Vila yang Memerangkap

  • Seri Takut: Kamera Pengisap JiwaJudul: Kamera Pengisap Jiwa
  • Genre: Novel horor remaja
  • Penulis: Ruwi Meita
  • Penerbit: Bukuné
  • Tebal: 132 halaman
  • Cetakan I: 2014

Anabel adalah gadis seperti remaja umumnya. Memiliki hobi, dalam hal ini fotografi. Mempunyai adik yang sekaligus partner berantem, Sigi. Ayahnya pekerja kantoran. Ibunya seorang full time mom. Tidak ada yang istimewa dari keluarga Anabel, sebenarnya. Tapi, hari itu terasa istimewa. Sebab, sang Ayah terpilih sebagai Karyawan Tahun Ini di supermarket tempatnya bekerja. Sebagai hadiah, keluarganya berhak berlibur di vila milik sang Bos, Harta Wijaya.

Berangkatlah mereka menuju Plateau Dieng, lokasi vila itu.

Namun sejak hari pertama di sana, ternyata Anabel sudah tidak nyaman. Ruangan-ruangan yang sangat luas itu seolah menerornya. Belum lagi, ada sesosok bayangan gadis seusianya (Arumi Sheena). Padahal kata Simhar, si penjaga vila, hanya keluarga Anabel yang menginap di sana.

Simhar sendiri seperti menyembunyikan ribuan rahasia di balik mata belingnya. Salah satunya adalah Commodore, kamera kuno yang digunakannya untuk memfoto tamu-tamu kehormatan di vila itu. Belakangan, Anabel tahu, begitu kamera itu memfoto seseorang, maka selesailah sudah. Orang itu dipastikan sudah terperangkap!

Saya jadi teringat film Spirited Away yang tokoh utamanya juga terjebak di dimensi lain. Saya pun merasakan keasyikan dan “petualangan” yang nyaris sama di cerita Kamera Pengisap Jiwa. Tidak membuat saya ketakutan. Hanya, larut di dalam situasinya.

Sayang, novel ini menggunakan racikan umum film-film horor remaja yang jamak kita tonton: renyah, ringan, dan sekelebat. Mungkin sejak awal, penulis dan penerbit sengaja membuatnya begitu, supaya mudah menarik produser film untuk mengekranisasinya.

Sekadar catatan, Kamera Pengisap Jiwa adalah satu dari empat seri novel Takut yang diluncurkan Penerbit Bukune pada pertengahan 2014. Salah satu novel yang lain telah berhasil dilayarlebarkan, yaitu Tujuh Hari di Vila Mencekam karya Cerberus Plouton (a.k.a. Yoana Dianika).

Di Kamera Pengisap Jiwa, Ruwi Meita menulis bab demi babnya dengan pendek. Jebakan cliff hanger-nya sukses membuat saya terus membalik lembar-lembarnya dengan rasa penasaran. Nonstop!

Yang membuat saya berhenti paling dialog-dialognya yang terasa Inggris. Sekadar menyebut contoh, lihat halaman 80, “Mama! Kumohon…” (Ini kan sama dengan Mama, I beg you atau Mama, please yang sebenarnya tidak lazim diucapkan orang Indonesia). Halaman 90, “Kupikir…” (I thought). Halaman 93, “Apa semua baik-baik saja?” (Is everything OK?)

Seperti juga di halaman 114, “Si brengsek Arumi membuatku tertahan. Hampir saja aku kehilangan kalian. Tapi ingatlah, sekali masuk ke dalam Vila Bintang Fajar ini, kalian tidak akan bisa keluar. Dan kamu, Anabel, singkirkan tangan kotormu dari Commodore.” Entahlah, saya merasa janggal saja mendengarnya dalam konteks tokoh dan latar Indonesia.

Di luar itu, cerita Kamera Pengisap Jiwa berhasil membuat saya berpikir. Jangan-jangan, ketika saya terlalu asyik dengan sesuatu, sebenarnya ada tali tak kasat mata yang melingkar di leher saya. Memancang saya di sana dengan sesuatu kesukaan saya itu, bagaikan seorang budak belian. Lalu ada sosok bertanduk yang memegang ujung tali itu, mengawasi, dan mengendalikan.

One thought on “Vila yang Memerangkap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge