Membersihkan Isi Laptop dari Kerak Dosa

Linux Mint 17.2 Rafaela is On!

Linux Mint 17.2 Rafaela is On!

Hahaha, judul yang aneh. Tapi maksud saya sederhana. Ramadhan itu kan bulan suci. Artinya, peluang untuk menyucikan diri melalui gemblengan puasa sekaligus membersihkan harta melalui zakat. Nah, apa salahnya kalau saya juga mencoba membersihkan laptop saya dari unsur-unsur yang tidak halal. Dalam logika saya, kalau mau membersihkan rumah dengan sapu, tentu sapunya harus bersih dulu. Kalau mau rezeki kita halal, alat kerjanya harus halal dulu, dong.

Sudah beberapa minggu ini, saya berusaha membersihkan salah satu laptop saya dari file-file yang tidak bermanfaat, maksiat, dan software-sofware ilegal, termasuk OS alias Operating System bajakan. Yang saya yakini sejak lama, barang bajakan adalah barang curian. Sayangnya, tetap saja saya menggunakan Windows bajakan selama puluhan tahun.

Bill Gates memang sudah kaya raya. Tapi bukan berarti kita boleh mencuri dari dia, bukan? Insyaf saya ini didasari tiga pertanyaan dasar yang berkecamuk di benak.

(1) Banyak game keren yang gratisan, kok masih kecanduan yang ilegal?

Saya tidak mengatakan laptop saya sekarang adalah laptop syariah yang suci. Lagipula, istilah apa pula “laptop syariah” ini!? Hehehe….

Namun setidaknya, per Ramadhan ini, saya sudah mulai serius bersih-bersih. Program-program bajakan seperti Microsoft Word, PowerPoint, Adobe Photoshop, Premier, Dreamweaver, dan semacamnya, satu per satu saya uninstall. Begitu juga Delta Force, Age of Empire, dan game-game crack-crack-an lainnya.

Sekarang saya sedang keranjingan main game Android: Mortal Kombat X, King of Fighters 2012, Temple Run 2, dan beberapa lainnya. Semuanya legal, halal, dan cuma-cuma.

Kalau nanti bosan, tinggal ganti game gratisan lainnya. Tidak usah beli, kalau memang lagi bokek atau pelit. Tapi juga tidak perlu membajak. Di Google Play Store, banyak game keren yang siap unduh. Walaupun gratis, tidak semuanya bertaburkan iklan, kok. Mortal Kombat X, contohnya. Sampai detik ini, saya belum pernah melihat iklan sewaktu memainkannya, baik dalam keadaan terkonek internet maupun offline. Asyik, bukan?

(2) Ada OS mewah yang gratisan, kok masih hobi nyolong?

Keputusan saya bulan ini yang paling radikal adalah mengganti OS Windows 8.1 (bajakan) dengan Linux Mint 17.2 Rafaela. Memang penampilan laptop jadi agak terasa aneh, awalnya. Istilah-istilahnya pun agak membingungkan. “Drive C”, umpamanya, di Linux disebut “SDA1”. “Eject”, di Linux disebut “unmount”. Namun, ini sama dengan pengistilahan di gadget Android, jadi sebenarnya tidak asing-asing amat.

Di lain sisi, saya justru menangkap kesan mewah dari OS ini begitu tahu file .doc (termasuk .docx dan .rtf), .ppt (termasuk .pptx), berbagai ekstensi video, audio, dan gambar, semuanya bisa langsung terbaca. Lalu saya tes, apakah file yang saya buat dari LibreOffice (salah satu program Office yang absolutely free) bisa terbaca dengan baik di Microsoft Office saya di laptop satunya?

Hasilnya, bukan hanya terbaca, melainkan tata letaknya juga tidak berubah! Hanya, sistem navigasi heading yang hilang. Tapi, barangkali itu karena saya belum sempat mengutak-atiknya saja.

“Ah, begitu saja kok dibilang mewah,” mungkin begitu komentar Anda.

Jangan salah, semua program itu saya peroleh langsung hanya dengan menginstal OS Linux Mint. Kalau menginstal Windows, pasti Anda masih perlu menginstal program-program lagi satu per satu, bukan? Saya dulu punya ritual instal antivirus setelah menginstal OS Windows. Nah, di Linux, ritual ini jadi tidak relevan. Karena tidak ada virus di OS Linux. Apa ini bukan kemewahan?

Lalu, di Windows, saya masih harus menginstal program-program seperti Microsoft Office, Adobe Photoshop, dll. Tidak praktis! Tidak mewah!

Di Linux Mint Rafaela, begitu proses instalasi OS rampung, saat itu juga terinstal program-program dasar di atas (tentu saja versi free-nya), termasuk browser Mozilla Firefox. Coba kalau kita harus membayar untuk semua program itu, bisa habis berpuluh-puluh juta! Kecuali kalau pola pikirnya bajakan terus, jelas saja bisa gratis terus. Tapi, gratis karena nyolong.

“Halaaah, sampai kapan sih bisa tahan pakai Linux?” mungkin begitu pertanyaan Anda.

Insya Allah konsisten!

Dulu, saya pernah memakai Linux di kantor saya sebelumnya. Kalau tak salah ingat, distronya Kubuntu. Meskipun di kantor berikutnya, balik lagi ke Windows, karena Linux bikin stres. Salah satu kasusnya, enak-enak menulis dokumen di OpenOffice, eh, begitu dibuka di Microsoft Office, font-nya jadi kapital semua seolah-olah capslock saya rusak.

Tapi, itu kan dulu, sekitar tahun 2008. Sekarang, Linux sudah jauh lebih user-friendly dan kompatibilitasnya tinggi. Masalah ini-itu pasti masih ada. Misalnya, modem Prolink saya jadi tidak berfungsi. Saya sampai harus mengakali problem internet ini dengan tethering via ponsel saya yang menganggur.

Sejauh ini, semua permasalahan-permasalahan adaptasi Linux dapat diatasi. Kalaupun tidak bisa diatasi, sekadar mengingatkan, ada forum online untuk masing-masing distro Linux. Baca-baca atau tanya-tanya saja di sana.

Itulah kenapa saya pilih Linux Mint. Selain kata orang, paling mudah digunakan atau paling mirip dengan Windows, Linux Mint juga memiliki komunitas yang termasuk paling besar dan paling aktif, karena penggunanya juga banyak sekali di seluruh dunia.

(3) Banyak software gratis yang enak, kok masih mengonsumsi yang tak halal?

Sebagai pemanasan sebelum bermigrasi ke OS Linux, saya sudah mencoba-coba program Gimp 2.8 untuk editing gambar. Terus terang, itu karena Photoshop bajakan saya bermasalah. Entah kepencet “update”, entah salah satu file pentingnya dilibas oleh antivirus saya (karena dianggap malware), entah masalah kode aktivasi, entah. Yang jelas, tools dalam Adobe Photoshop saya sekarang tidak bisa dipakai lagi.

Ada kendala menggunakan Gimp? Biasa sajalah. Kendala orang yang kurang berbakat desain. Bukan kendala pemakaian. Saya ini kan hanya penulis. Bukan pengguna Photoshop yang jago. Kadang masih bingung apa fungsi tool ini, tool itu, bagaimana cara menciptakan efek ini, efek itu. Saya harus belajar lagi setiap kali ada kebutuhan merekayasa gambar yang spesifik. Lalu tercetus ide, toh sama-sama belajar, kenapa tidak sekalian belajar Gimp?

Oh ya, saya juga menggunakan Bluefish Editor, alih-alih Adobe Dreamweaver, saat mengutak-atik microsite Tiga Sandera Terakhir. Tidak ada masalah berarti. Secara desain dan fungsi, program-program gratisan itu tidak jauh berbeda dibandingkan software-software umum yang harga aslinya selangit itu.

Harapan saya, semoga ke depannya, tidak ada file yang amburadul atau tereduksi ketika dibuka di komputer klien. Sehingga, saya semakin mantap berada di jalur yang halal dan legal ini. Lalu, saya bisa segera melakukan bersih-bersih jilid kedua untuk laptop saya satunya.

Saya kenal beberapa pemilik bisnis yang sudah bertahun-tahun menggunakan OS dan program-program gratisan. Mereka malah ada yang bergerak di industri animasi, yang mana program-programnya lebih kompleks dibanding sekadar kebutuhan menulis seperti saya. Nyatanya, mereka survive, bahkan prestasinya mentereng!

Ini bukti, tidak selamanya yang gratisan itu memble. Google, WordPress, Linux dan lain-lain telah meruntuhkan adagium Jawa yang konvensional: ono rego ono rupo (ada harga ada penampilan). Sekarang murah, bahkan gratis, pun bisa bermutu premium! Bahkan lebih berkah kalau memang pemiliknya ikhlas menggratiskan, tak peduli apapun strategi bisnisnya.

Begitulah. Bersih-bersih isi laptop adalah hal penting yang saya lakukan di Ramadhan tahun ini. Mungkin terkesan remeh. Tapi begitu membanggakan bagi saya. Kalau tidak bangga, takkan saya tulis di sini, hehehe….

6 thoughts on “Membersihkan Isi Laptop dari Kerak Dosa

    1. Brahm

      Ayolah, Pak. Sampai kapan sih Windows 10 itu free? Sekalian Linux aja. Biar sampeyan jadi panutan dan rujukanku kalau Linux-ku ada problem, hihihi….

      Reply
  1. bagas

    Linux Mint memang friendly. tampilannya pun warna kalem, tak bosan memandangnya hehehe
    tp sempet bingung juga waktu pertama kali pakai Linux 😀

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Iya, masih nyubi nih. Yang user-friendly kayak Mint aja masih suka bikin bingung. Yang penting kan niatnya: mengonsumsi barang legal dan halal, hehehe…

      Reply
  2. ihsan

    Wah, jarang2 pengguna berat windows rela beralih 100% 😀

    Saya 8 taun pake linux tapi kadang masih nginstal windows xp bajakan di virtualbox + office lawas 2007 sekedar buat baca file dari temen. Kadang kalau ngetiknya gak tertib heading dll suka berantakan di LibreOffice sih.

    Kendala paling susah sebenarnya bukan saat pemakaian pribadi, tapi pas harus dapat file dari teman yang hanya bisa dibuka pakai windows (misal file corel draw).
    ihsan recently posted..MR. ROBOT: Revolusi Sebatas TiviMy Profile

    Reply
    1. Brahmanto Anindito Post author

      Kalau kacau, biasanya aku buka dulu di Google Doc, Mas. Terus copas dari situ ke Libre.

      File Corel bisa kok dibuka di LibreOffice Draw (bawaan Mint juga), tapi entah bagaimana kenyamanannya. Untungnya, kerjaanku nggak berurusan dengan file-file .CDR, hehehe. Paling-paling .EPS atau .PSD, yang mana itu semua kebaca dengan nyaman via Gimp 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge