Categories
kesehatan

5 Tips Menjaga Kesehatan Mata di Zaman Layar

Menjaga kesehatan mata di era digital jauh lebih sulit dibanding 10-20 tahun silam. Sejak laptop dan smartphone menjamur, aturannya tambah banyak.

5 Tips Menjaga Kesehatan Mata di Zaman Layar

Saya menulis dan mengedit video di depan layar laptop. Membaca koran, majalah, dan buku melalui layar tablet. Menonton film, main gim, bahkan tilawah lewat layar ponsel. Sungguh, di zaman layar ini, mata kita sedang dipertaruhkan.

Sebagaimana penulis lainnya, saya akrab sekali dengan layar. Baik layar komputer, smartphone, tablet, dan juga (dulu) televisi. Baik untuk pekerjaan, pengetahuan, maupun hiburan. Lebih murah dan praktis!

Kabar buruknya, semua layar elektronik itu mengeluarkan radiasi yang buruk untuk mata. Kita tidak bisa menghindari itu. Tidak mungkin kita kembali ke zaman mesin tik, tidak bermain media sosial, tidak menonton Netflix, Disney, atau minimal YouTube, bukan?

Namun berita baiknya, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari paparan layar elektronik tersebut bagi mata kita. Apa saja?

(1) Biasakan Menggunakan Mode Gelap

Saat ini, sudah banyak situs web dan aplikasi yang memiliki opsi dark mode atau mode gelap. Atau bahkan sejak awal, web dan aplikasi itu desainnya sudah gelap seperti Warung Fiksi. Di Operating System (OS) Windows dan Linux terbaru pun sudah ada opsi dark mode.

Maka biasakan untuk mengaktifkannya. Sehingga, desain yang tampak di layar secara keseluruhan akan gelap, tetapi tulisan-tulisannya tetap jelas dan enak dibaca. Dengan mode gelap, cahaya layar jadi terasa lebih lembut dan adem bagi mata.

(2) Kenakan Kacamata Antiradiasi

Laptop, ponsel, dan televisi yang aktif memancarkan sinar biru (blue light). Bahkan, matahari dan lampu juga. Panjang gelombang cahaya biru adalah 380-500 nanometer. Pendek sekali, jadi energinya tinggi sekali. Cahaya ini, terutama blue light yang memancar dari layar-layar elektronik, kurang baik bagi kesehatan mata.

Antara lain dapat menganggu siklus tidur, merusak retina mata, meningkatkan risiko katarak, minimal membuat mata gampang lelah (digital eye strain). Ciri-ciri sindrom digital eye strain, pandangan mata kabur, mata kering, sakit kepala, sakit leher, sakit punggung, dan lain-lain. Ya, meskipun sepintas tidak berhubungan, semua sakit itu bisa jadi bersumber dari mata.

Kacamata antiradiasi memfilter sinar biru, sehingga meminimalkan efek sampingnya secara efektif. Jangan khawatir, kacamata blue care alias anti blue light sudah banyak dijual di mana-mana.

Namun, sebaiknya membelinya langsung di optik, bukan secara daring. Ini supaya kita bisa meminta stafnya untuk membuktikan langsung di depan kita bahwa kacamata itu benar-benar anti sinar biru. Lapak kacamata online tentu tidak mau repot-repot melakukan itu, selain memang tidak memungkinkan juga.

Cara menguji keaslian kacamata antiradiasi biasanya dengan laser biru yang ditembakkan ke lensa. Jika lensa tersebut memang anti blue light, sinar birunya akan teredam signifikan setelah melewati lensa. Lebih jelasnya, silakan tonton video saya di bagian bawah artikel ini, ya….

(3) Patuhi Aturan 20-20

Kacamata blue care memang efektif untuk melindungi mata dari efek samping cahaya biru. Namun, sebaiknya jangan terlalu mengandalkannya. Sebab, itu justru akan membuat kita sembrono. Mentang-mentang mata sudah terlindungi, akhirnya kita ugal-ugalan dalam memelototi layar.

Pernah dengar Aturan 20-20? Begini aturannya. Setiap 20 menit kita menatap layar, kita harus mengistirahatkan mata selama 20 detik. Mengistirahatkannya dengan cara melihat pemandangan di kejauhan yang hijau-hijau, seperti daun-daun di taman, kebun, persawahan, hutan, atau lainnya..

Kalau tidak memungkinkan, misalnya karena ruang kerjanya tidak punya jendela, atau rumahnya tidak memiliki halaman, cukup menatap objek yang jauh, minimal tiga meter dari mata kita. Dengan begitu, otot mata akan tetap elastis dan rileks.

Kalau perlu, saat di depan layar, setel alarm yang berbunyi setiap 2 menit 20 detik. Itu akan membantu kita konsisten menerapkan Aturan 20-20 ini.

(4) Konsumsi Nutrisi untuk Mata secara Rutin

Selain vitamin A di wortel yang pastinya sudah kita tahu sejak kecil, sebenarnya masih banyak jenis makanan yang baik untuk kesehatan mata. Misalnya, telur, ikan, kacang almon atau kenari, susu, buah beri, jeruk, bayam brazil atau sayuran-sayuran hijau lainnya, paprika, labu, ubi, dan tiram.

Makanan-makanan yang mudah kita jumpai itu mengandung vitamin A, C, E, lutein, zeaxanthin, beta karoten, asam lemak omega-3, zinc, kalsium, dan lain-lain. Kabar baiknya, nutrisi-nutrisi tersebut juga ada di suplemen multivitamin yang dijual bebas.

(5) Tidur yang Cukup

Tubuh memiliki alarm sendiri yang akan memberi tahu ketika ada yang salah. Misalnya, mata merah dan sakit punggung. Itu tandanya kita kebanyakan melek, kelamaan kerja, atau bahasa sederhananya memforsir tubuh. Jika benar begitu, apa solusinya? Istirahat! Tidur yang cukup.

Bahkan orang-orang sibuk seperti Jeff Bezos (pendiri Amazon), Bill Gates (pendiri Microsoft), atau LeBron James (bintang NBA) memenuhi hak tubuh buat tidur yang cukup, yaitu minimal 7 jam. Menurut penelitian, orang dewasa memang butuh 6-8 jam sehari untuk tidur.

Ini penting sekali. Kurang gizi bisa kita tambal dengan suplemen vitamin. Kalau kurang tidur? Tidak ada gantinya! Bahkan, dampak jangka panjang dari kurang tidur bukan hanya ke mata. Ginjal, jantung, dan hormon-hormon tubuh bisa kacau semua. Belum lagi masalah psikis yang berpotensi timbul, seperti stres dan depresi.

Makanya, jangan merasa “lakik banget” kalau kuat begadang. Jangan bangga menjadi penderita insomnia. Sebab, hati-hati, itu akan merugikan diri sendiri secara jangka panjang.

Kesimpulan Tips Menjaga Kesehatan Mata

Itulah kelima saran saya untuk untuk menjaga kesehatan mata. Selain disarikan dari pengalaman saya sendiri, tips ini juga berdasarkan konsultasi saya dengan dokter spesialis mata. Anda juga sebaiknya rutin memeriksakan mata ke dokter.

Sebab, menjaga kesehatan mata di era digital begini jauh lebih sulit dibanding 10-20 tahun lalu. Kalau dahulu, kita hanya tidak boleh membaca buku terlalu dekat, dalam keadaan remang-remang, atau sambil tidur, sekarang? Larangannya bertambah banyak! Terutama sejak gawai dan laptop makin merakyat.

Mau bagaimana lagi. Menurut saya, hardware paling berharga yang dimiliki seorang penulis seperti saya bukanlah laptop yang canggih atau ponsel yang mahal. Melainkan mata yang sehat.

Menurut penelitian, ketajaman mata manusia mencapai 576 megapiksel. Belum ada produk kamera yang setara dengan itu, saat ini. Jadi, bersyukurlah. Kalau sejak awal kita dikaruniai mata yang berfungsi baik, maka rawatlah. Jaga baik-baik, sebelum terlambat.

Referensi

By Brahmanto Anindito

Penulis multimedia: buku, film, profil perusahaan, gim, podcast, dll. Bloger. Novelis thriller. Pendiri Warung Fiksi. Juga seorang suami dan ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.