Kiara 6: Menonton Moana di Bioskop

Moana: The Ocean is Calling

  • Judul Film Animasi: Moana: The Ocean is Calling
  • Genre: Petualangan, fantasi, musikal, komedi
  • Penulis: Jared Bush, Ron Clements, John Musker, Chris Williams, Don Hall, Pamela Ribon, Aaron Kandell, Jordan Kandell
  • Sutradara: Ron Clements, Don Hall, Chris Williams
  • Pengisi Suara: Auli’i Cravalho (Moana), Dwayne “The Rock” Johnson (Maui), Rachel House (Gramma Tala), Temuera Morrison (Kepala Suku Tui), Jemaine Clement (Tamatoa)
  • Durasi: 103 menit
  • Rilis: November 2016
  • Produksi: Walt Disney Pictures & Walt Disney Animation Studio (Amerika Serikat)

Kemarin siang, saya mengajak Kiara menonton film animasi ini di bioskop mal City of Tomorrow, Cito 21. Menurut pakar parenting, usia aman anak untuk menonton layar lebar kan memang empat tahun ke atas.

Kiara sudah empat tahun lebih dua bulan dan saya melihat dia memiliki passion terhadap dunia penceritaan. Kiara bisa tenang dan fokus ketika menonton Adit, Sopo & Jarwo, Upin Ipin, Masha and The Bear, Pororo, Cloud Bread, Chuggington, Robocar Poli, Monk, Kung Food, dsb.

Dia juga terkadang mengarang cerita. Menggunakan boneka-bonekanya, Kiara suka mendalang sendiri. Meskipun, karangannya tidak membentuk alur yang runut dan tokoh yang konsisten. Asal berdialog saja dengan suara tokoh yang dibuat berbeda-beda.

Nah, saya ingin membuktikan passion anak sulung saya itu. Salah satunya dengan mengajaknya menonton film yang panjang: Moana.

Kiara di Cineplex 21 City of Tomorrow

Film ini berlabel SU alias untuk semua umur. Walau ceritanya tentu masih terlalu kompleks untuk ukuran balita.

Moana bercerita tentang Moana Waialiki, putri kepala suku di sebuah pulau Oceania, Pasifik Selatan. Suku ini dulunya adalah masyarakat pelaut. Namun peristiwa traumatik menyebabkan kepala sukunya melarang semua orang berlayar ke lepas pantai. Moana, anak satu-satunya, tak terkecuali. Dia tidak boleh melaut!

Padahal nenek Moana, Tala, sering mendongengkan kisah apik tentang kepahlawanan Maui, manusia setengah dewa yang bisa berubah-ubah wujud dengan pedang berbentuk kailnya.

Maui adalah seorang pahlawan. Harusnya! Tapi karier kepahlawanan itu menjadi antiklimaks setelah dia mencuri giok hijau yang menyimbolkan jantung Te Fiti, Dewi Pulau. Maui menggunakannya untuk menghadapi monster lahar, Te Ka. Sayang, Maui kalah. Kail Maui dan Jantung Te Fiti pun jatuh ke samudera luas. Tak ada yang menemukannya hingga ribuan tahun.

Permasalahan menyeruak ketika legenda itu mulai terasa kebenarannya. Pulau tempat tinggal Moana terkena kutukan akibat pencurian Jantung Te Fiti. Pohon-pohon menjadi arang, tumbuhan-tumbuhan layu, dan ikan-ikan pergi.

Usul untuk mencari ikan lebih jauh pun ditolak mentah-mentah oleh sang kepala suku. Praktis, pulau surga itu terancam kekurangan pangan dan pelan-pelan binasa.

Nenek Tala kembali memprovokasi Moana untuk menolong sukunya. Dia mengingatkan peristiwa di masa kecil Moana, bahwa samudera pernah memberinya kado sepesial, yaitu giok Jantung Te Fiti. Dengan pemberian itu, si nenek yakin, laut telah memilih Moana untuk mengembalikan giok itu.

Saat sakit keras, Nenek Tala sempat berbisik ke Moana, “Temui Maui. Paksa dia untuk mengembalikan Jantung Te Fiti ini ke tempatnya. Dengan begitu, kutukan pulau akan sirna.”

Darah petualang dan kepahlawanan menggedor-gedor kesadaran Moana. Maka tanpa sepengetahuan ayahnya, berlayarlah Moana mencari Maui, si setengah dewa yang ternyata juga setengah sinting itu.

Berikutnya, petualangan mengarungi samudera yang seru sekaligus kocak.

Baguskah film ini?

Tonton trailernya, Anda pasti setuju kalau saya katakan Moana adalah surga visual. Apalagi latar kisahnya adalah komunitas suku pelaut di wilayah pasifik yang jarang kita lihat. Tapi soal cerita, saya kira biasa-biasa saja. Tidak ada kejutan, semua berjalan dengan mudah dan sesuai prediksi.

Namun, coba ulangi pertanyaan itu kepada anak saya. Baguskah film ini, Kiara?

“Baguslah!” jawabnya lugas. “Besok kita nonton Moana lagi, ya!”

Hahaha, nonton bioskop dikira gratisan, apa?! -_-

Tapi benar! Kiara benar-benar terpana. Sepanjang film, saya perhatikan, dia duduk mematung. Posisi lututnya tidak berubah selama berpuluh-puluh menit. Bahkan setahu saya, garuk-garuk saja tidak pernah.

Mungkin Kiara begitu terpukau oleh lebarnya layar dan sound system yang menggelegar. Tapi, rasanya tidak juga. Pengalaman pertamanya menonton bioskop justru lebih dahsyat dari ini: film 4D di Suroboyo Carnival Park. Meskipun durasinya cuma 10 menitan.

Kelihatannya, Kiara lebih terpesona dengan visual animasi Moana serta dramanya. Di tengah-tengah gemuruh sounds film, saya mendengar dia terisak pada adegan yang memang agak mengharukan.

Puncaknya adalah ketika film berakhir. Kiara sesenggukan dan tak mau beranjak dari kursi. Saat saya ajak pulang, dia malah memeluk saya erat. Lalu meledaklah tangisnya.

Kiara di dalam sinepleks

“Lho, kenapa nangis?” tanya saya.

“Aku nonton Masha aja,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Aku nggak suka.”

“Nggak suka apanya?”

“Nggak suka sama monster api.” Maksudnya tokoh Te Ka, monster lahar yang mempersulit misi Moana dan Maui. “Sama kepitingnya juga. Nggak suka. Jahat!”

“Ya nggak pa-pa, kan itu cuma film. Bukan sungguhan.”

Perlahan-lahan, tangis Kiara mereda dan dia mau saya ajak menuruni tangga sinepleks.

Namun aneh juga, kenapa Kiara sempat takut dengan si monster api? Hampir setiap hari, kalau menemukan gambar monster yang mengerikan di gim atau internet, saya tunjukkan ke dia. Kiara memang ketakutan, tapi cuma akting, buat lucu-lucuan. Bukan ketakutan yang sampai gemetar, histeris, atau berujung trauma.

Saya menduga, Kiara takut karena adegan kekerasannya. Saya mencatat, ada setidaknya tiga adegan pertempuran keras (untuk ukuran balita) di sana, salah satunya Maui versus Tamatoa, kepiting raksasa yang mencuri senjata andalan Maui selama ribuan tahun.

Kiara tidak suka melihat orang berkelahi. Sebagai ilustrasi, dia tidak pernah mau menonton tinju di televisi. Kalau sepakbola atau basket, dia masih mau, meskipun juga olahraga keras.

Pertarungan di film Moana memang gebak-gebuk khas film aksi, meski dibumbui dialog-dialog jenaka dan adegan si tokoh tiba-tiba bernyanyi ala film Bollywo… eh, Disney.

Ya, pasti karena adegan-adegan pertarungan itu! Apalagi ada adegan Moana hendak dimakan oleh kepiting nyentrik itu.

Yang jelas, saya bersyukur. Kekhawatiran bahwa Kiara akan sering mengajak keluar sinepleks, entah karena dinginnya AC, kebelet pipis, atau matanya lelah menonton, tidak terjadi. Padahal saya sudah bilang ke istri, “Siap-siap deh kehilangan dua tiket, kalau Kiara berulah di tengah film dan merengek minta pulang.”

Kami memang akhirnya pulang, tapi setelah filmnya usai 🙂

Nah, di rumah, Kiara baru membuat pengakuan. Ternyata, dia menangis setelah filmnya bubar itu karena tidak mau berpisah dengan Moana. Dia tidak terima kalau filmnya sudah selesai. Ya salam….

Betapa hebatnya storytelling itu, ya. Kiara pernah gondok tidak mau pulang ketika di Suroboyo Carnival. Namun tidak sampai menangis begini. Padahal saat itu usianya lebih muda, tiga tahun saja belum genap.

Saya kira, itu karena di sana hanya ada wahana-wahana menarik, tapi tidak ada story-nya. Sedangkan di bioskop 21, tidak ada wahana-wahana. Kursinya tidak bergoyang-goyang canggih seperti di bioskop 4D. Animasinya pun tidak muncul menusuk-nusuk mata seperti di bioskop 3D.

Hanya ada cerita. Namun, justru itulah yang berhasil membuat Kiara mewek.

Ya sudahlah. Ingat-ingat saja, ya, Nak. Hari ini, kamu dibuat menangis oleh penulis-penulis itu. Kelak, kamulah yang akan membuat orang lain menangis. Tentu saja melalui karya yang menarik, dalam konteks dunia hiburan. Ya, seperti film Moana ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge