahun. Maka jangan terperosok dalam investasi “modal sejuta, langsung dapat sejuta” atau sejenisnya. Pokoknya, kalau kesannya too good to be true, biasanya itu tipu-tipu.

Periksa juga bobot-bibit-bebet orang atau lembaga tersebut. Cek izin usahanya. Lebih aman sih berurusan dengan brand-brand besar. Karena mereka akan berpikir seribu kali kalau mau membawa kabur uang Anda.

Lalu, hidup irit

Ketika Anda sedang tongpes dan harga-harga membumbung, jangankan berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja keteteran. Maka pilihan logis adalah mengirit. Eh, seorang teman tiba-tiba menyeletuk, “Daripada hidup irit, kenapa tidak cari penghasilan tambahan?”

Wah, heroik sekali idenya…

Tapi, mau sampai kapan? Tambah habis dong waktu buat keluarga, ibadah dan istirahat. Lagipula, kenapa sih mengirit harus dihindari? Tidak keren? Hanya buat pecundang? Jangan salah, irit itu…

  • Sesuai syariat. Islam melarang umatnya berlebih-lebihan dan mubazir. Saya rasa, agama-agama lain juga sama anjurannya.
  • Sehat bermanfaat. Saya tidak merokok. Kalau biasanya orang merokok sebungkus sehari, per bungkus Rp 10.000, maka saya sudah irit 300.000/bulan. Terus, saya memilih berjalan atau mengayuh sepeda setiap kali memungkinkan. Selain sehat, juga bermanfaat bagi lingkungan karena polusi udara berkurang. Contoh lain, saya suka memanfaatkan kertas bekas yang baliknya masih kosong. Sikap ini sedikit-banyak membantu mengurangi sampah, limbah, dan penebangan pohon untuk produksi kertas. Ya kan?
  • Kuat. Orang yang berhemat itu lama-lama fisiknya kuat lho. Mampu jalan kaki agak jauh, tahan lapar, dll. Begitu juga mentalnya, dia akan rendah hati, nafsunya pun terkendali. Teman-teman saya sering mengejek, “Dari dulu HP-mu kok itu saja. Orang pada ribut Android Lollipop, kamu masih pakai Gingerbread? Hadeeeh!” Saya tersenyum saja. Tidak membalas gojlokan itu. Terbukti kan betapa kuatnya mental saya! Hahaha…
  • Cermat. Daripada belanja daging merah, mending beli ikan (lebih murah, sehat, dan mencerdaskan). Daripada memakai jasa calo, mending mengurus sendiri. Oh ya, Mei lalu, saya berekreasi ke Semarang empat hari bersama istri dan anak. Tanpa ada kenalan, kami blusukan ke Masjid Agung Jateng, Gereja Blenduk, klenteng-klenteng, Lawang Sewu, Simpang Lima, Wonderia, menginap tiga malam di hotel bintang tiga. Pengeluaran total dari rumah di Surabaya sampai menginjak kaki ke rumah lagi? Rp 1.294.000! Coba kalau perencanaannya tidak cermat, mana mungkin seirit itu?

Lihatlah, asalkan motivasinya positif dan penerapannya tidak sekatrok Paman Gober atau Hagemaru, mengirit adalah sebuah seni. Indah! Dan yang terpenting, dari pengiritan tersebut, kita jadi punya modal untuk berinvestasi.

Akhirnya bisa invest!

Untuk kebutuhan jangka pendek, menabunglah. Untuk jangka menengah, buatlah deposito. Dan untuk jangka panjang, berinvestasilah: reksadana, emas, saham, obligasi, properti, atau lainnya.

Kenapa tidak didepositokan semua saja? Deposito memang aman, tidak berisiko seperti investasi. Tapi perhatikan tabel ini. Angka-angka di bawah ini hasil pengelolaan riil dari bank syariah yang sama pada 2014. Angka-angkanya dalam satuan ribu rupiah, dan dibulatkan hingga tanpa koma.

Bulan

Deposito (profit)

Reksadana (profit)

Februari 10.000 (35) 6.154 (46)
Mei 10.000 (32) 7.486 (56)
Agustus 10.000 (36) 8.102 (51)
November 10.000 (37) 9.524 (89)

Perhatikan, dengan nominal yang kurang dari induk deposito saja, reksadana terbukti jauh lebih menguntungkan. Dan profit itu masih bisa ditingkatkan dengan memilih reksadana yang lebih berisiko. Maksudnya? Begini, ketika mendaftar program reksadana, biasanya Anda akan ditawari tiga opsi:

  1. Fixed income. Nyaris tanpa risiko. Semua dana Anda akan dimainkan di tempat yang aman dan terproteksi. Tapi, hasilnya takkan jauh-jauh dari deposito.
  2. Mixed income. Setengah uang Anda akan dikelola di tempat yang berisiko, setengahnya lagi di tempat yang aman-aman saja. Saya memilih opsi ini, dan hasilnya seperti tabel di atas.
  3. Growth income. Semua dana Anda akan dimainkan di tempat yang berisiko tinggi, seperti bursa saham. Hasilnya memang sering tinggi, tapi kadang nyungsep juga. Pilih opsi ini bila Anda pecinta debar jantung dan adrenalin.

Reksadana saya siapkan untuk membiayai masa senja saya bersama istri. Jadi tenornya saya pilih 15 tahun. Setelah jatuh tempo pun rencananya tidak langsung saya tarik, namun saya lanjutkan sampai benar-benar tidak mampu membayar. Tahun ini, saya setor 300-500 ribu ke manager investasi per bulannya. Saat bokek melanda, saya setor 100.000 saja, hehehe…

Namun setiap tahun selalu saya naikkan setorannya, untuk semakin menjauhi tuyul inflasi yang suka usil. Idealnya, berapa total kebutuhan dasar bulanan saat ini, itulah yang harus saya setorkan rutin ke manager investasi. Kebutuhan pribadi (berdua) lho. Kebutuhan anak saya tidak dihitung. Mengapa?

Pertama, karena saat saya pensiun, insya Allah anak sudah mandiri. Kedua, toh kebutuhan dasar anak, yaitu pendidikan SD sampai kuliah, sudah saya persiapkan melalui instrumen investasi yang lain: emas.

Ada banyak bentuk investasi. Pilihlah yang sesuai karakter dan kekuatan finansial Anda. Masing-masing jenis investasi punya kelebihan dan kekurangan. Pelajari baik-baik, lalu putuskan mau invest di mana saja. Jangan takut salah mengambil keputusan.

Yang salah itu hanya mereka yang ikut investasi abal-abal. Atau, orang yang sudah masuk usia produktif tapi belum juga tergerak untuk berinvestasi. Mungkin orang seperti itu perlu membayangkan dirinya ketika sudah renta, satu per satu ketidaknyamanan menggerogoti tubuhnya, dan dia masih harus mengencangkan ikat pinggang karena tidak punya uang.

Horor kan? Makanya, ayo segera insyaf, irit dan invest!

18 thoughts on “Investasi: Upaya Menyayangi Diri di Usia Senja

    1. Brahmanto Anindito Post author

      Hehehe, ternyata masih ada ya yang lebih parah dari tua tak berharta, yaitu tua dengan tumpukan utang! Aduh, semoga itu bukan kita 🙂

      Reply
  1. Mochamad Yusuf

    Wah, keren artikelnya. Sangat bermanfaat. Saya ikuti sepertinya kamu lama nggak nulis Tapi sekali nulis berarti.

    Betul! Saya termasuk orang yang tidak insyaf! Investasi saya cuma properti. Sudah 2 property, Insya Allah nambah 1 property lagi.

    Dulu waktu muda punya reksadana. Mau menikah, saya jual semua. Hehehe. Sepertinya mengikuti nasehatmu, saya kembali ke Reksadana. Apa saranmu Bank bagus yang bisa dipakai? Saya dulu pakai PT Danareksa yang kantornya dekat kantor lama kita dulu.
    Mochamad Yusuf recently posted..Bandung Kini (4): Menjamurnya Wisata Kuliner di BandungMy Profile

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Busyet! Mau tiga properti dibilang “cuma”! Iki ngece ta piye, Pak? 😀 Aku kalau properti ya belum berani, Pak. Selain modalnya gede, zakat dan pajaknya juga gede per tahun. Aku kecil-kecilan dulu aja, hehehe. Mencoba dikit-dikit membangun diversifikasi investasi: deposito, reksadana, dan emas. Kan anjurannya, jangan taruh telur-telur dalam satu keranjang.

      Kalau ditanya deposito syariah mana yang performanya bagus, aku bisa jawab, Pak. Karena aku punya di tiga bank yang berbeda. Nah, kalau reksadana, aku nggak pernah komparasi satu-satu. Karena memang cuma punya satu. Tapi coba Manulife deh, Pak. Enaknya reksadana, dana terus nambah. Kita juga handsfree, nggak usah repot-repot ngurusi, mengamati fluktuasi, atau take action. Tinggal setor rutin dan terima laporan rutin. Itu pun bisa lewat online. Cocoklah buat orang mobile dan supersibuk seperti sampeyan 🙂

      Reply
    2. Eduardo

      oh ya pak jadi intinya Di ReksaDana seruulh dana kita itu di kelola oleh manager investasi (bank atau securitas) dan kita tidak harus banyak perperan disitu alias terima beres. apa demikian?yang ingin saya tanyakan1. Apa sajakan peranan kita dalam investasi reksadana tersebut?2. Apa ada biaya administrasinya atau biaya yang dibebankan oleh pihak scuritas/bank apa saja kah itu? dan seberapa besarkah biaya administrasinya sehingga kita lebih bijak tidak hanya memikirkan tentang keuntungannya saja3. Apa kita akan rutin diberikan informasi tentang perkembangan dana yang kita miliki oleh pihak scuritas/bank?4. seberapa amankah dana kita jika kita investasi di perusahaan pialang saham yang teregulasi oleh pemerintah?Terima Kasih

      Reply
      1. Brahmanto Anindito Post author

        Pak Eduardo, saya coba jawab ya….

        (1) Umumnya memang terima beres seperti itu. Tapi kita berperan aktif bisa juga, kalau memang ada program seperti itu.

        (2) Biaya administrasi dan lain-lain pasti ada.

        (3) Ya, kita pasti dikasih laporan rutin.

        (4) Semakin tinggi risiko, semakin tinggi potensi pendapatan. Tidak ada yang aman, dan nanti Anda harus menandatangani pernyataan “tidak ada yang aman” itu dalam kontrak. Hanya, kalau lembaganya legal, kan tidak amannya bukan gara-gara ditipu. Ibaratnya atlet, dia bisa menang atau kalah dalam pertandingan. Tapi kalau agennya ilegal, dia bisa ketipu bahkan sebelum tanding.

        Semoga jelas. Jika masih kurang jelas, silakan ditanyakan saja langsung ke Account Executive pengelola keuangan yang diinginkan.

        Reply
  2. Kamilia R

    Senang baca tulisan ini. jadi tergerak untuk investasi walo saya masih kul dan uang masih dari ortu. Tapi kalo cuma 100ribu/bulan saya juga mampu kayaknya. Tapi mohon saran menurut Penulis, manakah investasi yang paling menguntungkan dan aman diantara semua yang disebutkan diatas ? Thanks before.

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Aku bukan ahli yang kompeten menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, Kamilia 🙂 Tapi gambaran umumnya, masing-masing bentuk investasi punya kelebihan dan kekurangan.

      Untuk awal-awal, aku menyarankan deposito. Tapi deposito minimal sejuta lho, meski berikutnya nggak perlu setor apa-apa lagi. Kalau nggak ada duit segitu yang nganggur ya reksadana aja. Asal bisa setor minimal 100.000 per bulan, reksadana rasanya pilihan investasi yang paling cocok. Emas boleh juga sih, meski harganya sedang naik-turun (tapi bukan masalah kan kalau targetmu jangka panjang).

      Kalau udah, silakan jajal jenis-jenis investasi yang lain. Yang lebih berisiko, mungkin. Biar hasilnya lebih maksimal! Ingat, high risk high profit. Tapi tetep, jangan investasi yang abal-abal ya. Jangan mengulangi kesalahanku 🙂

      Reply
  3. Ayu R Mulia

    Mas Brahmantio,
    dari dulu ngamatin kayaknya masnya asik banget main di dunia investasi. sebenarnya dulu aku uda pernah ikutan deposito2an. Pernah berapa bulan doang masukin dana buat depositoin, langsung ambil ternyata uda dapat untung hampir sejuta aja. Nah pertanyaanku deposito dan reksadana gini halal gak sih mas dimata Islam, masih penasaran semoga ada dalil kuat terkait bisnis investasi ini.

    Oh ya, klo deposito yg bisa dimulai 1 juta itu bank apa ya mas?
    Matur nuhun mas..:D

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Deposito minimal 1 juta itu yang aku tahu sendiri di Bank Muamalat, Mandiri Syariah, dan BRI Syariah. Wiiih… Kalau deposito dalam beberapa bulan aja udah untung sejuta, berarti induknya dulu nyampai 100 juta ya, Yu? Padahal, yang didepositokan kan biasanya uang nganggur. Nggak kebayang deh uang tidak nganggurmu. Ngeri campur ngiri, euy! Pantes sering jalan-jalan ke Jerman ;P

      Tapi jangan tanya dalil, aku bukan ahlinya. Tapi kalau ragu, kita selalu punya pilihan “syariah”, bukan? Reksadana syariah, deposito syariah, asuransi syariah, udah banyak di Indonesia. Beberapa pengelola keuangan konvensional aja, bahkan yang dari negara sekuler sekalipun, mulai buka versi syariahnya di Indonesia. Contohnya ya Manulife itu, ada reksadana syariahnya juga ternyata.

      Mereka tidak pakai sistem riba, tidak mengucurkan dananya ke bisnis-bisnis yang dilarang Islam atau meragukan (syubhat). Ada Dewan Syariah Nasional kok yang mengawasi sistemnya. Selebihnya, kita percaya saja pengelola investasi itu amanah dan kompeten 🙂

      Reply
  4. Ihsan

    Teringat sesosok kawan bernama Bram. Pengendara sepeda motor cowok, tas ransel yang didalamnya ada perkakas motor jaga-jaga jika mogok, baju lengan panjang cenderung kebesaran, rambut belah tengah tahun 90-an, dan tipe petualang backpaker! 🙂 Ente hebat, Bram! Perencanaanmu jauh lebih matang dariku! Kalo aku payah dalam perencanaan keuangan tapi aku punya Allah Maha Perencana, jadi aku pasrahkan saja pada-Nya hidupku dan matiku ini. Dan alhamdulillah, keberuntungan selalu memihakku. Sorry yo, bro!
    Tentang investasi, aku teringat perkataan Sayyidina Ali karramallahu wajhah saat ditanya,”wahai Ali, jika dihaturkan antara kekayaan harta dan ilmu, kau pilih yang mana?” Ali menjawab,”aku pilih ilmu!” sipenanya bertanya,”kenapa wahai Ali?” Ali menjawab,”jika harta benda maka aku lah yang menjaganya tapi jika ilmu maka ia lah yang menjagaku”. 🙂

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Allah Maha Perencana, sehingga kita tidak perlu sok tahu atau susah-susah berencana. Sedaaaaap… lanjutkan, Mas Bro! 😀 Salam buat istri dan anak ente. Semoga mereka juga selalu beruntung seperti ente. Amin.

      Reply
  5. Cak Yuki

    Mantap mas. Pengalamannya mirip aku dulu hehehehe… Sempet trauma mau investasi lagi tapi sama Allah emang disuruh baca artikel sampeyan. Jadinya mulai tergerak nyari investasi sesuai kantong perantau hehehehe… Suwun mas. Barakallah.

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Kantong perantau yang makmur ya? Hehehe…

      Tapi pernah kejeblok gitu memang bikin pilihan investasi kita jadi yang aman-aman saja dan selektif ya, Mas Yuki? Entah apa yang terjadi kalau dulu aku nggak pernah kena jebakan Betmen. Mungkin sampai sekarang belum insyaf. Masih ngawur dan berangasan milih investasi aneh-aneh.

      Reply
      1. Cak Yuki

        Alhamdulillah. Amin ya Rabb didungani pakar investasi makmur di perantauan. 😀

        Tapi emang bener sih mas. Dulu aku daftarnya ke perusahaan yang emang lumayan bonafid di Surabaya. Tapi ya bener sampeyan, kalo brokernya amatiran jadinya ikutan amatir juga hasilnya. Sempet shock juga soalnya nominal ilangnya mirip2 sampeyan gitu. Sempet trauma liat buku-buku trading yang isinya jaminan kita bukan jadi gambler. Ndilalah di kantor baru ada salah satu karyawan yang main trading kecil2an. Aku sempet ditawari tapi langsung tak tolak. Mending sekalian deposito atau reksadana itu. Tapi masalahnya dulu sempet ragu mau ke reksadana, soalnya selain nominalnya masih kudu gede setornya, masih ada kekuatiran karena manajer keuangannya pasti juga muter dana itu di tempat beresiko seperti penjelasan sampeyan. Tapi makin lama sekarang kok malah ada yang syariah juga, jadinya bisa lebih tenang karena ndak makan riba. Tinggal satu tantangannya, meyakinkan istri yang dulu juga shock dan jadi parno denger kata investasi. Pengennya sih buat kejutan aja, jadi pas jatuh tempo bisa kasih surprise yang menyenangkan. Apalagi ternyata reksadana bisa punya sifat seperti deposito. Jadinya ndak cekot-cekot mikirin duit ilang kayak jaman trading dulu hehehehe….

        Reply
        1. Brahmanto Anindito Post author

          Oooo, kejadiannya setelah nikah? Yo memang berat, Mas. Kalau aku dulu galau, galau sendiri. Masih bujang, nggak punya tanggungan. Berarti, aku agak beruntung dibandingkan sampeyan, hehehe.

          Istriku malah baru tahu kejadian ini dari tulisan ini. Setelah baca, dia senyum-senyum saja, “Masa sih dulu ilang segitu?” Entah apa dia bisa senyum selebar itu kalau kejadiannya setelah menikah dan punya anak.

          Iya, kalau reksadana sekarang sudah kayak kita nabung biasa. Cepek per bulan saja boleh. Nek kelas penyiar kakap & rockstar seperti sampeyan yo minimal 1 jutalah per bulan. Nggak akan terasa sebagai pengeluaran.

          Reply
  6. Pingback: Balada Adit, Sopo dan Jarwo | Brahmanto Anindito's Blog

  7. marcellina

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Pasar Modal. Pasar modal merupakan suatu hal yang dapat dipelajari setiap kalangan yang memiliki modal dan ingin menanamkan modalnya dengan benar. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai pasar modal yang dapat dilihat di Pasar Modal

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge