Kiara 1: Ketuban Pecah Sebelum Waktunya

Sepulang dari salat Ied (Idhul Adha), saya diam di tempat tidur. Bingung, apa yang mau saya lakukan. Padahal, kemarin malam saya sudah berencana mengerjakan revisi dari seorang klien. Mumpung hari libur. Tapi, entah karena apa, saya berubah ragu pagi ini. Akhirnya, saya memutuskan tidur dulu, meski tak mengantuk.

Ternyata, keputusan itu benar. Sebab pada jam-jam berikutnya, sampai keesokan harinya, tak ada lagi kesempatan untuk tidur. Kalau pun ada, itu adalah tidur sambil duduk.

Ceritanya begini. Pada pukul 08.11, istri saya membangunkan, “A, kayaknya ketubanku pecah deh. Dari tadi keluar cairan terus.”

Saya kaget. Tapi heran juga. Dalam bayangan saya, peristiwa ketuban pecah itu diikuti dengan rasa nyeri. Ini istri saya masih kuat berdiri! Di wajahnya, tak tergambar sedikit pun rasa sakit. Siapa yang percaya kata-katanya, coba!

“Beneran? Yakin?” tanya saya sambil mengucek-ucek mata sehabis tidur.

Tapi, daripada mengambil risiko, kami pun berangkat ke RSI (Rumah Sakit Islam) Jemur Sari. Kami juga ditemani orangtua Surabaya dan dua keponakan kami.

Kamar 111: Pemeriksaan frekwensi kontraksi dan detak jantung janin

Kamar 111: Pemeriksaan frekwensi kontraksi dan detak jantung janin

Sesampainya di RSI, istri saya langsung dimasukkan ke kamar 111. Diperiksa dengan alat perekam detak jantung bayi dan frekwensi kontraksi. Kata suster, bila cairan kental itu keluar lebih sering dari kencing, berarti itu memang akibat ketuban yang bocor. Faktanya, istri saya memang merasa seperti itu.

Yang saya baru tahu, pecahnya air ketuban tidak harus diiringi rasa sakit, sebab membran itu memang tidak memiliki syaraf. Ketuban menampung dua liter air amniotik steril. Saat ia bocor, airnya akan mensterilkan jalur persalinan. Namun jika sampai belasan jam setelah bocor tidak kunjung terjadi persalinan, air ini tidak lagi berfungsi. Si janin pun berpeluang terserang bakteri atau keracunan.

Makanya, walaupun kami bermaksud melahirkan dibantu bidan, dengan kondisi kehamilan seperti ini, suster merasa perlu berkonsultasi pada dokter spesialis yang sekaligus koordinator bidan RSI, dr. Fatimah Zahra. Jika bidan angkat tangan, dokter ini yang akan turun tangan. Apa boleh buat, biaya persalinan pun jadi lebih mahal.

Sebelumnya, banyak yang menyarankan, bersalin dibantu bidan saja sudah cukup. Karena insya Allah kandungan istri saya normal dan bagus. Apalagi, bidan yang dimaksud adalah pegawai tetap RSI yang alat-alat dan tempatnya juga difasilitasi RSI.

Atas petunjuk dr. Fatimah melalui telepon, bidan menginfus istri saya dengan antibiotik. Tujuannya supaya janin tetap terlindung dari infeksi saat sang pelindung (ketuban) sudah pecah.

Lalu, istri saya berganti baju rumah sakit. Sementara, saya pulang dulu untuk mengambil perlengkapan yang tertinggal karena tadi berangkat terburu-buru.

Kamar 103: Menunggu bukaan 4

Kamar 103: Menunggu bukaan 4

Pukul 15.28, pihak rumah sakit memindah istri saya ke kamar 103. Ini kamar kelas II yang harusnya dihuni tiga pasien. Tapi sebagaimana dugaan saya saat memilihnya, di kamar ini hanya ada kami. Wajar kan, tidak setiap hari RSI menerima pasien persalinan yang memilih kamar kelas II. Masih ada tipe kamar lainnya: kelas III atau I.

Jadi, kami mendapat ruang yang tenang dan agak lapang. Ukurannya sekitar 6 x 8 meter. Ada AC, kamar mandi dalam seluas 1,5 x 2 meter (pakai shower), dan televisi. Namun lantaran kami bukan keluarga yang membiasakan diri dengan televisi, alat penghibur itu tak pernah kami nyalakan.

Hari menginjak sore, kontraksi di perut istri saya mulai teratur. Saya sudah tidak berani meninggalkannya lama-lama. Setiap keluar kamar, saya bawa ponsel, jaga-jaga kalau dia butuh bantuan mendadak. Meskipun bel untuk menghubungi suster rasanya lebih praktis bagi istri saya, dibanding harus menelepon atau meng-SMS. Apalagi, sinyal ponsel dan internet di dalam kamar kualitasnya amit-amit, bagus sekali buat ajang berlatih kesabaran.

Bagaimanapun, ponsel saya berbunyi saat saya salat Maghrib jam 17.40 di Masjid RSI. “Barusan diperiksa dalam. Udah bukaan 3,” SMS dari istri saya. Wah, saya tidak tahu bukaan itu menghitungnya bagaimana. Mungkin bukaan 3 adalah lubang persalinan yang sudah membuka selebar 3 cm. Yang jelas, bila telah masuk bukaan 5, bayi siap didorong keluar.

Saya buru-buru balik ke kamar untuk melihat keadaan istri saya. Dia terbaring lemas di sana. Saya semakin enggan keluar kamar lagi. Namun saya harus, karena perut sudah minta diisi, sementara makanan yang disediakan rumah sakit hanya untuk sang ibu.

“Kalau mau keluar, sekarang aja, A. Mumpung belum genting-gentingnya lho,” istri saya mengingatkan.

Belum ya? Ya sudah, saya pergi mencari makan. Secepat mungkin! Apesnya, ini hari libur. Kantin rumah sakit sudah tutup. “Yang ada Indomie Soto, Mas. Ditambah nasi. Mau?” kata penjaganya, bersiap menutup gerainya. Waduh, mie instan? Kapan-kapan saja, Mbak.

Saya pun berjalan keluar parkiran RSI. Tengok kanan, tengok kiri. Tidak ada penjual makanan di sana. Bahkan penjual nasi goreng dorong yang biasanya saya temui setiap periksa kandungan pun hari ini tidak menampakkan batang hidungnya. Barangkali dia sedang berpesta daging kurban di rumahnya.

Daripada berlama-lama, saya mengambil motor untuk mencari makan sedikit lebih jauh. Tidak banyak pilihan juga di jalan. Yang ada hanya penyetan (ah, saya hari ini dan kemarin sudah terlalu banyak makan sambal), pecel (bosan, ah), mie ayam (tak mungkin dibawa ke RSI karena tidak ada garpu atau sendok). Akhirnya, pilihan jatuh ke nasi goreng ayam. Rp 12.000 seporsi normal. Mahal sedikit tak apalah, yang penting mengenyangkan dan bisa dimakan di kamar sekalipun tanpa sendok.

Sampai kamar 103 sudah jam 19.43, istri saya masih terbaring lemas. Saya lekas menyantap nasi goreng itu, lalu salat Isya di Masjid RSI. Dan kembali lagi ke kamar. Saat itu, kontraksi sudah terjadi setiap empat menit dan terlihat semakin menyiksa.

Sambil menunggui, saya menulis catatan ini. Sesekali memotret untuk dokumentasi. Tapi istri saya tidak mau difoto dalam keadaaan kesakitan begitu. “Daripada foto-foto, mending pijitin kakiku, A,” katanya sambil meringis.

Setelah memotret-motret, saya mematikan laptop. Saya berhenti menulis. Lalu memijati kakinya. Kelihatannya menyakitkan sekali. Saya yang mau ikut tidur di dipan berdua jadi merasa tidak enak. Masa’ istri saya sudah menderita masih harus berbagi dipan?

Padahal saya sangat ingin berbaring. Dari pagi saya duduk terus. Berjalan terus. Tumit kiri agak bengkak. Punggung tak pernah rebah. Sementara, kamar yang saya sewa ini tidak menyediakan ranjang buat pendamping pasien. Ada dua ranjang menganggur di sana. Tapi semuanya ditulisi, “Dilarang menempati selain pasien!”

Sial…

Hei, tapi di kursi-kursinya tidak ada tulisan semacam itu! Jadi, saya ambil dua kursi tersebut. Lalu saya jajarkan dengan kursi di bilik kami. Saya pun segera memiliki ranjang darurat sendiri. Lumayan.

Kamar Persalinan: Bukaan 5-8

Kamar Persalinan: Bukaan 5-8

Tak lama kemudian, pukul 21.39, beberapa suster dan bidan datang melakukan pemeriksaan dalam. Kesimpulan mereka, istri saya sudah masuk bukaan 4. Kami pun pindah ke ruang persalinan.

Rintihan istri saya semakin menyayat-nyayat. Kontraksi terjadi hampir setiap dua menit. Masing-masingnya bisa berlangsung sampai 45 detik. Saya melihat dahi istri saya penuh dengan keringat, padahal AC di ruangan sudah dingin. Dia juga sering tidak bisa membedakan mana kontraksi dan mana keinginan untuk buang air besar.

Sembari memijat-mijat kakinya, pikiran saya menerawang. Saya hanya takut istri saya kenapa-kenapa sebelum atau ketika sedang melahirkan. Terus terang, itu kekhawatiran utama saya sejak lama, sejak dia mulai hamil.

“Dipijit sininya lho, Pak,” salah seorang suster membuyarkan lamunan saya. Dia memberi contoh mengusap-usap panggul istri saya. “Daerah sini biasanya pegal karena terus-terusan kontraksi.”

Saya pun memijati daerah itu. Agaknya mujarab. Penderitaan istri saya seperti berkurang. Sebelah tangan yang menganggur saya gunakan untuk membalas SMS yang datang silih berganti. Dari Garut. Dari Cicalengka. Juga dari Surabaya. Saya memang jadi wartawan dadakan yang sedang melaporkan sebuah peristiwa secara langsung ke publik.

Kebanyakan SMS dan telepon datang dari keluarga istri di Bandung. Ya, keluarga Bandung sedang melekan untuk berdoa. Bahkan Mama Cicalengka yang biasanya pukul 20.00 sudah tidur, sampai dini hari pun belum bisa memejamkan mata. Mereka memberi saran praktis, “Kasih teh manis, Brahm, untuk nambah tenaga. Kalau bisa, telur rebus.” Tak lupa bantuan moril yang membuat saya tidak merasa sendiri, “Kalau persalinannya di Bandung, pasti kami temani.”

Sementara keluarga saya di Surabaya? Saya SMS bahwa istri saya sudah bukaan 4 dan masuk ruang persalinan, jawabannya hanya, “Ya, banyak-banyaklah berdoa.” Hahaha….

Memang, antara keluarga Cicalengka dan Surabaya berbeda dalam menunjukkan perhatian. Keluarga Bandung memberi dukungan dengan eksplisit. Sementara keluarga Surabaya mendukung kami secara implisit, seolah-olah mengatakan, “Ayolah, kalian pasti sanggup mengatasinya. Kami siap di belakang kalian jika terjadi apa-apa. Kami juga mendoakan kalian. Tapi, kami percaya kalian punya cara sendiri.”

Oaaahm…. mata saya sudah berat. Tapi anehnya, saya tidak mengantuk sama sekali. Barangkali lantaran takut melewatkan momen penting ini. Saya terus memijat-mijat panggul istri saya sambil menelungkup di samping dipan. Memejamkan mata. Namun bukan untuk tidur. Hanya mengistirahatkan mata yang letih.

Sayup-sayup, saya mendengar suster menasehati istri saya, “Jangan bernapas pendek-pendek waktu kontraksi, Bu. Napas panjang aja, biar rileks. Jangan mengejan juga. Belum waktunya, Bu.” Nasehat itu terus mereka ulang. Termasuk saat istri saya salah mengartikan kontraksi yang dahsyat dengan keinginan untuk berak. “Bukan pup, Bu. Itu hanya kontraksi. Ayo, napas panjang lagiiiii….”

Saya juga agak jengkel. Setiap kali mereka memeriksa bagian bawah istri saya, mereka dengan monoton mengatakan, “Belum, masih belum.” Padahal istri saya sudah menggeliat-menggeliat begitu. Saya juga melihat darah pekat mengalir dari bagian vital istri saya, membasahi sprei dan perlak. Kok masih juga dibilang belum? Cape deeeeh….

Sementara, ini sudah jam 23.30. Diam-diam, saya kan punya keinginan anak ini lahir pada hari Idhul Adha, hari besar kedua umat Islam.

Tapi keinginan tinggal keinginan. Bidan Hastani Fitri, Amd. baru melihat bukaan 5 pada pukul 23.55. Sudahlah, rasanya mustahil persalinan bisa terjadi dalam tempo kurang dari lima menit. Pikiran saya tidak lagi berfokus pada kelahiran di hari besar. Saya hanya berdzikir, mengharap kemudahan dan keberhasilan proses persalinan.

Bidan meminta posisi istri saya berubah. Paha dibuka lebar. Lutut ditekuk sampai menyentuh dada. Tangan menggenggam di bawah masing-masing hamstring. Bidan pun meminta saya mengangkat tengkuknya, supaya dia bisa melihat si jabang bayi keluar. Idenya sederhana, saat seorang ibu hamil melihat bayinya keluar sedikit demi sedikit dari lubang kemaluannya, semangat juangnya akan menjadi berlipat-lipat.

Namun, apakah istri saya juga seperti itu? Jawabannya di sini. [photos by Brahm]

9 thoughts on “Kiara 1: Ketuban Pecah Sebelum Waktunya

  1. Pingback: Kiara 3: Kenapa Namanya Kiara Hanifa Anindya? | Brahmanto Anindito's Blog

  2. Rie Yanti

    Waktu masuk RS, aku merasa jagoan. Ketuban pecah tp masih bisa jalan sendiri. Ditambah sama sekali nggak ada kontraksi. Padahal seharusnya, kalo merasa yg keluar itu ketuban, aku ke ruang bersalin pakai kursi roda. Bukan apa-apa, ini mencegah ketuban ngocor lebih banyak lagi. Setelah didiagnosa ketuban pecah pun suster menyarankan kalo kasus kayak gini ibu hamil harus bedrest. Nggak boleh banyak gerak.

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Ternyata, ketuban pecah tanpa kontraksi itu lbh bahaya dari dugaan kita. Ketuban itu vital. Untung, nggak sempat terjadi apa2 waktu itu. Fiuuh….

      Reply
  3. Mochamad Yusuf

    Selamat, Brahm.
    Hahaha, jangan khawatir kalau melahirkan merasa sendiri. Saya mengalami semua pada anak saya.

    Anak pertama, istri lahir tanpa saya ditemi. Saya ke jakarta, ada proyek Markplus. Ada seminar dan pembukaan, dan yang tahu proyek itu ya saya sendiri. Maka saya harus ke sana.

    Anak kedua, malah lebih meprihatinkan. Berangkat malam saat takbiran Idul Fitri. Lahir saat Idul Fitri. Hanya berdua. Setelah lahir sampai berhari2, juga berdua di RS. Hehehe. Lha, semua pada sibuk mudik dan hari raya…

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Nah, itu namanya romantis! Orang2 pada mudik, ini malah bulan madu di RS, hehehe….

      Reply
      1. Mochamad Yusuf

        @Brahm
        Romantis plus nelongso. Lha benar-benar sendirian. Di kamar. di rumah sakit. Lha doker dan perawatnya juga pada mudik.
        Btw, ini blog tidak ada notifikasi kalau komentarnya dibalas ya? Saya cari2 nggak nemu. Malas kalau ngecek terus… Hehehe.

        Reply
        1. Brahmanto Anindito Post author

          Hahaha, maklum, blog baru. Sebenarnya under construction. Tp diluncurkan aja krn ada berita kejar tayang 😀

          Reply
  4. Pingback: Melahirkan Kiara | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge